Tatapan Noel masih lurus mengarah pada kembarannya yang kini duduk di sofa tunggal apartemennya, dengan kedua tangan melingkar di mug berisi coklat panas yang baru saja Noel serahkan. Mantel wanita itu sudah dilepas, menyisakan turtle neck hitam yang terlihat nyaman di tubuh sang adik. Sisa-sisa tangisnya masih terlihat, terutama pada bagian hidungnya yang memerah. Pandangan matanya tertuju pada mug yang dia genggam. Noel masih tidak percaya belahan jiwanya itu ada di depan mata, setelah selama dua tahun hanya terhubung melalui semua gawai yang mereka miliki. Selama dua tahun sejak kepergiannya Noel memang tidak pernah pulang, begitu pun dengan Nigi yang selalu berkilah sibuk jika ditawari untuk mengambil liburan di negeri tempat kakaknya itu menuntut ilmu, hingga berakhir memilih tingga

