Napas Lintang terbuang panjang, saat melihat jumlah nominal akhir yang sudah tercetak di buku tabungannya. Menahan senyum dan kegembiraannya, karena tidak ingin dikatakan norak oleh Maha. Tetap bersikap santai, seolah tidak terjadi hal apapun di hadapan mata. “Ehm.” Lintang berdehem sambil menutup lagi buku tabungannya. Memasukkan ke dalam tas, lalu menarik napas dalam-dalam. “Sudah selesai, kan?” “Sudah.” Maha menutup tas kerjanya setelah memasukkan semua berkas-berkas pentingnya. “Ayo makan siang.” “Nggak mau,” tolak Lintang sambil menutup resleting tas ranselnya, dan tetap membiarkan di pangkuan. “Aku mau ke rumah sakit.” “Jenguk papamu? Sekalian aja.” “Bukan.” Lintang menggeleng. Berdiri, lalu memakai tas ranselnya. “Aku mau besuk Rama.” “Rama? Anak mantan suamimu yang KDRT itu?”

