Pertanggung jawaban

1056 Kata
Soraya pulang dengan terburu-buru ke rumahnya, karena semalam dia menginap di rumah Anjani. Namun saat dirinya masuk, hanya ada keheningan di sana. Mencari sosok pelayan pun tidak ada hingga Soraya bingung dibuatnya. Melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi, seharusnya di jam ini mereka sibuk membersihkan rumah yang sebesar istana. kemana mereka hingga membuat mood Soraya memburuk? "Oma?!" teriak Soraya tapi tidak ada jawaban satupun. Dan ketika mendengar suara mobil masuk pekarangan, Soraya berlari menghampiri. Ternyata di sana bukan hanya satu mobil, tapi dua sekaligus. Di mana Oma keluar dari sana, bersama dengan para pelayan. "Oma dari mana sih? Kok sama mereka perginya?" "Kemarin Oma mengajak mereka jalan-jalan buat refreshing." "Kok Oma nggak bilang sama Soraya?" "Tadinya mau bilang, tapi lupa. Eh pas mau di kasih kabar, kamu nginep di rumah Anjani. Ya udah nggak usah tahu sekalian." "Berarti Ayah semalam tidur sendirian dong di sini?" "Ada satpam kok. Kenapa? Takut Ayah kamu diculik?" "Berarti tadi nggak sarapan dong? Atau dia sarapan sendiri? kasian banget ih." "Ayah kamu udah tahu, dia aja ngijinin. Berarti dia ambil resiko buat bikin sarapan sendiri." Soraya berdecak kemudian berjalan mengikuti sang Oma, merangkul tangan wanita tua itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. "Oma abis ngajak mereka kemana aja?" "Sauna, sama menginap di hotel. Kasihan kebanyakan dari mereka dari kampung. Kamu kenapa jam segini di sini? Nggak kuliah?" "Nanti sore," jawab Soraya dengan santai. Setelah berbincang dengan sang Oma, dia menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Dan alangkah terkejutnya dia melihat sang ayah keluar dari kamarnya. "Ayah nggak ke kantor?" "Enggak, Ayah nggak enak badan." Membuat Soraya seketika mendekat dan menempelkan tangannya di dahi sang ayah. "Nggak demam. Sakit apa? Udah panggil dokter?" "Cuma capek doang, nggak papa kok. Oma udah pulang?" "Udah lagi di bawah tuh." Tanpa berkata apa-apa lagi, Dharma melangkah melewati Sang Putri setelah mengusap rambutnya. Soraya kembali melanjutkan niatnya untuk memeriksa pekerjaan Amira semalam. Dan dibuat terkejut ketika melihat buku paket miliknya berserakan di koridor kamar. "Amira sialan!" umpatnya dengan kesal. Membuat Soraya marah hingga dia berniat untuk melakukan hal jahat lainnya pada Amira. Namun saat dia berangkat ke kampus, Amira tidak masuk. Begitu pula dengan hari-hari selanjutnya, hampir 2 minggu Amira tidak masuk ke kampus. "Si Amira akhir-akhir ini gak masuk kampus ya? Atau dia udah dikeluarin?" tanya Anjani penasaran. "Kayaknya enggak deh, temen gue kemarin lihat dia kesini buat setor tugas doang." Niken menjelaskan. "Tapi gak tau tuh, lagi sakit kali." "Cewek macam dia bisa sakit?" Soraya tertawa. "Gak sabar gue pengen ketemu sama dia, tugas gue seenaknya dia banting, mana robek-robek lagi." "Ngehindar kali, takut sama lu. Iya enggak, Ken? Soraya kan suka macam-macam kau lagi marah." "Gue marah sama orang yang sok polos doang kaya si Amira." *** Namun pada kenyataannya, Soraya tidak menemukan Amira lebih dari satu bulan. Dia mulai bertanya-tanya ke mana perempuan itu. Ada sedikit rasa simpati ketika sebelumnya Soraya menemui dosen dan bertanya tentang keadaan keluarga Amira yang sebenarnya. Dia tinggal dengan keluarga pamannya yang kurang mampu. Membuat Soraya merasa kasihan. Namun hal itu tidak bertahan lama, ketika dia melihat lagi Amira di kampus, dan sialnya Amira sedang berbicara dengan sosok pujaan hati Soraya. Soraya meremas gaunnya menahan kesal, dia mencoba menetralkan nafasnya kemudian mendekat pada dua orang yang sedang bicara itu. "Kak Indra?! Lagi ngomongin apa nih? Pertukaran mahasiswa ya? Katanya ada nambah kuota lagi? Jadi nanti aku ada temennya dong?" "Masih gosip sih, ini tadi konfirmasi sama dosen. Terus sebagai jaga-jaga, beliau menyuruh aku untuk nyari satu orang lagi. Makanya sekarang lagi ngomong sama Amira," jelas Indra yang mana membuat Soraya menatap tajam pada Amira. "Jadinya gimana? Amira mau?" Soraya merangkul tangan Amira. "Belum dijawab. Kamu bujuk dia ya, Raya. Kakak ada kelas dulu, kalian ditinggal ya. Dan kamu Amira, tolong pikirkan lagi, ini adalah kesempatan emas buat kamu." "Iya Kak," ucap Amira dengan suara yang pelan. Sepeninggalannya Indra, Soraya menarik tangan Amira untuk mencari tempat yang lebih sepi. Seperti gudang belakang. "Tunggu, Soraya. Kita cuma ngomongin tentang pertukaran mahasiswa itu, tentu aku nggak akan ambil. Jadi kamu enggak akan pergi sama aku." "Lu pikir masalah lu sama gue tentang Indra aja? Lu sengaja kan banting buku paket gue sampai sobek? Sampai gue nggak bisa ngumpulin tugas?" BRAK! Soraya mendorong Amira dengan keras ke dalam gudang itu, sebelum menguncinya dari dalam. "Lu sengaja kan?!" "Enggak, itu kecelakaan." "Terus lu juga nggak ambil buku paket yang satunya! Gue jadi nggak dapet nilai anjir!" "Maaf, malam itu aku buru-buru pergi karena ada kerjaan. Tolong maafin aku, aku akan ngerjain tugas yang lainnya." "Gue gak akan percaya lagi sama lu," ucap Soraya kemudian melangkah pergi. "Lu bakal di dalam sini nyampe sore!" Kemudian terdengar pintu dikunci dari luar, disusul dengan teriakan Amira yang minta tolong, dan tentu saja diabaikan. **** Kaki itu melangkah dengan lelah menuju rumah. Ada banyak rasa sakit yang harus ditanggung sendiri, dan lebih terasa ketika apa yang terjadi pada Amira itu harus dirasakan oleh sosok lain yang ada di dalam perutnya. Ketika matahari terbenam, Soraya baru membukakan pintu gudang. Dimana Amira langsung pergi bekerja di sebuah toko aquarium, dan baru bisa pulang ke rumah Jam 9 malam. Entah harus disebut rumah atau bukan, karena Amira tidak pernah merasakannya. 1 bulan yang lalu, dirinya mengalami kejadian yang paling menyakitkan dalam dirinya. Sosok pria yang memperkosanya, memberinya uang begitu saja untuk tutup mulut. Ternyata, ayah dan anak sama saja, selalu merendahkan orang. Masih ingat jelas bagaimana Amira membuka matanya, dan langsung diberikan uang oleh seorang Dharmawngsa Chandrawiguna. "Ini apa?!" teriak sang Paman ketika hamil memasuki rumah. Melemparkan sebuah amplop beserta testpack ke lantai. "Pinter ya kamu, nyari duit jadi lacur di luar sana! Persis kayak ibu kamu! Bikin sial aja!" PLAK! Pipi Amira memanas merasakan tamparan itu. Kemudian diikuti oleh jambakan pada rambutnya. "Siapa orangnya?! Bilang siapa yang hamilin kamu!!? Yang order kamu siapa?!" Karena takut tersakiti, Amira mengatakannya. Dan tanpa basa-basi, sang paman menyeret nya keluar dari rumah dan membawanya menuju tempat seseorang yang sudah dikenal akan kekayaannya itu. Keluar dari taksi, pamannya masih menyeret tangan Amira. Kemudian tanpa tahu malu berteriak-teriak di depan gerbang, sampai akhirnya sang pemilik rumah keluar. "Ada apa ini?" tanya Dharma saat mendengar keributan. BUGH! BUGH! Sang Paman memukul Tuan Dharma seketika, sambil berteriak, "Keponakan saya hamil! Anda harus tanggung jawab dan ganti rugi 100 juta atau saya laporkan ke polisi!" teriaknya dengan lantang hingga membuat kegaduhan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN