Pulang sekolah Adi harus menghadapi sesi wawancara dadakan sang kakek. Ia dipanggil ke mansion yang kebetulan kakeknya sudah pulang dari rumah nya. "Kenapa bisa berantem?" Tanya pamungkas yang tadi nya mendapatkan laporan orang kepercayaan nya di sekolah tentang kejadian Adi yang mengamuk di kantin. "Dia bawa-bawa ayah sama bunda," sahut adu dengan wajah datar. Setiap mengingat perkataan Jefri Adi selalu merasa emosi dan ingin menghancurkan semua orang sekaligus. Pamungkas menghela nafas pelan, cucu nya satu itu memang hobby memancing keributan, entah harus bagaimana lagi pamungkas menegur Jefri, terlebih Jefri tidak memiliki darah pamungkas sehingga tentunya ini membuat ia sedikit ada rasa malas meladeni cucu nya itu. Meskipun jika ditanya sayang atau tidak, jelas ia sayang. "Kamu

