27. Latihan Rahasia – I

1348 Kata
27. Latihan Rahasia – I Kembali lagi pada masa sekolahnya yang tidak terlalu menyenangkan. Kali ini Naraya membiarkan Aditya berada di depan. Selain karena kawan terdekatnya yang satu itu mendapatkan amanah dari ibu agar memberikan perhatian lebih kepada Naraya, selain itu karena Aditya juga ingin mencoba sesekali terlihat keren dengan sepeda motor yang lebih keren. Untuk alasan yang satu ini, Naraya merasa iba. Maka ia memberikan saja kesempatan itu untuk Aditya, bahkan berjanji meminjamkan sepeda motor itu untuk Aditya sepulang sekolah. Kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian. Lebih tepatnya Narayalah yang menjadi pusat segala perhatian itu. Kabar tentang ia dan Bisma yang bertengkar karena memperebutkan Kalia tersebar dengan liar ke seluruh penujuru sekolah. Saking besarnya kabar itu, tidak ada yang tidak mengetahui insiden itu. Rumor itu cukup mengganggu karena fakta sebenarnya adalah ia tidak memperebutkan Kalia. Entah bagaimana caranya rumor itu menyebar, tetapi bagaimana bisa orang-orang menjadi begitu dangkal karena hanya memikirkan kemungkinan itulah yang menyebabkan mereka berdua adu pukul. Untung saja kabar tentang kaburnya ia tidak tersebar. “Hari ini kamu enggak boleh jajan sembarangan dan disuruh habiskan obat yang kemarin. Pokoknya semua obat itu harus udah habis pas kita sampai di rumah,” ujar Aditya sembari mengeluarkan satu per satu obat Naraya di atas meja. Kendati suasana kelas sedang cukup ramai dan sedari tadi meja mereka dipandangi oleh seisi kelas, tetapi tidak ada yang berani mendekati meja mereka. Dengan absennya Bisma karena masih dirawat—yang diyakini seisi kelas adalah alasan untuk membolos—sebenarnya suasana kelas menjadi agak kondusif. Hanya saja masih ada Atim dan Udin yang diberi tugas berjaga-jaga. Maksud berjaga-jaga di sini sudah jelas ditunjukkan untuk Naraya, tetapi keduanya malah sudah lebih dulu nongkrong di kantin dan belum terlihat kembali ke kelas sejak meninggalkan meja sepuluh menit yang lalu. “Naraya… gosip itu enggak bener, ‘kan?” tanya salah satu siswi yang sering mengajak Naraya mengobrol beberapa waktu yang lalu. Pada tanda pengenal yang dijahit di bagian depan bajunya, Naraya mengetahui jika siswi ini bernama Nadya. Orang yang ditanyai sempat beradu pandang dengan Aditya sekilas. Aditya menggeleng, memberikan isyarat agar ia diam saja. namun, Naraya justru membalasnya, “Gosip yang mana? Yang aku rebutan Kalia sama Bisma? Itu sama sekali enggak benar. Bisma emang ngejar-ngejar Kalia, tapi aku enggak. Aku enggak tahu juga gimana bisa gosip itu menyebar. Tapi sudah jelas gosip itu salah.” Setelah mendapatkan konfirmasi, Nadya memilih undur diri. Tidak ingin memperpanjang obrolan itu. Ia tidak kembali ke mejanya tetapi ke meja yang digunakan untuk bergosip beberapa siswi lain. Oh, mereka pasti menumbalkan Nadya agar bertanya lebih dulu. Keadaan kelas menjadi lebih ramai ketika Kalia memasuki kelas dengan setengah berlari. Meja Naraya menjadi tujuan pertamanya, menimbulkan kasak-kusuk baru di antara penghuni kelas. “Kamu enggak apa-apa, ‘kan, Naraya? Maaf karena enggak jenguk kamu selama beberapa hari ini. Bapak enggak kasih izin aku buat kunjungin kamu. Soalnya ya… masih ada sedikit kesalahpahaman sama Bu Anto. Jadinya ya gitu… aku sama sekali enggak bisa kunjungi kamu.” Kalia tentu merasa bersalah. Sudah jadi rahasia umum pula jika Bu Anto ingin menjodohkan Bisma dengan Kalia suatu hari nanti. Maka dari itu pula Pak Taufik kepala desa yang doyan uang suap itu akan memihak Bisma bagaimanapun caranya dan apa pun yang terjadi. Ia tentu tidak ingin putrinya berdekatan dengan Naraya. Naraya mengangguk-angguk pelan, tidak ingin memberikan reaksi berlebihan. “Enggak apa-apa. Aku enggak masalah. Jangan terlalu dipikirkan.” Mendapatkan jawaban standar, Kalia kelihatan agak kecewa. Namun setidaknya ia tidak mendapatkan balasan buruk dari Naraya. Kembang desa yang cantik, kembali ke mejanya dan memilih mengeluarkan ponsel alih-alih buku. Jika mereka sedang berada di luar sekolah, mungkin akan berbeda. Kalia pasti akan lebih menempel dan tidak ingin berakhir dengan percakapan standar dan sekadar basa-basi. Namun, perempuan itu menyadari jika kawan-kawan sekelasnya bisa menjadi mata-mata yang melapor pada Bisma. Maka ia memilih jalur aman dengan menghindari banyak obrolan langsung dan beralih saja ke pesan singkat. Hanya saja, Naraya sama sekali tidak memedulikan ponsel. Apalagi pesan yang masuk. Naraya menatap ke luar jendela. Menikmati pemandangan luas yang terhampar di balik kaca jendela. Hijau dan asri, padahal ayahnya mengatakan bahwa merawat alam menjadi semakin susah belakangan ini karena manusia sendiri sudah tidak memedulikan alam. Namun, ia masih bisa mendapati pemandangan-pemandangan indah nan segar itu tanpa kesulitan. Ataukah sebenarnya ayahnya berusaha keras mempertahankan alam yang bisa mereka lihat ini dengan sekuat tenaga? Pria itu tentulah sangat kesulitan menjalani kehidupannya yang keras ini. Selagi memandangi hijaunya pepohonan dan hewan-hewan yang berlarian, matanya menangkap sosok sang ayah sedang bermain-main bersama kawanan monyet. Dengan wujud monyetnya itu, ia bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain, berlarian, berebut pisang, dan sesekali mengerjai mereka. Sungguh kehidupan yang menyenangkan karena tidak perlu berurusan dengan tugas yang menumpuk dan pekerjaan rumah menggunung. Sementara ayahnya bermain-main, Naraya memasang mode serius, kegiatan belajar resmi dimulai. Kendati tidak berminat sekali menjadi juara kelas, setidaknya ia ingin berada di atas rata-rata. Maka dengan begitu, akan menjadi semakin mudah baginya masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan nanti. *** Aditya sempat protes ketika Naraya bilang untuk meninggalkannya sebentar di sekolah. Maklum saja, karena ia mendapatkan amanat menjaga Naraya selagi mereka berada di sekolah. Namun, karena jam belajar juga sudah selesai dan waktunya pulang, tugas itu sudah tidak perlu dilanjutkan. Naraya hanya akan menghabiskan waktu di perpustakaan membaca koleksi buku yang ada. Aditya mendapatkan lampu kuning karena alasan itu. Agak aneh bagi Naraya yang memiliki koleksi buku paling lengkap di desa malah menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah ala kadarnya. Kalau bukan karena iming-iming akan membiarkan Aditya meminjamkan motornya selama satu sore in, maka Naraya tidak akan bisa menemui sang ayah yang tengah bersantai di salah satu pohon. Dengan wujud manusi berekornya, pria itu bergelantungan di salah satu dahan dan menikmati sebuah pisang dengan lahap. “Susah gara-gara anak itu? Padahal dia anaknya agak kalem kalau di hutan. Suka cari kayu buat masak air, kadang nanam pohon baru, pernah waktu itu dia juga bantu monyet-monyet yang kena jebakan. Anak baik, dia. Cuma ya itu… nasibnya aja kurang bagus.” Naraya berdecak. “Daripada memberikan perhatian berlebih pada orang lain, sebaiknya Ayah memberikan perhatian kepada Ibu. Apakah Ayah juga sudah menemui Ibu? Aku tebak sih, belum.” Ayahnya tersenyum kecut. “Kau mau mendapatkan pelatihan tidak? Sebelum temanmu itu kembali, Ayah akan membawamu kea lam siluman sebentar saja. Tidak ada perbedaan waktu antara alam manusia dengan alam siluman sebenarnya, tapi kau pasti akan merasa bahwa di sana menjadi sangat lama karena teori relativitas.” “Ha?” Naraya heran, dari mana ayahnya tahu tentang teori Einstein yang satu itu. Namun, ia menyesali sempat merasa penasaran. Karena hal yang dimaksud ayahnya adalah pelatihan cukup ekstrem dengan menjadikan jurang dan batuan cadas itu sebagai arena latihan. Di sinilah mereka. Naraya yang diturunkan menggunakan ekor ayahnya, ekor ajaib yang bisa memanjang dan memendek sesuka hati. Hanya saja pelatihan yang dimaksudkan sang ayah betul-betul membuatnya menyesal sudah datang. “Yang perlu kau lakukan hanyalah menahan diri di antara dua batuan itu. Berpeganganlah pada batuan yang agak besar. Ingat… jangan sampai jatuh. Karena kalau kau jatuh, kau mungkin akan menjadi daging giling karena batuan-batuan kecil di bawah sangatlah tajam dan menyakitkan,” peringat Iswara. “Tunggu… bukankah ini sangat menyeramkan untuk latihan pertama. Kenapa Ayah langsung memberikan latihan tidak masuk akal ini di percobaan pertama?!” protes Naraya. “Suka-suka hati Ayah. Ayah kan yang memberimu latihan.” Sungguh jawaban yang tidak dewasa. Mana ada Ayah yang memberikan perlakuan seburuk ini pada anaknya? “Aku benci Ayah!” teriak Naraya marah. Dengan posisi menahan diri di antara dua batuan cadas besar, ia mengumpat dan mengomeli ayahnya selama lima menit tanpa henti. Sekarang ia memahami mengapa latihan ini ada kaitannya dengan teori relativitas. Satu menit yang terasa seperti satu jam di neraka. Pada akhirnya Naraya diangkat lagi dengan banyak paksaan untuk dinaikkan ke atas. Iswara harus putar otak, ia sudah salah memilih metode latihan. “Mulai malam ini, pelajarilah tentang energi dalam tubuhmu. Ayah akan datang untuk membantumu. Mari kembali ke sekolah karena sepertinya temanmu itu mulai kelimpungan karena kau tidak ada.” Naraya mengiakan saja. Pasrah. Seluruh energinya habis karena dibawa turun ke tempat yang mengancam nyawa. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN