Begitu pintu lift tertutup, tubuh Lintang spontan merosot lega. Berjongkok, dengan tatapan tertuju pada lantai lift yang terus berjalan turun. Sebenarnya, Lintang tidak ada masalah bicara dengan Raga di tempat yang terbuka, terlebih bila ada orang di sekitar mereka. Namun, saat membayangkan akan berada berdua di dalam lift yang tertutup, ingatan Lintang sontak berlari pada kejadian malam itu. Bagi Lintang, malam itu adalah malam yang sangat mengerikan. Melihat wajah Raga yang penuh amaran, ditambah dengan perlakuan kasarnya kepada Lintang, membuatnya merasa ngeri bila harus berada di satu ruang tertutup bersama pria itu. Saat denting lift berbunyi, Lintang segera bangkit dan bergegas keluar. Menarik napasnya dalam-dalam, lalu mencoba tersenyum untuk membuat mood-nya kembali tenang dan ce

