"Tolong jangan pernah berpikir untuk pergi. Belva nggak masalah kalau harus jaga jarak sama Mama, yang penting Belva masih bisa liat Mama di rumah ini." Kata-kata itu terus bergaung di tempurung kepala Kirana. Tatapan sendu dan wajah Belva yang bersimbah air mata membuat batin Kirana ikut tersayat. Lebih-lebih saat gadis itu memohon dengan suara lirih bahkan nyaris tidak terdengar karena leher tercekat. Sekali lagi, ia berada di sebuah persimpangan jalan yang sulit dipilih. Wanita itu termenung di bibir ranjang. Netranya menatap sendu pada foto yang tergantung tepat di hadapannya. Kirana memejam, menekan rasa ngilu yang kian menyiksa. Melihat bagaimana eratnya Selva merangkul dirinya di sana, rasa ia tidak percaya jika gadis itu tega menikam hatinya. Rasa sakit yang menghunjam membuat

