Bisma Ardhana “Kenapa Ibu bertanya begitu, apa seburuk itu pernilaian Ibu pada Aulia.” Mendengar tuduhan Ibu aku langsung neranjak dari dudukku lalu menghampiri ibu yang masih berdiri di dekat pintu. Bagaimana bisa Ibu menuduh Aulia seburuk itu, padahal aku sudah mengonfirmasi kalau itu foto itu terjadi hanya kebetulan saja. “Dengan melihat kejadian ini, Ibu hanya ingin meluruskan saja. Apa Ibu salah menanyakannya? Ayolah, Bisma. Kamu sudah dewasa seharusnya bisa bijak menganggapi pertanyaan Ibu.” “Nanti kalau sudah lahir, kita bisa tes DNA, Mas.” Aku menoleh mendengar ucapan Aulia, dia tersenyum tidak ada kepanikan di wajahnya. Aku percaya sama Aulia tanpa harus melakukan tes DNA, lagi pula aku merasakan sendiri kalau aku yang pertama bagi Aulia. Jangan tanya kenapa aku bisa membeda

