Bab 28

1215 Kata

Perasaan Raga mulai tidak enak ketika mobilnya berhenti di parkiran sebuah gedung tiga lantai. Dari papan nama yang tertera besar di sisi luar gedung, Raga akhirnya tahu ke mana tujuan Lintang siang ini. “Ini kantormu, kan?” Pertanyaan tersebut hanya untuk basa basi. Lintang tersenyum tipis sambil membuka sabuk pengamannya. Namun, sorot matanya tidak ia tujukan pada Raga. Sejak pria itu mengajaknya melihat rumah yang saat ini sudah ditempati mereka, Lintang memang menjaga jarak dan lebih banyak diam. “Ayo keluar, Mas.” Lintang keluar lebih dulu, dan meninggalkan Raga yang tampaknya masih tercenung di dalam mobilnya. Lintang menyapa satpam dengan ramah, pun dengan resepsionis yang bertugas siang ini. “Panggilin Mas Fajar dong, Mbak. Bilangin ada tamu, tapi jangan bilang tamunya aku.” Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN