"Lynelle Morrison?" Bibir Lynelle membeku. Dia mengucapkan nama itu seperti mantra. Edgar mundur, lagi-lagi tertawa getir, dan berbalik pergi. Sungguh menakutkan mengakui dirinya sendiri jatuh cinta. Sesuatu yang tadinya ia pikir sebagai ketertarikan dangkal, berubah menjadi obsesi. Ya. Mungkin ini tak berbeda jauh dari obsesi. Sebuah hasrat kepemilikan yang sangat kuat hingga mampu menghalalkan segala cara untuk memiliki, sebuah d******i besar untuk mengatur dan menjadikan seseorang miliknya secara penuh. Namun, dalam obsesi itu Edgar yakin tetap ada cinta. Ketika ia memilih tak menyerah untuk terus mencari Lynelle bahkan ketika orang lain menyebutnya gila. Ketika ia hancur setiap kali teringat senyum wanita yang tak bisa ia lihat lagi, bahkan ketika ia meratapi kematiannya dengan

