Bab 31

1209 Kata

“Mas Raga?” Lintang baru saja membuka pintu kamar, ketika melihat Raga tepat berdiri di depannya dengan tangan yang terangkat hendak mengetuk pintu. Raga mundur satu langkah, sambil menatap Lintang dari ujung rambut hingga kaki. Safir benar, semakin hari, Lintang memang terlihat semakin menarik dalam kesederhanaannya. Lintang tidak pernah berusaha menarik perhatian Raga, dan cenderung bersikap asing jika tidak keperluan sama sekali. “Aku mau ajak kamu makan siang di luar.” Memang itulah tujuan Raga pulang ke rumah setelah penolakan Lintang tadi pagi. Lintang menghela, kemudian melangkah maju sambil menutup pintunya. Lintang sedikit menggeser langkahnya, lalu berjalan melewati Raga. “Bukannya aku sudah bilang nggak mau. Jadi, please, jangan maksa. Lagian, ada angin apa Mas Raga mendadak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN