Old Pictures and Some Memories

2696 Kata
Bandung, Oktober 2016. Vincent.             Aku sampai di Bandung, Sabtu dini hari. Konyolnya, aku kira kalau rumahku ini seperti rumahnya Allan yang tidak akan dibukakan pintunya karena seluruh anggota keluarga sudah tidur di atas jam sebelas malam. Sejujurnya saja, aku sudah lupa dengan keadaan rumahku karena terlalu lama berada di Jakarta dan Belanda.             Sementara rumahku, aku melupakan fakta bahwa masih ada Mang Tarmin yang selalu meronda di gerbang rumah, karena kebiasaan Papa yang selalu pulang kerja malam dari proyek-proyek kantornya diluar jam kerjanya sebagai dosen tetap di salah satu kampus di Bandung dalam bidang ekonomi. Begitu pula Mama yang sibuk mengurusi coffee shop-nya yang ada di kawasan Lembang.             Sampai di Bandung, aku disambut oleh Mang Tarmin yang membukakan pintu. Kemudian, Mang Tarmin pun mulai memberikan laporan singkat mengenai keadaan rumah selama aku tak ada. Khususnya, tentang ketiga adikkku—Vanessa, Victor dan Valentino.             Vanessa, adik perempuanku yang tepat berbeda dua tahun denganku itu sekarang bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang ada di pusat kota Bandung, sebagai dokter gigi umum di poli giginya. Mang Tarmin juga menambahkan kalau Vanessa punya seorang kekasih yang merupakan umum yang sedang kuliah spesialis penyakit dalam.             Victor baru lulus dari kuliahnya bulan Februari kemarin, dengan titel barunya sebagai sarjana teknik. Iya, dia mengambil jurusan teknik sipil di salah satu institusi pendidikan teknologi yang terbaik di Indonesia. Katanya juga, sebelum lulus pun Victor sudah di mintai untuk bekerja part-time di sebuah perusahaan konstruksi yang ada di Jakarta. Kalau begini ceritanya, sepertinya Victor sebentar lagi bakalan tinggal satu atap denganku di Jakarta.             Dan adikku yang paling kecil—walaupun sekarang dia sudaah tak kecil lagi—yaitu, Valentino baru memasuki tahun keduanya berkuliah di jurusan psikologi. Entah kenapa Valentino bersikukuh untuk masuk psikologi disaat Papa dan Mama menyuruhnya untuk masuk kedokteran. Secara finansial, jelas orangtuaku sangat mampu untuk membiayai Valentino, dan secara kemampuan intelektual, adikku jelas sangat mampu juga untuk masuk kedokteran. Namun, jika kembali kita bahas mengenai passion dan minat, maka bukanlah hal yang tepat untuk memaksakan kehendak orangtuaku dan meminta adik bungsuku tersebut tetap masuk ke fakultas kedokteran.             “Di rumah ada siapa aja Pak?” tanyaku.             “Semuanya lengkap kok, Den,” balas Mang Tarmin, “Cuma ya kan sekarang udah jam dua pagi. Bapak sama Ibu pasti udah tidur. Non Nessa, Den Piktor sama Palen juga pasti udah tidur.”             “Pake ‘ve’ Mang, bukan ‘pe,’” kataku karena geli mendengar Mang Tarmin masih saja memanggil nama Victor dan Valent dengan menggunakan huruf ‘p’ di depannya. Sebenarnya namaku pun tetap di panggil ‘Pinsen’ olehnya. Hanya Vanessa saja yang tidak kena dipanggil ‘Panesa’ karena di rumah, dia dipanggil ‘Nessa.’             “Si Aden suka gitu. Udah tahu Mamang nggak bisa ngomong ‘ep’ sama ‘pe.’” Mang Tarmin tertawa.             “Ya udah deh Mang, aku masuk dulu. Tolong parkirin mobilnya ya nanti kalo misal ada mobilnya siapa yang mau keluar gitu,” kataku sebelum meninggalkan kunci mobilku kepada Mang Tarmin.             “Siap Den!” —————————             Aku cukup dengan tidur singkatku yang hanya beberapa jam itu. Kamar tidurku masih sama seperti kamar tidur yang aku huni setidaknya sampai aku lulus SMA. Kamar ini jelas lebih kecil dibandingkan dengan kamar Vanessa, dan apalagi jika dibandingkan dengan Victor yang memerlukan tempat ekstra untuk pekerjaannya.             Kamarku masih sama dengan interior yang didominasi dengan warna cokelat. Sebuah tempat tidur yang langsung berhadapan dengan TV flat, rak buku yang dipenuhi dengan buku-buku hukumku di atas tempat tidurku. Nakas di sebelah kanan tempat tidurku aku taruh jam dan notebook, sementara di nakas sebelah kiri ada beberapa foto yang aku sengaja pasang di sana.             Ada sebuah foto yang terpasang di atas nakas sebelah kiri tempat tidurku itu. Tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan foto-foto lain yang ada disana. Foto itu adalah fotoku dengan Lyssa—tepatnya, satu-satunya foto yang kumiliki bersama Lyssa. Foto itu diambil saat acara dies natalis fakultas hukum kampus. Foto itupun terjadi atas usaha keras Luna dan Dea yang mengerjai Lyssa dan aku.                     Lyssa yang tadinya malu-malu memekarkan senyumnya. Sejujurnya, aku sangat menyukai hasil jepretan foto itu, meskipun—aku tidak yakin—sebenarnya Lyssa pasti grogi saat tersenyum waktu itu.             She’s so adorable stupid, yet I like the way just it was.             Dia memang terlihat bodoh ketika berurusan tentang masalah perasaannya sendiri. Semakin dia berusaha untuk jujur akan perasaannya kepada seseorang, semakin bodohlah dia yang ada.           “Oh my God!! Brother!!!” Seru sebuah suara nyaring yang kukenali. “Kenapa lo pulangnya tengah malem sih? Kan yang nyambut lo jadi Mang Tarmin! Gue kan mau meluk lo tahu! Meluk Kakak Favorit gue yang dapet gelar LLM dari Belanda kali!”             Aku cengengesan melihat tingkah konyolnya adikku ini. “Iya, iya. Sini pelukkan sama Kakak. Udah gede masih aja minta peluk-peluk segala lo.” Aku sangat dekat dengan adikku yang satu-satunya perempuan ini. Maklum, julukan Vanessa dari dulu adalah ‘Princess of the House,’ saking karena dia anak perempuan satu-satunya di rumah ini.             “Victor sama Valent mana Nes?” tanyaku, melepaskan pelukanku dari Vanessa.                 “Victor molor, dan Valent masih molor—juga. Dia semaleman ada di perpustakaan kampusnya karena ada materi yang harus dia baca dan dibuat resumenya gitu, dan bukunya nggak boleh dibawa pulang. Jadi dia kerjain sampe perpus kampus tutup gitu deh.”             Aku mengangguk paham. “Terus kalo Mama sama Papa?”             “Papa ada meeting sama kliennya di Dago. Kalo Mama, ada di dapur.”             Aku mengangguk lagi. Aku kehilangan kata-kata karena aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah sepertinya, sehingga aku bingung harus mulai dari mana untuk memulai cerita atau bertanya tentang keadaan di rumah yang seperti apa.             Vanessa mengamati foto-foto yang ada di atas nakas sebelah kiri tempat tidurku. Dia pun meraih fotoku dengan Lyssa. Dia melihatnya sejenak lalu bertanya, “Lo masih nyimpen foto sama Cewek Atom ini?” tanyanya. Julukan ‘Cewek Atom’ itu bermula dari sejak aku bercerita pada Vanessa jika aku mendapatkan surat cinta dari Lyssa, dan aku bacakan isi surat cintanya yang mengandung unsur-unsur atom itu. Sejak saat itulah Vanessa menjulukinya ‘Cewek Atom.’             “Iya masih ada di situ, berarti gue masih simpen kan?”             Vanessa menggeleng keheranan. “Lo suka sama dia Kak?”             Aku tidak menjawabnya dengan suara ataupun gerakan kepala. Aku hanya mengangkat satu sudut bibirku membentuk senyuman satu sudut yang kata orang sulit diartikan apa artinya.             “Kalo dia memang suka sama lo juga Kak, harusnya pas lo lulus itu, dia ngasih lo kado. Malah yang kasih lo kado bukan dia, tapi siapa tuh namanya? Me—Mi—Ma—entah siapalah namanya cewek itu.”             “Metha,” aku mengoreksinya.             “Nah itu! Bukannya Si Cewek Atom itu yang ngasih!”             “Namanya Lyssa, Nes,” ralatku, “Alyssa.”             Vanessa masih mengamati fotoku dan Lyssa itu sampai akhirnya Vanessa memberikan bingkai foto itu padaku, “Iya, Alyssa. Dia nggak kasih lo kado kan pas lo lulus. Ataupun pas lo wisuda, apa dia dateng? Apa dia nampakkin dirinya pas lo wisuda itu?”             Aku meletakkan fotoku dan Lyssa di tempat semula dan tersenyum kecil. “Gue sengaja kok nggak kasih tahu kalau gue lulus dan kapan gue wisuda ke dia.”             Kali ini, Vanessa bingung karena ucapanku. “Sengaja? Emangnya kenapa lo kayak gitu Kak?”             Aku mengangkat bokongku dari tempat tidur dan berdiri. “Lo kepo banget? Bangun yuk, gue laper nih.”             Vanessa mengedikkan bahunya karena sudah pasrah dengan kalimat terakhirku. Dia pasti sebal memiliki kakak yang menyebalkan sepertiku. Tapi aku beruntung memiliki adik seperti dirinya yang mampu meladeniku. —————————             Suasana makan siang hari Sabtu ini cukup seru menurutku. Entah apa yang dipikirkan oleh ketiga adikku yang memang biasanya sudah jarang melakukan ritual makan siang seperti ini lagi bersama dengan Mama. Maklum saja, Mama sibuk mengurusi Coffee Cafe—kedai kopi yang sudah merambat menjadi restoran juga—miliknya sejak beberapa tahun lalu.             “Vin, kamu entar di Jakarta udah tahu tinggal dimana?” tanya Mama.             “Udah Mam. Aku kan udah beli rumah yang lagi aku cicil sekarang ini. Rumahnya yang aku pernah kasih lihat Mama itu loh, yang di Jakarta Barat,” jelasku, “Rumahnya baguskan?”             Mama mengembuskan napas sedikit kesal sepertinya dengan penjelasanku. “Bukan masalah rumahnya sih Vin. Cuma kamu yakin emangnya mau tinggal di rumah burung itu? Maksud Mama, rumahnya itu loh kecil banget buat kamu.”             “Di Belanda unitku juga nggak sebesar kamar tidurku di rumah ini kok Mam,” balasku.             “Vin, adik kamu sekalian mau tinggal bareng kamu loh. Victor diterima kerja di Philantrophy Construction. Bisa-bisa dia tepar kalo kerja pulang-pergi Jakarta-Bandung tiap hari. Mama rencananya pengen kamu sama Victor ini tinggal bareng aja.”             “Bagus kok. Nggak masalah. Victor juga tahu rumahku kan?” tanyaku, sambil melihat Victor yang duduk disebelah Valent, yang ada di hadapanku.             Victor mengangguk setuju dengan usulan dan ucapanku barusan tadi. Sementara Mama hanya geleng-geleng nggak keruan karena kelakuan dua anak bujangnya ini mungkin. “Lagian Mam, kalau rumahnya gede-gede siapa yang mau beresin? Udah tahu, anak Mama ini bujangan semua. Kalo nyewa pembantu berat juga tanggungannya buat aku atau Victor nantinya,” kataku untuk membela.             “Makanya kamu cari istri dong Vin,” timpal Mama berikutnya. Detik berikutnya Vanessa dan Valent batuk-batuk, sepertinya karena tersedak dengan ucapan Mama. “Tuh, adik-adik kamu aja sampe keselek gara-gara kamu masih bujangan. Nyadar umur kamu berapa nggak sih, Vin?”             “Duapuluh tujuh kok Mam,” jawabku.             “Masih bisa jawab? Seenggaknya kalau kamu nggak mau nikah, kamu punya pacar dulukan nggak masalah. Ini pacar aja Mama nggak pernah lihat! Kamu tuh suka laki-laki atau perempuan sih?!”             Kali ini aku yang tersedak karena ucapan Mama. Pertanyaannya itu semacam majas retoris, yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Namun, ucapan Mama sungguh-sungguh mematikan ketika membahas hal mengenai ‘pacar.’             “Kamu tuh, tahun depan udah duapuluh delapan tahun, Vincent! Nyadar nggak sih kamu kalau temen-temen SMA kamu banyak yang udah nikah? Tiap kali ada paket buat kamu giliran dibuka sama Mama isinya pasti undangan nikah dari temen kamu mesti.”             “Diundang mulu Kak, sekali-kali elo dong yang ngundang,” desis Valent. Adikku yang paling kecil itu memang tak banyak bicara, tapi sekalinya nyeletuk suka bikin naik darah.             “Sebenernya mah dia juga naksir cewek Mam, udah luamaaa banget,” tukas Vanessa yang duduk disebelahku. “Ceweknya udah jelas suka sama dia. Tapi dianya yang sebagai cowok sendiri malah nggak nunjukkin terang-terangan kalo emang demen. Eh ya udah deh, keburu lulus, terus ceweknya nggak tahu kalo dia suka disukain juga sama anak sulung Mama ini.”             Mama berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku, “Kamu itu anak siapa sih Vin? Emangnya Mama ngajarin kamu jadi jelly atau pudding ya waktu kamu masih kecil? Masa bilang suka aja susah banget?”             Aku mengutuki diriku sendiri karena memilih makan siang dengan Mama. Acara makan siang ini malah jadi ajang sudut-menyudutkan aku yang katanya Vanessa nggak gentle sebagai seorang pria. Memangnya aku kurang gentle dibagian sebelah mananya sih?             “Ini dari bahas rumah kenapa jadi merambat ke masalah pribadi ya Mam?” balasku capek karena dengan acara sudut-menyudutkan ini. “Intinya, aku sama Victor tetep tinggal di rumah yang udah lagi aku lunasin. Masalah Mama sama Papa suka atu nggak, yang penting rumah itu aku beli atas usaha dan kerja kerasku sendiri. Mama sama Papa nggak perlu khawatir oke?”             Akhirnya berakhir jugalah acara makan siang yang menegangkan itu. Adrenalinku teruji—sangat teruji—karena sedikit-sedikit Mama masih saja membahas mengenai anak-anak temannya yang beginilah, begitulah, dan sebagainya. Lama-lama aku bisa kena sindrom anti rumah kalau begini terus.             Aku kembali masuk ke dalam kamarku, dan Victor mengetuk kamarku untuk masuk ke dalam kamarku beberapa menit kemudian.             “Kenapa Vic?”             “Nggak apa-apa sih Kak, cuma mau bilang welcome home and thank you mau nampung gue di rumah lo itu,” katanya dengan cengiran.             “Anytime,” balasku, “Santai aja sih Vic. Gue juga mikir bakal sepi banget kalo gue tinggal sendirian di rumah itu.”             “Ajak cewek itu aja sih Kak?” tanya Victor sambil menunjuk pada fotoku dengan Lyssa yang ada di atas nakas. “Apa karena cewek itu makanya lo masih kayak bujang lapuk?”             “Mentang-mentang situ baru lulus kuliah, main ngatain yang udah tua ya?” sindirku.             “Just saying the fact that I know. Kak Allan sendiri yang pernah bilang kok ke gue kalo Kakak sebelas-duabelas sebenernya sama dia.”             “Maksudnya?”             “Kak Allan itu kan pacaran, tapi nggak ada yang tahu siapa pacarnya. Tapi kalo Kakak sendiri suka orang, tapi nggak bilang-bilang ke orangnya. Gimana sih? Apa bedanya coba? Yang satu nutupin kenyataan, yang satu bohongin diri sendiri. Sama-sama nggak gentle.”             “Lo kayak nenek-nenek lagi nasehatin cucunya aja Vic?”             Victor tertawa lepas akhirnya setelah mendengar ucapan terakhirku. “Iya terserah lo deh Kak. Gue doain yang terbaik aja supaya lo bisa bahagia ya.” Victor melangkah dari tempatnya berdiri dan berjala menuju pintu kamarku untuk keluar.             “Lo mau ke mana Vic?”             “Nemuin pacar guelah. Emangnya elo? Weekend cuma sama bantal guling?” katanya.             Sialan dasar adikku yang satu itu! —————————             Aku jadi teringat akan kejadian dimana Lyssa gelagapan saat bertemu denganku di tempat makan. Dia sedang makan bersama Luna dan temannya, Sasa waktu itu. Katanya, mereka baru saja selesai membagikan sertifikat dari Faculty Day, pertanda bahwa Lyssa dan Sasa sudah lulus dari acara rutin fakultas itu.             Dia sedang membaca novel, kala aku mendatangi meja makan mereka. Aku bisa melihat pipinya memerah seketika, apalagi Luna yang memang iseng itu terus saja menggodai Lyssa dan diikuti pula oleh Sasa yang meledeki Lyssa, sambil membawa ponselnya lalu memfotoku dan Lyssa.             Saat itu aku sedang bersama Ferdi. Bahkan Ferdi yang notabenenya selalu baca buku itupun akhirnya berkomentar kalau pipinya Lyssa merah. Sangat merah. Akhirnya akupun tak berani mendekati Lyssa karena takut dia malah tambah merah lagi.             Drrt... Drrrt...             Aku merasakan ponselku bergetar di dekat nakas. Melihat siapa caller ID yang terpampang disana.             Allan Tanujaya.             “Halo? Kenapa Lan?”             “Iya, ini gue. Ngomong-ngomong lo lagi ngapain?”             “Lo ngapain telepon gue, Bego?! Telpon tuh pacar lo kali. Nelponin gue.”             “Aileen lagi ada acara keluarga di luar kota. Gue tahu lo nggak ada yang nelponin kan? Makanya gue berbaik hati nih gangguin lo.”             “Langsung aja ke inti topiknya kenapa lo telpon gue?”             “Denger Fame FM nggak lo dari Bandung? Ada Lyssa nih jam segini lagi siaran. Biar lo nggak sumpek aja di kamar sendirian, di saat adik-adik lo lagi pacaran, malem mingguan, atau belajar yekan?”             Kampret juga orang yang satu ini. Tapi aku mulai mendekati radio yang sudah lama ada di kamarku. Entah masih berfungsi atau tidak, tapi aku berusaha mencoba untuk menyalakannya. Untung saja, menyala, sehingga aku bisa mencari siaran Fame FM.             “77.87 Fame FM radio, your famous radio tuner. Kembali lagi dengan gue, Ara Alyssa, dengan satu lagu yang baru saja di putar. Ada yang bisa tebak lagu apa barusan? Hmm... itu lagu lama pake banget dari tahun 1970, yang dipopulerkan oleh The Carpenters dengan judul Close To You. Seperti yang biasa gue bilang, love songs never die, begitulah lagu ini, walaupun udah tua umurnya tapi masih diputer dan enak buat didengar. Setuju? Setujulah ya pastinya.             “Oke, next song will be about memories and photo. Ada yang bisa tebak? Sekmennya sih Famoldsic, tapi sekali-kali kita dengerin lagu baru yang juga jadi soundtrack di film Me Before You. This is Photograph from Ed Sheeran. So check this out!”             Aku mendengarkan suara Lyssa yang sedang melakukan siaran radio itu. Dari nada biacaranya, dia memang terlihat bahagia dengan apa yang sedang dilakukannya. Dengan pekerjaannya.             “Woi, Vin! Telpon gue jangan lo anggurin gini juga dong! Gue buang pulsa mahal kali!”             “Lan, gue mau ketemu dia boleh kan?”             “Sampai mati pun lo nggak boleh ketemu dia.”             “Kenapa emangnya? Apa salahnya gue mau ketemu sama dia lagi?”             “Lo udah cukup dengan nyakitin dia satu kali. Satu kali. Dan lo mau nyakitin dia buat kedua, ketiga kalinya lagi? Apa lagi yang lo mau lakuin ke dia sih, Vin?”             “Gue nggak akan sakitin dia Lan. Dan kalaupun gue yang harus sakit hati kali ini gue nggak masalah. Biar gue yang sakit kali ini.” —————————
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN