18. Ayah – I

1220 Kata
18. Ayah – I Naraya dipastikan bisa pulang sore ini. Aditya sendiri tetap berada di samping kawannya. Sungguh kawan yang perhatian. Karena hanya dirawat selama semalam dan dua hari, tidak banyak barang yang dibawa pulang. Selama ibunya sibuk mengemasi pakaian dan perlengkapan lain ke dalam tas, Naraya sesekali melirik apa-apa saja yang dimasukkan sang ibu. Beberapa lembar pakaian, peralatan mandi, dan beberapa vitamin. Dengan membawa itu, ia bisa kabur dengan aman. Untuk masalah uang, Naraya yang pada dasarnya tidak suka berfoya-foya seperti kebanyakan remaja seusianya tentu memiliki banyak tabungan rahasia. Terlebih lagi, ia juga sering mengirim resensi buku ke surat kabar atau situs-situs penggiat literasi. Dari resensi-resensi itulah ia mendapatkan uang jajan tambahan. Terkadang ia juga memenangkan lomba cerpen berhadiah uang tanpa sepengetahuan ibu, jadilah ia memiliki pendapatan tambahan rahasia. Membeli tiket bus ke ibu kota tidak seberat itu. Terlebih lagi Ruben dan Azka mendukung saja keputusannya minggat. Pakde Widodo sendiri awalnya menentang, tetapi bapak satu anak itu tidak dapat menolak permintaan Naraya untuk menampung kembali keponakannya yang tidak tahan lagi dengan segala perundungan itu. Bagian tentang sosok ayah kandungnya juga tidak disebutkan, Naraya tak ingin memperkeruh suasana. Setelah Naraya membeli tiket dan dalam perjalanan kembali, Pakde Widodo akan menjemputnya di terminal. Itulah rencana awalnya. Maka, setelah ibu selesai mengemas tas dan menyelesaikan administrasi, Naraya izin pergi ke kantin rumah sakit membawa ransel kecil. Aditya memang polos, pemuda itu tidak tahu bahwa Naraya sudah meninggalkan halaman klinik menuju jalan utama kabupaten. Ia mencegat sebuah angkutan lalu menghilang. *** “Aditya, makasih ya kamu udah bantu Budhe jagain Naraya. Dia emang lagi terguncang banget dengan semua hal ini. Pesan Budhe cuma satu, supaya kamu jangan kapok main sama dia.” Ibu bergabung dengan Aditya yang tengah duduk di depan kamar inap Naraya. Bekas kamar inap, karena ruangan ini memang akan ditinggalkan. Aditya memulas senyum lebar. “Mboten nopo-nopo*, Budhe. Naraya juga anaknya baik, dia enggak pernah jahat sama siapa pun yang jahati dia. Budhe benar-benar mendidik Naraya dengan baik.” (*Tidak apa-apa, Budhe) “Makasih juga karena kamu enggak bilang kalau tuntutan orang tuanya Bisma adalah untuk memenjarakan Naraya. Mungkin ia masih beruntung karena waktu itu Pak Anto bisa menahan istrinya berbuat demikian. Tapi Budhe enggak tahu lagi ke depannya bakal kayak gimana. Baik Bisma sama ibunya enggak suka sama Budhe, Naraya juga. Budhe cemas aja kehidupan Naraya di sini bakal susah,” ujar ibu lagi. Pembicaraan ini memang sangatlah rahasia. Naraya sudah telanjur mempercayai bahwa ibunyalah yang hendak dipenjara dan bukan dirinya. Mungkin pemuda itu merasa sangat bersalah karena menempatkan ibunya di posisi yang membahayakan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Ibu yang melindungi Naraya dan membuat kebohongan palsu itu. Kini ia menyesalinya karena memberikan kesan seolah kondisinya membuat sang putra makin terpuruk. “Budhe juga enggak ada pilihan lain, ‘kan? Ini situasi di mana Budhe juga harus melindungi Naraya. Walaupun itu bikin Naraya down, tapi setidaknya dengan itu Naraya jadi lebih gampang menempatkan diri. Mungkin nantinya dia jadi lebih banyak diam daripada melakukan sesuatu.” “Ya… intinya dengan itu, Naraya akan lebih banyak dirugikan. Budhe jadi memikirkan rencana buat pindahkan dia ke sekolah lain. Dulu dia sempat menyinggung sekolah negeri di pusat kota yang lebih terjamin dan bagus. Sebenarnya alasan Budhe menyekolahkan dia di tempatmu bersekolah karena banyak orang yang mengenal Budhe di sana. Mulai dari guru-gurunya, beberapa donatur yayasan yang juga jadi klien Budhe, pengurus yayasan juga. Jadi Budhe merasa dia akan aman, tapi malah begini yang terjadi. Budhe agak menyesal.” Aditya cukup terkejut di bagian banyak orang yang mengenali ibu di sana. Oh, lagi-lagi kekuatan orang dalam. Namun setidaknya perempuan itu tidak menjadikan keberuntungan itu sebagai keuntungan lagi untuk Naraya. Bahkan setelah banyak yang mengetahui Naraya, tidak ada jaminan ia dapat terlepas dari gangguan Bisma. Jika nantinya Naraya memang akan dipindahkan, sepertinya itu adalah keputusan yang bijak. Dengan kenalan-kenalan ibu di sana, pasti akan memudahkan Naraya pindah dari sekolah. “Mbak Esti, mobilnya udah saya panasin. Bentar lagi kita bisa pulang. Simbah juga udah ada di mobil lebih dulu. Katanya udah enggak betah di kamar, bau obatnya itu loh.” Bagas yang akan menjadi sopir hari ini menghampiri ibu dan Aditya. Sebuah kantung plastik berisi minuman dingin dan beberapa makanan kecil tergantung di tangan kanannya. “Oh, kalau gitu, kita masuk ke sana aja sekarang. Biaya administrasi juga udah dilunasi. Ayo naik ke mobil, Dit. Tapi… Narayanya mana? Kok dari tadi enggak ada?  Ke kamar mandi atau gimana?” Ibu melirik ke kanan ke kiri, tidak mendapati keberadaan putra semata wayangnya itu. “Tadi dia ke kantin klinik, Budhe. Mau beli minuman dulu, haus katanya. Tapi udah lama juga perginya.” Bagas buru-buru menyahut dengan tatapan tidak percaya. “Loh, loh, enggak mungkin. Lha wong aku udah dari setengah jam yang lalu di sana. Ngopi sama ngerokok dulu, tapi Naraya sama sekali enggak kelihatan. Dari sini ke kantin dekat loh, masa selama setengah jam itu aku sama sekali enggak lihat dia.” Ada lubang menganga yang ditimbulkan karena penjelasan Bagas barusan. Ibu dan Aditya buru-buru pergi ke pos keamanan lagi, mencari seseorang yang bisa menunjukkan kepada mereka rekaman kamera pengawas. *** Naraya mendaratkan kakinya di sebuah terminal. Untuk membeli karcis di sini pastilah tidak serumit di kota yang paling tidak harus ada reservasi dulu. Namun, sesampainya ia di sana, ia mendapati bahwa semua tiket dengan tujuan ibu kota telah habis. Terlebih lagi, dari pihak agen sendiri sepertinya tidak berani memberikan tiket kepadanya. Lebih ke tidak percaya karena Naraya tidak bisa menunjukkan KTP. Dia masih enam belas dan belum memiliki KTP omong-omong. Hingga sebuah suara menarik atensinya, seorang pria yang ditaksir berusia menjelang akhir dua puluhan. Mendadak Naraya merasa ngeri karena pria ini sepertinya sudah dari tadi mengawasinya ketika bicara dengan petugas dari terminal. “Mau ke ibu kota tapi enggak bisa dapat tiketnya, ya?” tanya orang itu dengan senyum lebar. Naraya tidak kunjung bereaksi, khawatir saja jika ia bertemu dengan penipu. Pria itu berkata lagi, “Kalau mau naik dari bis yang enggak ada di terminal, kamu bisa dapat tiket tanpa harus menunjukkan KTP. Kamu pasti mau minggat karena enggak ada wali yang bisa jamin identitas kamu.” Naraya enggan menyangkal, tapi itu benar. Tak ingin tertipu, Naraya berlalu saja meninggalkan pria ini. Namun pria tersebut tidak gampang menyerah, diikutinya Naraya ke mana pun pergi. Hingga di titik di mana Naraya terusik dan mengusir saja si tukang promo itu. “Sontoloyo, wong kutha nyat cangkeme raiso diajak kompromi. Ben sisan ilang, minggato kono. Rasah balik ben wong tuwamu kelangan.**” Pria itu bersungut-sungut ketika meninggalkan Naraya. Pemuda yang saat itu sedang berada di bawah kekalutan mendadak tidak bisa mengendalikan emosinya dan bermaksud memberikan si pria sedikit peringatan, tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ada seekor monyet kecil entah datang dari mana menarik tas pinggang yang dikenakan si pria lalu menariknya pergi. Si pria kelimpungan tas pinggangnya diambil. Sedangkan Naraya mengernyit, itu adalah monyet yang ia titipkan kepada Sugi penjaga sekolah. Sebelum Naraya dapat memikirkan situasi yang sebenarnya terjadi di sini, ia mendapatkan sebuah totokan kecil di leher. Satu totokan yang membuatnya pingsan. Tubuhnya ditangkap oleh Sugi, di belakangnya sebuah mobil keluaran sembilan puluhan terparkir. Dua orang pria lain yang merupakan Parjo dan Minto berada di sana, mereka akan membawa Naraya ke padepokan saat ini juga. Agar Kanjeng Iswara tidak dapat lari dari hal yang harus ia lakukan. |Bersambung|
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN