SELAMAT MEMBACA *** "Saya terima nikah dan kawinnya, Aruna Putri Septian binti Septian dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Arjuna dalam satu tarikan nafasnya. "Bagaimana para saksi, Sah?" "SAH !!" Ucap tamu undangan dengan kompak. Ucapan syukur sontak saja terdengar. Di iringi dengan hembusan nafas lega dari Arjuna. Arjuna melepaskan tangan Asep dengan sedikit gemetar. Sungguh dia benar-benar gugup. Arjuna langsung menoleh kearah di mana Ayah dan Bundanya duduk. Abi mengacungkan satu jempolnya pada Arjuna. Sedangkan Utari tersenyum. Melihat dua orang tuanya, Arjuna bisa sedikit tenang. Tapi tetap saja gugup yang sejak tadi menyerangnya tidak juga hilang. Arjuna hanya bisa berharap, semoga ayahnya tidak melihat kegugupannya itu atau jika tidak dia akan jadi bulan-bulana

