“Beberapa bayangan tak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk disadari dan diakui.”
---
Hujan menggantung sepanjang malam. Ketika bulan meninggalkan langit yang basah, rinai akhirnya berhenti, menyisakan tetesan air di dedaunan dan aroma tanah basah yang pekat. Di antara kesunyian itu, Shen Li memandang ke arah taman kecil di rumah sakit. Pikirannya kusut, tak tahu harus ke mana melangkah.
Di benaknya dipenuhi oleh ucapan Shen Qi Ming tempo hari. Selalu terngiang bagai gema yang enggan padam. Shen Li menggenggam jemarinya, menahan getar yang naik tanpa alasan.
Ia ingin melepaskan kebencian. Ingin percaya bahwa waktu sudah cukup untuk menghapus luka. Namun tak semudah yang dibayangkan. Ada luka yang menolak sembuh, meski telah bertahun-tahun berlalu.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu taman. Terasa familiar tapi juga sedikit berbeda.
“Shen Li?”
Nada itu lembut, terselip keraguan. Shen Li menoleh. Di sana berdiri Xiang Ting, menatap ke arahnya dengan tatapan yang mengandung kekesalan samar. Tapi juga setitik kebencian yang sulit diredam.
“Ting Ting,” bisik Shen Li dengan emosi kecil yang berkumpul di tenggorokan. “Sudah lama.”
Xiang Ting berjalan mendekat, langkahnya nyaris tanpa suara. “Ya,” ujarnya datar. “Sudah lama sekali. Aku tidak menyangka kau masih berani kembali.”
Shen Li menghela napas pelan. “Aku pulang untuk ibuku. Tidak lebih.”
Xiang Ting mengangkat dagu, mencibir. “Untuk ibumu? Benarkah? Aku pikir kau hanya ingin merusak ketika semua sudah berjalan sesuai jalur. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti dirimu.”
Shen Li tidak menjawab. Ia menarik napas panjang, pelan. Menatap lurus iris cokelat terang Xiang Ting lekat-lekat. Di sana sudah tidak ada sedikit pun sisa kehangatan yang terpancar.
Getir, tapi ia tetap berusaha menjaga ketenangannya. Kemudian ia berucap pelan, “Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi, Ting Ting. Sudah cukup! Semuanya sudah berlalu.”
“Berlalu? Kau masih saja meremehkan beberapa masalah,” potong Xiang Ting. “Kau pikir semua orang lupa bagaimana kau meninggalkan Xuan Zhan waktu itu? Lalu pergi begitu saja tanpa penyesalan?”
Shen Li membeku. Kata-kata itu ternyata menamparnya lebih keras dari yang ia duga.
“Tidak semua hal bisa dijelaskan,” jawabnya pelan. “Dan tidak semua penjelasan akan didengar.”
Xiang Ting tersenyum miring, marah, kesal. “Alasan klasik. Kau selalu pandai membuat dirimu tampak menyedihkan seolah-olah kau korban yang sebenarnya. Padahal, Shen Li….” Ia melangkah lebih dekat, berbisik tajam, “kau hanya gadis yang tidak tahu cara menghargai siapapun yang mencintaimu.”
Shen Li menatap tanah. Hatinya seolah kembali diremas, sesak. Hujan kembali turun tipis. Matanya bergetar, tapi tidak ada air mata yang keluar. Ia hanya menarik napas panjang, memaksa suaranya tetap datar.
“Kalau kau merasa lebih baik setelah mengatakan itu, maka anggap saja aku sudah membayar semua yang kau simpan di hatimu, Ting Ting.”
Shen Li melangkah mundur, tubuhnya sedikit goyah, tapi tatapannya tenang. “Aku tidak ingin merasa paling benar, hanya ingin semuanya selesai.”
Xiang Ting tertawa pendek, getir, lalu menatapnya lama. Seolah menunggu retakan terakhir. “Kau memang pandai berpura-pura kuat.”
“Bukan pura-pura,” jawab Shen Li lirih. “Hanya sudah tidak punya tenaga lagi untuk meluapkan amarah.”
Keheningan menggantung. Xiang Ting menatap wajah pucat Shen Li sesaat, lantas berbalik dengan langkah cepat, tanpa kata seperti seseorang yang ingin melarikan diri dari pantulan dirinya sendiri.
Shen Li tetap diam di tempat, menatap punggung sahabat lamanya yang kian menjauh. Tangannya dingin, dadanya sesak. Tapi tidak ada lagi kemarahan, hanya kelelahan yang menumpuk.
Dari balik kaca koridor lantai dua, Xuan Zhan tak sengaja melihat. Ia tidak turun untuk menengahi, tapi tetap di tempat. Memperhatikan diam-diam. Ia memang tidak bisa mendengar apa pun, tapi melihat sorot mata Shen Li yang meredup. Dan entah kenapa, hatinya ikut perih.
---
Malam turun lebih pekat. Rumah sakit berkilau lembut di bawah cahaya neon.
Shen Li duduk di tepi tempat tidur ibunya. Napas wanita itu lembut, teratur. Ia membenarkan selimut, menepuk pelan ujungnya, lalu berdiri perlahan.
Lorong rumah sakit sunyi. Shen Li berhenti di depan jendela besar. Tatapannya terkunci pada bangku yang telah basah sepenuhnya.
“Kenapa rasanya aku selalu datang terlambat?” gumamnya pelan.
“Tidak semua orang siap menerima permintaan maaf. Apalagi jika lukanya belum benar-benar pulih.” Suara itu datang dari belakang. Lembut, dalam, dan sangat dikenalnya.
Shen Li menoleh perlahan. Xuan Zhan berdiri di bawah cahaya lorong. Menatap dengan tenang, tapi ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
“Zhan Ge,” suaranya nyaris hilang.
Xuan Zhan menatapnya tanpa kata, lalu berkata pelan, “Aku melihatmu di taman tadi.”
Shen Li mengangguk. “Hanya kebetulan.”
“Begitukah?” Xuan Zhan menatapnya dalam, ada senyum kecil yang samar. “Tapi kebetulan sering kali bukan hal yang datang tanpa alasan.”
Shen Li terdiam. Ia menatap lantai, berusaha mengatur napas. “Aku tidak mencari masalah, Zhan Ge. Aku hanya ingin tenang.”
“Mungkin bukan ketenangan yang kau cari,” ucapnya lembut. “Mungkin... penebusan.”
Shen Li mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu dan seolah waktu berhenti.
“Enam tahun,” ucap Xuan Zhan pelan. “Aku tidak tahu apakah aku ingin memaafkan atau hanya ingin tahu kenapa semuanya berakhir seperti itu.”
Shen Li menutup mata sesaat. Ada sesuatu di dalam sana yang kembali berdenyut nyeri. Tanpa sadar napasnya jadi pendek.
“Kalau aku mendengar waktu itu…” suara Xuan Zhan rendah, getir, “…apa semuanya akan berbeda?”
Shen Li menoleh, menatapnya lama, mata basah, tapi tidak menangis. “Tidak ada yang tahu. Tapi kita terlalu muda untuk mengerti kala itu.”
Keheningan menyelimuti mereka. Lembut, tapi juga berat.
Shen Li berjalan melewati Xuan Zhan, langkahnya nyaris tanpa suara. Ketika bahu mereka bersentuhan, Shen Li berbisik, nyaris tak terdengar, “Meski rusak, sesuatu tetap indah jika disimpan hati-hati.”
Xuan Zhan memejamkan mata.
Shen Li terus berjalan, tanpa menoleh.
---
Di luar, hujan kembali turun tipis. Tapi di ujung timur, cahaya fajar mulai menembus perlahan. Kabut turun menyelimuti seluruh kota.
Shen Li berdiri di bawah atap. Ia merasa kesunyian tidak lagi menakutkan. Karena kesadaran lain tumbuh, seakan ia memang diciptakan untuk keheningan itu. Kesendirian itu terasa seperti bagian dari dirinya.
Shen Li menatap kaca besar. Siluetnya memantulkan wajah lelah, tapi sorot matanya tidak lagi kosong. Ada sesuatu yang kecil, nyaris tak terlihat, tapi nyata.
“Mungkin begini rasanya memulai dari awal,” gumamnya pelan. “Tanpa tahu apa yang menunggu, tapi tetap melangkah.”
Tangannya menyentuh kaca, dingin dan lembap. Ia bisa melihat taman di bawah. Tempat di mana Xiang Ting tadi menatapnya dengan kebencian yang tak lagi ia sanggupi untuk dibalas.
Shen Li menghela napas panjang perlahan. Ia menegakkan tubuh, menarik hoodie-nya menutupi kepala, kemudian melangkah keluar dari gedung rumah sakit tanpa payung.
Udara dingin menyambutnya, penuh aroma tanah basah. Langkahnya menembus trotoar yang licin, memantulkan cahaya lampu jalan yang bergoyang lembut di genangan air.
Mungkin pergi ke studio menjadi pilihan yang tepat, sekadar memastikan bahwa dirinya masih sanggup bernyanyi meski hatinya retak. Di antara suara hujan, ia mendengar gema samar dari dalam dirinya. Sebuah melodi yang belum selesai, sebuah rasa yang belum benar-benar tuntas.
Dan fajar pun merayap pelan,
meninggalkan jejak langkah di jalan basah, serta hati yang masih belajar untuk tidak gentar menghadapi kenangan.
---