Pemaksaan

1516 Kata
"Ayo pulang!" "Enggak, mau nunggu Galaksi aja. Kamu lebih baik pulang sana." Riri benar-benar sombong, padahal dia sudah ditolong oleh lelaki itu. Namun, sepertinya Riri tidak sadar juga bahwa dirinya butuh bantuan. Mungkin, ini hanya trik wanita itu saja karena ingin dibujuk. Bukan Juan namanya, jika dia bisa membujuk orang. Lelaki itu bukan dalam mode yang ramah, perasaan khawatir masih membuatnya kesal. "Saya sudah sangat lelah, seharian bekerja. Jangan tambah-tambah dengan perilaku Kamu yang kekanak-kanakan. Rasanya menyesal sudah datang ke sini. Saya lupa, Kamu kan kuat. Tidak perlu bantuan seperti ini juga pasti bisa keluar dari tempat ini kan?" Wanita itu merinding. Mendengar nada bicara Juan. Sepertinya lelaki itu kali ini benar-benar akan meninggalkannya. Dia baru sadar, jika baju yang dipakainya itu masih sama dengan pakaian kantor hari ini. "Kamu lelah juga karena kerja dan mengantarkan Laura pulang. Jangan pernah menjadikanku sebagai alasan." Mengingat lelaki itu lebih memilih Laura tadi sore. Membuatnya tidak dibonceng dalam motor yang sama. Meskipun dalam kondisi kepepet seperti ini. "Kenapa sangat keras kepala sekali? Bukankah Kamu bisa langsung naik motor. Lalu kita pulang, masalah selesai. Saya bisa tidur tenang, dan Kamu juga dalam keadaan selamat." Riri benar-benar menguji kesabarannya. "Enggak mau. Pokonya pengen pulang sama Galaksi aja. Lagipula, tadi Aku gak menghubungimu. Aku menghubungi adikku. Jadi, seandainya Kamu datang ke sini pun. Itu bukan atas permintaanku." Riri tetap pada pendiriannya, Juan ingin sekali meninggalkan wanita itu, biarkan saja diculik orang sekalian. Dia berjanji tidak akan perduli, tapi masalahnya, dia diberitahu oleh adik perempuan itu untuk menemui kakaknya yang menyebalkan ini. Juan sudah bersiap untuk menyalakan motornya. Dia memasang gigi dan siap memegang gas saja. Seandainya perempuan itu tidak berbicara. "Ada ternyata lelaki jahat banget. Ninggalin perempuan dalam kondisi gelap begini. Tega gitu ya, gak ada hati nurani. Kalau perempuan itu diculik, dia pasti akan sangat menyesal." Ini adalah pertahanan terakhir, dia masih ingin dibujuk Juan meskipun tentu saja akan menjadi hal yang mustahil. "Terserah." Juan mematikan mesinnya. Dia sengaja membuat suasana menjadi gelap. Hanya ada cahaya lampu dari handphone milik wanita itu saja di sini. Riri pikir, lelaki itu akan pergi, atau membujuknya. Ternyata, dia hanya diam saja menemaninya di tempat ini. "Cepat pulang sana. Katanya tadi lelah," ujar Riri. Dia khawatir dengan kondisi badan Juan yang mungkin sudah sangat kelelahan dan dia masih bermain-main. "Berisik. Kamu memang senang kan membuat orang lain merasa bersalah, padahal yang jelas-jelas salah itu Kamu. Dari tadi, kenapa tidak keluar dari sini. Padahal tidak jauh sudah ada jalan raya. Malah menunggu dijemput, sangat menyusahkan sekali." "Aku gak tahu, kalau ada jalan raya. Dari tadi menunggu, karena bingung. Pikiranku, jika berjalan lebih jauh. Nanti akan sulit ditemukan. Lagipula kenapa Kamu mau menemui ke sini. Bukankan Kamu membenciku?" "Hanya jiwa kemanusiaan saja. Selebihnya tidak ada. Bahkan aku ku tidak perduli, sekalipun Kamu pergi sejauh mungkin." "Kenapa kita jadi seperti ini? Bukankah sebelumnya baik-baik saja? Memangnya tidak bisa dengan maaf semua selesai?" "Mungkin bisa, tapi hati ini sudah terlanjur kecewa." "Aku memang gak secantik Laura, gak putih, tunggu ataupun langsung. Apalagi secerdas dia. Namun, aku bisa jadi teman yang baik kok. Kamu bisa pegang kata-kataku." "Sudah, jangan dibahas. Kita sudah selesai dari beberapa waktu lalu." "Aku minta maaf." Riri tidak pernah berhenti, ataupun lelah untuk meminta maaf. Karena dia merasa hanya ini yang bisa dilakukannya. Ketusnya hanya lah cara agar lelaki itu mau bicara padanya. Sebab, Juan tidak suka jika perempuan mengemis padanya. "Sudah dimaafkan. Masalah itu juga selesai kan? Kenapa harus terus dibahas?" Juan kesal, dia hanya butuh waktu saja. Bukan tidak memaafkan. Mengapa wanita itu terus saja menuntut maafnya. Padahal, jika dipikir mana mungkin dia tidak memaafkan, tapi bela-bela datang ke sini dalam kondisi yang kelelahan hanya karena khawatir, takut wanita itu terluka. Riri diam, dia seperti tertolak. Karena yang diucapkan oleh Juan memang benar. Kenapa masih di lbahas? "Karena aku ingin kita seperti dulu." Meskipun sangat berat hatinya berkata seperti itu. Namun, dia tetap mengatakannya. Mungkin urat malunya sudah dia tinggalkan di ruang tunggu, entahlah. "Enggak akan bisa. Kamu jangan berharap banyak padaku. Kita bertemu dalam ketidaksengajaan, dan berpisah oleh keadaan. Memang seharusnya aku tidak perlu baik dan membuatmu salah paham. Hati ini, bukan untukmu. Kebersamaan kita, hanya sebuah memori yang sesekali boleh dikenang. Namun, tidak untuk diperjuangkan." "Kamu enak banget ngomong gitu. Coba jadi aku. Kamu pikir mudah melupakan? Hampir setiap hari ketemu, makan bareng, bercanda. Semua gak ada artinya? Kebersamaan kita di mata Kamu itu apa sih? Film komedi? Jawab!" Ternyata lebih mengerikan membuat orang jatuh cinta, dibandingkan memperjuangkan kalau ditolak. Karena rasa bersalahnya sangat berlipat ganda. Riri terduduk di jalanan, dia menundukkan wajahnya melipat kakinya. Menjadikan dengkulnya sebagai tempat wajahnya bersembunyi. Juan melihat ke sekeliling yang memang sangat gelap. Dia tidak suka drama seperti ini. Seharunya, dari awal. Dia paksa saja Riri untuk pulang. "Aku gak bisa jalanin hal yang pernah kita lakukan dengan perasaan yang tidak semestinya ada. Lagipula, sekarang melakukan apapun akan menjadi canggung." "Kenapa sih, karena aku kita jadi jauh begini. Aku memang ceroboh. Seharunya, Aku punya malu agar tidak perlu memaksamu kembali." "Sudah, kita akan memiliki jalan sendiri-sendiri." Juan dengan mudah dan lancarnya berkata seperti itu. Dia tidak tahu seberapa berat jadi Riri yang selama ini memikirkannya. Bahkan, dia sangat membenci saat mengetahui fakta, malam-malam tanpa kabar dari lelaki itu. "Kasih Aku alasan untuk membenci dan menjauh?" Juan benar-benar bingung. Ketika ditanya seperti itu. Dia tidak memiliki alasan untuk dijauhi apalagi dibenci. "Kamu bukan tipeku. Aku hanya menjadikanmu pelampiasan, karena kamu terlalu polos dan membuatku sangat benci melihatnya. Tidak ada teman yang baik, semuanya naif. Termasuk Aku, jangan mudah diperdaya." "Kenapa aku gak masuk tipe ideal kamu?" "Kamu gendut, tidak bisa merawat diri. Cerewet dan berisik. Aku tidak bisa menggandeng tanganmu. Karena rasanya tidak percaya diri." "Bagaimana bisa menjadi seorang pasangan, jika selalu tidak percaya diri. Bahkan kamu terlalu takut melakukan banyak hal. Aku yang harus terus membujukkl. Ini sangat membosankan. Bagaimana hubungan bisa berjalan dengan lancar, jika Kamu saja tidak pantas untuk dijadikan pasangan." "Belum lagi, Kamu tulang punggung keluarga. Aku yang hanya punya penghasilan pas-pasan. Tidak akan bisa mencukupi kebutuhan itu." Juan mengatakan dengan sangat lugas. Dia seperti tidak takut, semisalnya Riri akan menangis ataupun sakit hati. Karena ini yang wanita itu inginkan. Riri menelan habis kata-kata itu, semuanya dia akui sebagai fakta. Dia memang seperti yang dikatakan oleh Juan. Lututnya tambah lemas saja. "Sudah, cukup. Aku sadar diri sekarang, kita memang beda. Aku juga tidak seperti wanita kebanyakan. Haha, dunia ini sangat adil. Bagaimana setelah bahagia, langsung datang duka yang tiada henti-hentinya." Dia mengatakan dengan penuh emosi. Juan bisa merasakannya. Namun lelaki itu memilih untuk lebih banyak diam. Karena dia juga masih tidak percaya bisa berbicara sekadar itu terhadap perempuan. "Ya sudah, Aku pulang." Juan bukan tidak perduli lagi, dia yakin Riri bisa menjaga dirinya dengan baik. Dengan yakin, dia menyalakan motornya. "Untuk terakhir kalinya, Aku ingin diantarkan pulang olehmu." Suara itu, menghentikan dia untuk menarik gas motornya. "Naik." Setelah mendapatkan jawaban, wanita itu langsung bangun, meskipun lututnya terasa bergetar. Dia tetap menahannya dan naik motor Juan. "Pakai helmnya. Aku gak mau ada orang yang menjadi korban ketika naik motorku." Riri senang, setidaknya lelaki itu mengganti sebutannya dengan kata aku. Wanita itu tidak berbicara lagi, dia langsung memakai helm tersebut dan naik motor. Di perjalanan, mereka tidak ada yang berbicara. Karena larut dengan pikiran masing-masing. Selayaknya pasangan yang tidak seharusnya berpisah tapi harus tetap berpisah. Mereka sebenarnya saling menyayangi, tapi ada benteng yang masih menghalangi, Juan tidak percaya diri. Bisa membuat wanita itu bahagia. Apalagi, dia saja tidak pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya itu seperti apa. Sempat berpikir, mungkin seperti tawa yang tiada hentinya, atau perasaan aneh seperti berdebar dan merasa selalu ingin tersenyum. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana sebenarnya definisi bahagia bekerja. Tak terasa, hujan ringan pun turun. "Pegangan, Aku harus ngebut. Karena tidak mau sakit, karena kehujanan." Juan sejujurnya takut, bila Riri kehujanan. Dia sadar, wanita itu pasti hanya makan tadi siang, itu pun belum habis. Keburu dia tinggalkan, karena sudah terlalu muak. Wanita itu tidak menjawab, dia hanya melakukan apa yang dikatakan oleh Juan. Bukan pegangan pada pinggang lelaki itu, dia hanya berpegangan pada kemeja Juan yang sudah berantakan. Tapi, karena lelaki itu terlalu kencang. Akhirnya dia memutuskan untuk berpegangan pada bagian belakang saja. Sampai sebuah polisi tidur membuatnya bergeser. Karena takut jatuh. Wanita itu memeluk Juan dari belakang. Membuat lelaki itu kaget, Riri tidak sengaja melakukannya. Dia hendak melepaskan. Namun, Juan lebih dulu memegangnya. Memberikan kode, agar dia tidak melepaskan pelukan tersebut. Wanita itu merasa tidak memiliki banyak tenaga untuk berdebat, dia membiarkan dirinya memeluk dari belakang. Kini, kepalanya pun bersandar di punggung kokoh lelaki itu. Dia berlindung di belakang Juan, bukan karena takut hujan, tapi karena takut kelihatan sedang menangisi pria itu. Dia yakin. Ini adalah momen terakhir mereka. Karena, setelah inipun. Riri berjanji tidak akan mengusik kehidupan pria itupun lagi. Setelah mereka sudah melewati setengah perjalanan. Galaksi baru datang ke tempat itu. Dia mencoba menelpon keduanya beberapa kali. Tapi tidak ada satupun yang mengangkatnya. Kemungkinan besar, sang kakak memang sudah pulang bersama bang Juan. Akhirnya, tanpa menunggu jawaban telepon. Dia pun langsung pulang. Sangat terlambat memang. Selain macet, tadi juga hujan. Ada laka lantas, sehingga dia tertahan sangat lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN