Saat Nayyara sedang menangis tersedu-sedu di atas sebuah ranjang dengan bed cover putih. Dengan balutan kemeja putih kebesarannya tubuh kurus itu melengkung persis seperti udang. Seseorang datang, kemudian bergabung bersama Nayyara dalam keadaan langsung memeluk erat dari belakang. Tidak berbicara apa pun, dia hanya ingin menenangkan wanitanya yang sedang menangis penuh pilu. Tanpa menoleh pun Nayyara sudah tahu siapa yang memeluknya. Aroma tubuh khas pria itu begitu Nayyara kenali, berbeda dari yang lain. Wanginya sangat handal membuat orang lain merasa nyaman dan tenang. Sejak kapan dia datang? Kenapa bisa tahu Nayyara sedang berada di sana? Untuk apa mendekap dirinya seperti seseorang yang sedang menguatkan? Nayyara takut, takut jika hatinya yang sudah rapuh itu semakin dihancurka

