Edgar berdiri tenang, menatap cahaya senja di ufuk timur. Siluetnya seperti emas cair yang menciptakan keindahan. Burung-burung beterbangan, riuh di bawah langit. Senja adalah sebuah keindahan. Sayangnya, tak ada orang untuk berbagi keindahan. Hanya Edgar seorang di sini, menatap alam dalam kesepian diri. Mata Edgar kali ini menyorot dalam, memiliki fokus, dan tidak lagi kosong. Dia telah meninggalkan kepura-puraan. Dia tidak lagi hidup dalam kebutaan. Topeng yang telah ia pakai selama ini ia lepas begitu saja. Mata emas Edgar sama tajamnya dengan mata predator. Setiap kali mengunci mangsa, tidak pernah bersedia untuk melepaskan. Objek apa pun yang ada dalam kunciannya, akan berakhir dalam genggaman. "Tuan," sapa Eduardo, menghampiri majikannya dengan sikap takdzim. Edgar menganggu

