Sidang Terkahir

1091 Kata

Ada yang sakit di d**a Randi. Rasanya sama seperti pisau yang tergores di nadinya. Namun, kali ini sakit itu tak berdarah. Melainkan hanya nyeri yang teramat dalam karena ulahnya sendiri. Yasmin pun tak kuasa menahan bulir bening yang begitu saja luruh ke pipinya. Sekian lama mereka merajut pernikahan, bisa kandas oleh orang ketiga. Rasanya begitu menyiksa, tapi ia harus kuat dan tak boleh jatuh kembali ke lubang yang sama. Penyesalan dalam hati pria itu tak dapat mengembalikan rasa yang terluka olehnya. Air mata yang tumpah begitu deras pun tak akan bisa di hapuskan begitu saja. Bahkan, bagi Raka sang ayah tak akan pernah termaafkan. "Aku benar-benar menyesali kebodohanku. Memungut kerikil dan membuang berlian." Randi kembali bicara. Yasmin menarik napas, lalu membuang kasar. Tak mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN