bab. 4 baumu?

1106 Kata
Kuhitung lembaran uang ratusan itu, tepatnya ada 15 lembar, sangat lebih dari cukup jika aku gunakan membeli sepatu. Bergegas kuisi perut terlebih dulu, aku tak ingin sakit hanya karena telat makan, bagaimana nasib ibu dan Alisa? ** “Kak, larut sekali pulangnya?” Alisa yang tengah duduk di kursi tamu itu bergegas bangkit setelah melihatku datang. Diterimanya martabak telur dan roti bakar yang sengaja kubelikan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak jajan untuk mereka. “Ibu mana?” “Sudah tidur, Kak.” “Itu makan dulu, mumpung masih anget.” Aku duduk di kursi sambil meletakkan tas dan kantong kresek yang berisi sepatu baru, menyelonjorkan kaki dan memijitnya perlahan. “Mbak Vi capek?” Alisa memasukkan potongan martabak itu ke mulutnya, hingga terlihat pipinya membulat, lalu menghampiriku. Ia duduk dibawah dan memegang kakiku, dipijitnya kaki itu dengan senyum yang mengembang. “Gak usah, Sa. Kamu juga pasti capek ngurus ibu dan rumah. Kamu habisin aja dulu jajannya.” Aku akui Alisa juga tak kalah capek dari aku. Biaya sekolahnya dibiayai karena prestasi, hingga dia wajib mempertahankan nilainya, hidupnya hanya dihabiskan untuk belajar dan mengurus ibu, tidak lupa urusan rumah dia yang memegang semua, karena aku lebih bnyak menghabiskan waktu di luaran mencari uang. “Kak Viv, apa sudah gajian? Masa iya kerja baru sehari sudah gajian?” Aku tersenyum mendapati adikku yang kritis itu. “Bukannya bos kakak juga arogan dan galak, gak mungkin juga kan dia seroyal ini? Atau jangan-jangan?” Gadis kecil itu menutup mulutnya, yang justru membuatku tertawa. “Jangan pikiran enggak-enggak. Semiskin apapun kita, kakak gak mungkin jual diri.” Gadis itu tersenyum. ** [ Viv, maaf hari ini kita gak bisa berangkat bareng. Pak De pindah ke kantor cabang. ] Mataku membulat sempurna ketika membaca pesan dari Pak De ku. Baru saja kemarin aku berpikir bisa mengirit transport, saat ini harus menambah anggaran bulanan. Kulihat jam di sudut ponselku, waktu sudah pukul 6 pagi. Bergegas kupercepat dandanku, tak banyak yang kupakai memang, hanya bedak dan lipstik, tanpa foundation, maskara, dan alat perang lainnya. “Kak, sudah mau berangkat? Pak De kan belum datang?” Alisa yang sedang menyiapkan makan untuk ibu menatapku heran. “Pak de pindah ke cabang, jadi Kakak harus berangkat awal dan nunggu angkutan.” Bergegas kuraih tangan ibu yang sedang duduk dan menunggu makanan yang disiapkan Alisa, kukecup punggung tangan yang mulai mengerut itu, dan banyak doa keluar dari wanita yang telah melahirkanku. “Kak Viv, Alisa sudah siapkan bekal untuk kakak.” Gadis kecil itu memberikan kotak makan kepadaku, lalu kubalas dengan senyuman. Diraihnya punggung tanganku dan diciumnya dengan khidmat. “Terima kasih.” Kuusap lembut rambutnya lalu sedikit berlari menuju tepi jalan raya. Rumah yang berada di tengah kampung, membuatku harus berjalan sekitar 100m an untuk menjumpai jalan raya, disana lah aku baru menunggu kendaraan yang lewat. Dengan nafas yang terengah, aku menjulurkan tangan ketika sebuah angkutan datang. Menaiki kendaraan beroda empat itu, bersamaan para pengguna jasa angkutan yang lainnya. Betok, betok, betok Suara ayam betina itu saling bersaut, menambah sesak di dalamnya. Salah satu dari pengguna jasa ini adalah penjual ayam, aku bahkan harus menutup sedikit hidungku agar bau khas binatang tersebut tak masuk indraku. Dari kecil aku memang kurang suka dengan binatang. Ponselku berdering, dan aku bergegas meraih benda tersebut di sakuku. Bos arogan tertulis di layarnya. Kuusap layar tersebut, hingga aku masuk ke dalam panggilanya. “Selamat Pagi, pak.” “Hari ini Santoso kupindah di cabang. Jangan telat, Viv. Ingatkan kalau telat gaji kupotong, ditambah lagi hutang yang baru saja kuberikan kemarin.” Suara arogan dari lelaki itu, beserta tertawa puasnya membuat otakku mendidih. Sepertinya ia memang sengaja meminta Pak De pindah, tidak profesional sekali. “Saya pasti ingat dengan hutang saya, Pak Bos yang terhormat. Saya pasti bayar dan tidak mungkin melalaikannya.” Aku matikan telfon begitu saja, lalu mengatur nafas yang tak karuan. “Pak berhenti.” Roda mobil mulai berhenti perlahan, dan kuberikan ongkos sebelum aku turun. Kulihat jam yang melingkari lenganku, pukul 7 kurang 5 menit. Bergegas aku berlari dan ... Lift itu penuh, hingga akhirnya aku memilih tangg menjadi alternatif. “Lari pagi, Viv?” Lelaki bertubuh kekar dengan jas hitam itu tengah berdiri di depan meja menatapku. “Iya, Pak. Lumayan kan, gak perlu ikut gym.” Lelaki itu tersenyum miring, menatap puas dengan wajah kelelahanku. Aku yakin bedak murahan yang kupakai saat inipun telah luntur bersamaan keringat yang terus mengalir. Aku berjalan menuju mejaku, melewati tubuh Aroganku itu begitu saja. “Viv!” Matanya membulat menatapku “Iya,” jawabku jengah. Lelaki itu menutup hidungnya, sambil mengerutkan dahi. “Viv, baumu!” Aku menciumi diriku, meskipun aku memang tidak memakai parfum semahal dulu, tapi aku yakin bau badanku tidaklah begitu menyengat. Meskipun dalam keadaan berkeringat. Aku mendapati bau yang berbeda, dan itu ada di ... Aku menatap tajam ke sepatu yang ku kenakan, membalikkan sedikit kakiku, agar terlihat alasnya. Kotoran ayam menempel di sana. Apakah tadi aku menginjak kotoran itu saat di mobil angkutan? Aku meringis melihat bos arogan itu, mengembangkan senyum yang kupaksakan. “Viv!” Ia mendelik ke arahku dengan tatapan tak suka. Lalu diambilnya gagang telepon di atas meja kerjaku, tak jauh darinya. Menekan nomor hingga sebuah panggilan tersambung. “Ke ruanganku sekarang, tidak lebih dari 5 menit. Atau kau pecat saat ini juga.” Sikap arogan itu tak pernah jauh dari dirinya. Selalu terlihat semena-mena kepada siapapun. Sedangkan Reynan yang ku kenal dulu amatlah berbeda. Ia orang yang tak tegaan, jangankan memarahi, membentak, ngomong kasar. Bilang “ah” saja rasanya tidak. Dia lelaki yang penurut, dan terbiasa mengalah. Kami masih dalam keadaan berdiri, menatap satu sama lain. Tak ada suara yang menyaut, melainkan sibuk dengn pikiran masing-masing. Hingga sebuah ketukan pintu membuat kami menoleh ke sumber suara. “Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang lelaki bertubuh kurus tengah memegang alat pel dan ember, ia berdiri di ambang pintu, menatap takut kepada lelaki arogan di depanku. “Apa kamu buta, ha? Lihat saja di depanku banyak noda kotoran ayam. Cepat bersihkan!!” “Baik, Pak.” Lelaki itu menunduk dan bergegas mengerjakan pekerjaannya, hendak menghapus bekas tapakan kaki yang berasal dari sepatuku. “Tunggu!” Lelaki bertubuh kurus itu menghadap tuannya dengan wajah heran. “Kamu bersihkan bagian luar sana.” “Tapi, Pak!” “Pergilah! Apa kamu mau aku pecat sekarang juga?” “Ba-baik, Pak!” Lelaki itu mengiyakan sambil menunduk hormat “Alat pel mu tinggal di sini. Kamu bersihkan dengan alat pel yang lain.” Lelaki itu terlihat bingung. Tapi tetap menurut apa yang diperintahkan bosnya, hingga akhirnya ia memilih pergi dengan tanda tanya besar. “Tahu maksudku kan, Viv?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN