Menghubungi Arkan

1032 Kata
“Apa dia benar-benar mencintaimu?" Ini kali ke-dua sang ibu menanyakan hal yang sama pada Lunar, tetapi kali ini tampak keraguan begitu pekat. Tentu saja karena mereka sudah menunggu terlalu lama. Secara logika jika seorang istri dibawa pergi, pasti akan langsung dijemput suaminya. Namun, sudah malam pun sama sekali belum ada tanda-tanda kehadiran Arkan. Sekarang giliran Lunar yang bertanya pada dirinya sendiri. Apa Arkan benar-benar tidak akan menjemputnya? Kalau begitu apa pada akhirnya dia akan menikah dengan Nico? Dia juga tidak mungkin menentang keputusan orangtua untuk sekali lagi. "Aku rasa Arkan tidak akan datang," ucap Sora begitu yakin dengan asumsinya. "Ibu rasa juga begitu. Kalau dia benar-benar mencintaimu, pasti tidak membutuhkan waktu lama untuk datang menjemputmu." Sang ayah berdeham agar percakapan yang tidak jelas tujuannya itu segera dihentikan. "Kita akan menunggunya sampai jam delapan nanti. Kalau dia tidak juga datang, maka kau harus menikah dengan Nico. Ini sudah menjadi keputusanku dan tidak ada yang bisa membantahnya." Ucapan itu menjadi akhir dari pembicaraan mereka. Kini hanya tinggal Lunar dan juga Sora di ruang tersebut. Suasana berubah hening saat kedua kakak beradik itu memutuskan untuk tetap diam. Padahal sebelumnya mereka selalu akrab sebagai saudara, tetapi sekarang sungguh berbeda seolah ada dinding pembatas yang tebal menghalangi. Kejadian yang dialami membuat Lunar menganggap kalau kakaknya itu memiliki niat buruk terhadapnya, sedangkan Sora merasa kalau adiknya itu terlalu beruntung. Seperti yang Sora tahu kalau adiknya menikah dengan pria kaya, pewaris Royal Grey. Dia sudah pernah melihat secara langsung bagaimana muda dan tampannya Arkan Grey. Bahkan sempat terpesona dengan ketampanan itu. Sementara dia harus menikah dengan pria yang sudah tua. Hanya kekayaan yang dapat diandalkan, meskipun begitu tetap saja Arkan Grey lebih kaya. Sekarang Lunar memiliki segalanya yang tidak dia punya, kebalikan dari dirinya. Sora mengepal kesal jika membayangkan semua itu. Dia yang seharusnya berada di puncak kejayaan itu, bukan Lunar yang mana tidak memiliki kecantikan lebih dari padanya. Memangnya apa yang disukai Arkan dari adiknya? Dia memperhatikan Lunar dari atas sampai bawah seolah sedang menilai. Lunar yang diperhatikan sedikit risi dan langsung mengubah posisi duduk. Hingga tatapan mereka bertemu dalam suasana Canggung. Sora berdeham untuk menyingkirkan pemikiran itu sejenak karena telah disadarkan dari lamunan. "Bolehkah aku meminjam ponselmu?" Sora melirik adiknya, lalu berkata, "Untuk apa?" mengangkat sebelah alis sambil menebak-nebak, "Kau ingin menghubungi Arkan?" Lunar diam sejenak sebelum menganggukkan kepala, "Ya. Aku ingin menghubungi Arkan." Sebenarnya Lunar sama sekali tidak hafal kontak suaminya, tetapi dia masih bisa mengusahakannya, bukan? Mungkin dia bisa terhubung dengan Arkan jika menelepon ke kantor. Royal Grey memiliki situs resmi yang bisa menuntunnya mencari jalan keluar. Dari sana dia akan meminta untuk disambungkan teleponnya. Sora menyipitkan mata sembari menimbang-nimbang apakah baik jika dia meminjamkan ponselnya? Lebih baik jika Arkan sama sekali tidak datang karena dengan begitu adiknya itu akan kembali pada Nico. Namun, jika dia meminjamkan ponsel sudah pasti kalau jalan untuk dekat dengan Arkan akan terbuka lebar. Untuk kali ini demi mendapatkan kontak Arkan, dia akan menanggung risiko adiknya dijemput. Setelah ini dia akan mengambil apa yang seharusnya dimiliki. Bersaing dengan adiknya, sudah pasti dia yang akan menang. Dia mengambil ponsel dari dalam tas, lalu menyodorkannya, "Kau bisa menggunakannya." Lunar yang mendapatkan peluang segera meraih ponsel tersebut, "Aku akan mengembalikannya dengan cepat," ucapnya kemudian beranjak dari sana agar bisa mencari tempat aman untuk berbicara. Setelah menemukan tempat aman yang jauh dari jangkauan orang yang sekiranya bisa mendengar pembicaraan, dia mencari situs resmi Royal Grey dan juga nomor yang dapat membantunya keluar dari masalah. Cukup lama dia mencari hingga akhirnya bisa menghubungi seseorang pada bagian customer service. Lunar yang mana terhitung sebagai orang asing lantaran tiba-tiba meminta untuk disambungkan panggilannya dengan pemimpin perusahaan ditolak berulang kali. Sampai pada akhirnya dia berakhir di apartemen yang menjadi tempat tinggalnya. Kini dia berbicara dengan resepsionis yang ada di sana. Dia menarik napas panjang sebelum melekatkan kembali ponsel ke telinga, "Arkan Grey adalah suamiku! Aku adalah Lunar Grey!" teriaknya sungguh tidak bisa menoleransi lagi bagaimana emosinya dia saat ini. Suara ketukan membuat dia menolehkan kepala, "Apa kau sudah selesai? Kenapa lama sekali?" suara kakaknya terdengar di luar sana. Lunar mendengus dalam keadaan ponsel masih melekat di telinga. Dia menyisir rambutnya dengan jemari dan menurunkan sebelah kakinya yang berada di kloset duduk. Tadi sungguh pertarungan yang luar biasa saat berhadapan dengan customer service, ditambah dengan resepsionis. Mereka semua tidak ada yang percaya kalau dia adalah Lunar Grey. "Kalian akan mendapatkan balasannya nanti. Aku akan meminta suamiku, Arkan Grey untuk membuat kalian dipecat!" panggilan langsung dimatikan tanpa menunggu jawaban. Selagi menunggu emosinya reda, Lunar merapikan dirinya di depan cermin. Apakah semuanya akan benar-benar berakhir? Dia sama sekali tidak ingin menyerahkan hidupnya pada Nico. Lebih baik baginya tetap bersama Arkan meski tubuh yang menjadi taruhan. Ya... walaupun dia tahu kalau Arkan sudah dimiliki Raya dan keberadaannya hanya akan semakin memilukan karena harus melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain. Bodoh. Dia sangat bodoh karena lebih memilih Arkan yang mencintai wanita lain. Namun, itu lebih baik dibandingkan menghabiskan malam yang panjang dengan pria yang sama sekali tidak disukainya. Untuk satu tahun saja dia akan menahannya. Setelah itu dia akan mengambil apa yang bisa dimanfaatkannya dari menjadi istri Arkan Grey. Sekali lagi suara ketukan pintu terdengar, "Lunar, cepatlah keluar," kali ini bukan suara Sora, melainkan suara ibunya, "Arkan datang menjemputmu." Kedua mata terbuka lebar mendengar nama suaminya disebut. Dia mengulang-ngulang kalimat terakhir barusan di dalam kepala. Arkan benar-benar datang untuk menjemputnya. Dia tidak mungkin sedang bermimpi, bukan? Hal mustahil terjadi. Arkan yang sama sekali tidak memiliki perasaan padanya datang menjemputnya. Seketika senyuman menyungging di wajah, “Aku akan segera keluar," ucapnya dengan suara sedikit kencang, kemudian mengusap air yang membasahi ekor mata. Sekarang bukan waktunya untuk menangis. Lunar keluar dari dalam kamar mandi dengan hati riang. Ponsel yang dipinjamnya tadi dikembalikan pada Sora. Tanpa ingin berdiam diri lebih lama, dia bergegas menuju ruang tamu. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Arkan, suaminya. Larinya perlahan melambat saat matanya berhasil memandangi sosok pria yang dinanti, "Arkan," lirihnya. Arkan membawa matanya ke asal suara yang memanggil. Di sana terdapat tiga orang wanita tengah berdiri. Wanita yang membuatnya harus datang ke rumah ini, Sora, dan ... wanita yang akan dijemputnya. Dia menipiskan bibir saat menatap salah satu di antara mereka, "Lunar, aku datang untuk menjemputmu." ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN