Mata itu mengerjab perlahan. Biasan sinar mentari pagi membuat tidur nyenyak itu di paksa berakhir. Aiden mengeliat merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tangan kekarnya meraba ke sisi lain tempat tidur. Mencari seorang yang menemaninya sepanjang malam. Seorang yang mampu membuat Aiden mendapatkan tidur terbaiknya setelah sekian lama waktu berlalu. Rabahan itu terhenti seiring dengan mata Aiden yang perlahan terbuka. Pria dengan wajah sempurna itu menguap. “Del,” gumam Aiden. Tapi Adelia sudah tidak ada di sisinya. Wanita itu sudah hilang entah kemana. Aiden memilih beringsut duduk. Dia meraih ponselnya. Melihat jam di sana. Aiden mengerang. Dengan langkah gontai pria itu melangkah kearah meja bar. Mengambil sebotol air mineral kemudian meneguknya. Aiden merasa jauh lebih

