SELAMAT MEMBACA
***
Armaya tengah membantu bapaknya menyapu halaman saat sebuah mobil memasuki pekarangan.
"Bang Juna kayanya pulang Pak?" ucap Armaya dengan antusiasnya.
Asep langsung menghampiri mobil yang datang itu. Saat pintunya di buka, ternyata benar Arjuna lah yang turun.
"Mas Juna kenapa tidak telpon Paman, kan bisa di jemput di bandara." Ucap Asep pada Arjuna.
"Tidak usah Paman, naik taksi kan bisa." Jawab Arjuna sambil tersenyum, setelah membayar ongkos taksi dan menurunkan barang bawaannya dia mengajak Asep dan Armaya untuk masuk kedalam rumah.
"Bang Juna bawa oleh-oleh tidak?" Tanya Armaya sambil melirik beberapa kantong belanjaan di tangan Arjuna. Tidak ada tas pakaian, hanya ada beberapa kantong belanjaan di tangannya.
"Ada," jawab Arjuna santai.
Armaya tentu saja langsung kegirangan. Tanpa di minta dia langsung mengambil alih kantong belanjaan di tangan Arjuna dan membawanya masuk kedalam rumah. Arjuna dan Asep hanya bisa menggeleng tak habis fikir melihat kelakuan Armaya.
"Tuan dan Nyonya sehat kan Mas di sana?" tanya Asep pada Arjuna.
"Alhamdulillah sehat Paman. Minggu depan mau kesini katanya."
"Ada urusan?" tanya Asep lagi.
"Kan katanya, itu acara 4 bulanannya Jani. Jadi mau kedesa mereka."
"Oaiya, Paman lupa. Sudah empat bulan ya ternyata kandungannya Mbak Jani. Tidak terasa."
"Iya Paman."
***
"Abang Junaaaa..." Aruna langsung berlari menuju Arjuna yang tengah duduk di halaman belakang sambil merawat tanaman hiasnya.
Aruna yang baru bangun tidur melihat Armaya yang datang membawa bungkusan oleh-oleh. Saat di tanya dari siapa, ternyata Arjuna yang membawakannya. Tidak mau ketinggalan, Aruna langsung pergi untuk menemui Arjuna yang ternyata sudah kembali itu.
Aruna mengambil duduk, tepat di sebelah Arjuna. Beberapa kali matanya berkedip, untuk mengamati wajah abangnya itu. Tapi Arjuna memilih fokus pada tanamannya.
"Bang Juna kapan datang?" tanya Aruna dengan basa-basi. Padahal dia tau, jika Arjuna datang tadi.
"Tadi." Jawab Arjuna singkat.
"Kok pulangnya lama? Bunda sama Ayah sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat."
"Bang Juna lama di Jakarta, makin ganteng ya." Puji Aruna sambil tersenyum manis.
Arjuna yang awalnya, mengabaikan Aruna lalu membuang nafasnya dengan malas. Dia meletakkan gunting yang ada di tangannya, keatas meja. Lalu mengalihakan perhatiannya pada Aruna.
"Kantong coklat, di meja di dalam kamar. Sana pergi, jangan ganggu."
Jangan kira Arjuna tidak tau, apa yang di inginkan Aruna. Pasti dia sudah melihat oleh-oleh milik Armaya, makanya langsung datang untuk mengambil bagiannya.
Aruna yang mendengar jawaban Arjuna langsung tersenyum senang. Dia berdiri dari duduknya, lalu ingin pergi mengambil oleh-oleh bagiannya.
"Terimakasih Bang Juna. Bang Juna itu, abangnya Runa yang palinggggg ganteng." Setelah mengatakan itu Aruna benar-benar pergi.
Melihat kepergian Aruna, Arjuna hanya mendengus kesal.
"Siapa juga yang mau jadi abangmu." Guman Arjuna dengan kesal.
***
"Sudah puas liburnya?" Arjuna langsung menoleh saat mendengar seseorang bertanya.
saat di toleh ternyata Marina lah yang bertanya. Arjuna hanya tersenyum sebagai jawaban untuk Marina.
"Aku fikir kamu kembali ke Jakarta, tidak disini lagi. Kok lama perginya," Ucap gadis itu lagi saat di dekat Arjuna.
"Ada urusan kemarin." Hanya itu yang Arjuna katakan.
Dia lalu bersiap-siap untuk memeriksa pasiennya.
"Nanti siang makan siang bareng ya," Ucap Marina lagi.
"Boleh."
Mendengar jawaban Arjuna, Marina langsung tersenyum senang.
"Duluan ya." Ucap Arjuna pada Marina. Gadis itu hanya tersenyum, mempersilahkan. Menatap punggung Arjuna yang lama-lama menghilang di balik pintu.
***
Siang harinya, mereka benar-benar pergi untuk makan siang.
Marina dan Arjuna, berjalan beriringan. Di sepanjang koridor mereka menerima beberapa sapaan dari rekan kerjanya.
Sudah tidak heran lagi, sudah menjadi rahasia umum jika mereka berdua memiliki hubungan dekat. Namun, sedekat apa kah itu hanya Arjuna dan Marina yang tau.
"Mau makan kemana?" tanya Arjuna. Menoleh pada Marina.
"Pengin makan geprek." Jawab Marina dengan antusianya.
"Yasudah..."
Mereka berjalan menuju parkiran, untuk pergi ke tempat makan geprek seperti yang di inginkan oleh Marina.
Namun, baru sampai di loby Arjuna menghentikan langkah kakinya. Matanya menangkap satu manusia yang sangat dia kenal dan seharusnya dia tidak berada di sana.
Di sana, di kursi tunggu dia melihat seorang gadis berseragam putih abu-abu tengah duduk sambil memangku tangannya.
Tanpa di minta, Arjuna langsung menghampirinya.
"Aruna..."
Gadis yang ternyata Aruna itu pun menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Abang Juna..."
Aruna yang melihat Arjuna datang langsung berdiri dari duduknya. Dengan setengah tertarih dia berdiri.
Arjuna mengamati penampilan Aruna yang sedikit berantakan. Bajunya kotor, sikunya terluka. Dan ada beberapa bagian dari roknya yang robek.
Arjuna langsung menarik rok panjang yang di kenakan Aruna hingga kelutut. Di sana, telihat luka terkelupas warna merah bercampur antara luka dangan darah.
Aruna langsung menghindar saat Arjuna ingin menarik roknya semakin atas. Karena beberapa mata menatap kearah mereka, tentu saja dirinya malu.
"Kenapa ini?" tanya Arjuna langsung.
Nadanya terdengar ketus dan sangat dingin. Tidak ada ramah-ramahnya sedikitpun atau minimal iba, pada luka yang di alami Aruna.
"Jatuh..." Jawab Aruna dengan lirih. Tubuhnya sudah sakit dan pasti dia masih kena marah dari Arjuna.
"Jatuh dari mana?" Tanya Arjuna lagi masih dengan nada kesalnya.
Namun, Aruna tidak berani menjawab. Melihat Aruna yang ketakutan Arjuna hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar. Berusaha meredam kekesalannya.
Dia lalu menoleh pada marina, yang sejak tadi berdiri di sana.
"Maaf Na, kamu bisa pergi makan siang duluan. Aku mau ngobatin anak nakal ini." Ucap Arjuna pada Marina. Setelahnya dia langsung menarik tangan Aruna untuk mengikutinya.
Bahkan belum sempat Marina menjawab, Arjuna sudah lebih dulu pergi.
Arjuna melangkah dengan cepat menuju ruangannya, sambil tangannya menarik tangan Aruna. Aruna berjalan dengan tertatih mengikuti langkah Arjuna yang terlalu cepat. Jangan lupakan kakinya yang terasa sakit.
"Pelan-pelan, aku bisa jalan sendiri." Ucap Aruna dengan kesal. Tangannya menyentak tangan Arjuna hingga terlepas.
Arjuna semakin kesal denganAruna, namun memilih diam tidak mengatakan apapun. Dia berjalan lebih dulu dan membiarkan Aruna mengikutinya.
Sampai di ruangannya, Arjuna langsung meminta Aruna untuk duduk.
Dia bersedekap berdiri di hadapan gadis itu, siap untuk menghakiminya.
"Sekarang jawab, jam sekolah kamu malah keluyuran. Sampai disini dengan badan penuh luka, ini kenapa?" tanya Arjuna lagi dengan tajam.
"Di bilang jatuh Abang. Jatuh dari motor." Jawab Aruna.
"Mau pergi kemana kamu jam sekolah begini?" tanya Arjuna lagi. Dia benar-benar kesal pada Aruna. Bukannya sekolah dengan benar, gadis itu justru keluyuran tak karuan.
"Sekolah sudah pulang. Ujian sudah selesai. Rencananya mau jalan-jalan, tapi tidak sengaja jatuh." Jawab Aruna lagi.
Hari ini memang ujian hari terakhir, setelah selesai ujian dia bersama teman-temannya memang berencana untuk pergi menonton sekedar melepaskan rasa penat karena beberapa hari sudah berkecimpung dengan banyaknya soal ujian yang berhasil membuat kepala mereka sakit. Tapi naas, sepertinya tuhan tidak terlalu merestui tujuan mereka. Sampai di tikungan dekat sekolahan, mereka tidak melihat ada motor yang melaju dengan kencang dari arah belakang. Hasilnya motor yang Aruna kendarai bersama temannya jatuh karena terserempet.
"Terus sama siapa kamu kesini tadi?"
"Sama Nurul. Ya ampun, lupa."
Aruna langsung teringat dengan temannya yang mengantarnya kerumah sakit tadi. Tadi saat dia duduk di kursi tunggu, temannya itu sedang mengurus pendaftaran dan sekarang dia tidak tau apakah temannya mencarinya.
Aruna langsung merogoh ponsel di sakunya. Benar saja, saat melihat ponselnya banyak sekali pesan yang di kirimkan oleh Nurul yang menanyakan di mana keberadaannya.
Aruna langsung menjawabnya, dia bahkan menelpon Nurul untuk tidak usah mencarinya. Dia bersama abangnya. Sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
Arjuna meninggalkan Aruna untuk menyiapkan obat untuk mengurus luka-luka gadis itu.
"Sini duduk sini!!" perintah Arjuna pada Aruna. Dia menunjukan berangkar di ruangannya.
"Disini saja," ucap Aruna tidak mau bergerak untuk pindah keranjang.
"Abang ini dokternya, kamu pasiennya. Dari mana ceritanya pasien melawan dokter. Cepat kesini, atau biarkan saja lukanya infeksi."
Mendengar ucapan ketus Arjuna, Aruna langsung berjalan menuju berangkar. Tidak mau membuat Arjuna semakin marah.
"Abang jangan marah-marah dong. Mana ada dokter yang marah-marah sama pasiennya." Gerutu Aruna.
"Pasien gratisan, tidak usah protes. Cepat kesini."
Tidak ada pilihan lain, Aruna pun menurut. Arjuna dengan sabar mengobati luka di kaki dan tangan Aruna.
"Besok lagi, kalau pulang sekolah itu jangan langsung pulang. Keluyuran begini, sudah betul ini. Ya ini dapat-dapatannya." Ucap Arjuna sambil tangannya fokus mengobati luka.
"Kalau sudah begini, kan kapok besok-besok."
Aruna merasa kesal, karena Arjuna yang terus saja mengomelinya. Apa tidak bisa diam dulu sebentar, kenapa suka sekali mengomel.
"Abang Juna kalau tidak ikhlas ngobatinnya, tidak usah di obati. Mana ada dokter yang ngobatin pasien sambil ngomel kaya Abang." Ucap Aruna dengan menggerutunya.
Arjuna semakin kesal, niatnya menasehati agar Aruna sadar jika dia salah. Malah di katakan mengomel.
"Sakit, pelan-pelan ..." Aruna meringis saat Arjuna menekan lukanya dengan keras.
"Biar sakit, biar kapok."
Arjuna membereskan peralatannya setelah mengobati Aruna. Dia kemudian mencuci tangannya di wastafel.
"Mana laku dokter galak kaya begini." Guman Aruna dengan lirik.
"Kalau rewel terus, sana bayar biaya pengobatan ke kasir." Sahut Arjuna.
Aruna langsung diam, dia mana bawa uang untuk membayar. Yang benar saja abangnya itu memintanya untuk membayar. Membayar pakai apa, uang saja tidak bawa.
"Ayo pulang, Abang antar."
Setelah mencuci tangan, Arjuna membantu Aruna untuk berdiri. Ingin mengantarnya pulang.
"Abang kan masih kerja, aku bisa pulang sendiri." Tolak Aruna.
"Pulang sendiri, terus celaka lagi. Kalau belum patah tangannya belum jera."
Aruna lagi-lagi hanya diam. Kenapa hari ini ucapan Arjuna terdengar sangat galak dan ketus.
Akhirnya setelah kalah berdebat, Arjuna pun mengantarkan Aruna pulang. Dia membantu Aruna berjalan dengan kondisi setengah pincang karena luka di lututnya yang lumayan parah.
Sepanjang koridor rumah sakit, banyak yang melihat mereka. Banyak yang betanya-tanya, siapa gadis muda yang sedang di papah oleh dokter idola mereka itu. Rasa-rasanya mereka tidak pernah melihatnya.
***
DI TULIS: SLEMAN, 6 SEP 2022
DI PUBLISH: WNG, 2 NOV 2023