Bergabung dengan klan Subargja

1208 Kata
“Ayo duduklah ...," kata Andri Subargja mempersilahkan Bunga untuk duduk bersama di antara mereka bertiga. Bunga pun duduk dengan bibir yang masih terkunci. Kedua tangannya memegang erat tali tas jinjing yang sejak tadi ia pegang. Bahkan tangannya seakan terus berkeringat. “Ini Ardy ...," kata Andri mengenalkan secara resmi putranya. Bunga menatap ke arah Ardy yang tidak membalas tatap ke arahnya. Ardy tetap membuang mukanya. Ia tidak tertarik dengan Bunga. Baginya Bunga hanya bunga di tepi jalan yang dipungut oleh sang ayah. Untuk apa ia tertarik dengan bunga liar yang banyak berserakan di luar sana? Bunga menatap Ardy. Pria di depannya yang sesungguhnya sangat tampan. Bunga tidak pernah melihat pria setampan dan sekeren ini di kampungnya. Bahkan Suhendar, anak lurah kaya raya di kampungnya yang di gadang-gadang tampan dan paling rupawan di satu kampung dan kecamatan tidak berbanding dengan Ardy. Kulitnya yang indah layaknya wanita. Sepertinya Ardy menyukai perawatan kulit. Wajahnya pun tampan yang hakiki. Hidungnya mancung, alisnya panjang berjajar lebat dan hitam pekat. Bibirnya yang bagus maskulin di tambah dengan rahang tegas. Semua itu menjadi satu kesatuan yang membingkai pahatan dari sang maha pencipta untuk Ardy. Bunga sampai hampir menelan ludahnya ketika mengingat kalimat Andri Subargja yang mengatakan jika ia akan dinikahkan dengan anaknya, Ardy. Pria yang ada di hadapannya kini. “Ardy ...,” tegur Andri yang tidak menyukai sikap anaknya yang nampak acuh tidak peduli kehadiran Bunga. “Hm ...,” jawabnya berguman malas. Angela menyenggol lengan Ardy, agar Ardy dapat menjaga sikapnya. Angela merasa tidak nyaman dengan sikap Ardy. Ia pun takut jika suaminya akan murka kembali dengan sikap-sikap Ardy yang tidak jelas. Keputusan melanjutkan pendidikan di luar negeri, ternyata adalah keputusan yang salah. Sikap Ardy kini hampir semaunya dan sering membuat tuan besar di rumah megah ini murka. Karena ibunya sudah menyikut lengannya dan membuat kode dengan mengedipkan sebelah matanya. Ardy terpaksa bersikap sedikit peduli dengan kedatangan Bunga ke rumahnya. Ardy tersenyum walau terpaksa ke arah Bunga. Bunga tidak membalas senyuman Ardy. Ia malah menundukkan pandangannya ke bawah dan menatap ujung kakinya yang memakai sepatu butut dari kampung. Melihat Bunga yang tidak membalas senyumannya dan malah menundukkan pandangannya. Seakan tidak menghargai Ardy yang notabene adalah pria yang selalu di kejar-kejar wanita maupun pria. Ardy menggerakkan kembali senyum lebarnya yang tadi ke arah Bunga menjadi mengatupkan bibirnya. Bibir bagus itu rapat dan kembali menjual mahal sebuah senyumannya. Andri memperhatikan sikap anak semata wayangnya itu. “Ardy ...,” panggil Andri Subargja dengan suaranya yang berat dan tegas. “Iya Pi ...," jawab Ardy lantang. “Kita sudah membicarakan ini kan sebelumnya,” kata Andri Subargja mengingatkan. Ardy menghela nafasnya panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. Rasanya keputusan yang akan ia ambil ini adalah keputusan yang buruk dan salah. “Tidak ada pemaksaan ya di sini. Masih ingat kan apa yang sudah kita bicarakan?” tanya Andri Subargja sekali lagi. Ardy menganggukkan kepalanya lemah. Bunga sedikit berani untuk melihat apa yang terjadi di depan matanya. Di lihat dari ekspresi wajah Ardy sepertinya Ardy terpaksa. Entah bapak dan anak ini sedang membicarakan apa. Bunga tidak mengerti. “Ayo jawab. Papi ingin mendengar suara lantangmu. Katakan dengan jelas, iya atau tidak?” tanya Andri Subargja sekali lagi. Suara Andri terdengar nyaring, jelas dan tegas. Bahkan Bunga pun sampai terkejut dan sontak berdiri. Angela melihat ke arah putra satu-satunya itu. Anak yang selalu ia sayangi penuh cinta dan selau memanjakannya. Hingga Ardy tumbuh menjadi pria yang kurang mandiri dan terlalu kalem, menurut sang Papi. Angela mengedipkan kedua matanya, memberikan isyarat pada Ardy jika ia harus segara berucap dengan tegas dan menuruti apa yang di mau oleh Papinya itu. “Iya Pi! Aku mau! Ini semua demi Papi!” sahut Ardy dengan suara lantang dan tegas. Bunga yang mendengarnya sampai merasa jika ia sedang ada di tempat upacara bendera. Yang para pelaksana upacaranya selalu bersuara dengan lantang dan keras. “Tidak ada pemaksaan ya! Ingat!” kata Andri mengingatkan lagi dan lagi. “Iya Pi ... Tidak ada pemaksaan,” jawab Ardy tegas. “Setelah ini pernikahan kalian akan diadakan seminggu lagi,” kata Andri Subargja dengan penuh keyakinan. Keputusannya tidak dapat di ganggu gugat. Di rumah besar dengan pilar-pilar megah dan besar ini hanya Andri Subargja lah pemegang keputusan sejati dan paling hakiki. Bunga yang mendengar jika pernikahannya dengan Ardy, anak dari pemilik rumah besar ini akan dilaksanakan seminggu lagi, membuat Bunga terkejut. Mengapa keputusan pernikahannya sangat cepat? Dan pasti ibu dan Ridwan tidak dapat datang menghampiri. Bunga yang tiba-tiba saja teringat dengan ibunya dan Ridwan membuatnya semakin sedih. Hatinya tersayat. Harusnya pernikahannya berlangsung sakral dengan didatangi oleh dua belah pihak keluarga. Bukan seperti ini .... “Baik Papi ... Terserah Papi saja. Aku mengikuti Papi saja. Apa yang Papi putuskan untuk aku, maka itu semua adalah yang terbaik untukku,” kata Ardy yang sudah latihan berkali-kali untuk mengucapkan kalimat itu. Beberapa hari yang lalu, Angela datang ke kamar Ardy. Lalu memaksa menyuruh putranya untuk menghafal kalimat sopan dan so sweet untuk Andri, Papinya. Angela tahu, walau Andri terlihat sangat galak, tegas dan tidak menyukai sifat Ardy yang terkadang terlalu lembut . Sebenarnya Andri sangat menyayangi putra semata wayangnya itu. “Kamu tidak ingin di coret dari harta warisan keluarga kan?” tanya Angela di waktu malam. Ia menyelinap ke dalam kamar Ardy hanya untuk menanyakan hal itu dan menyuruh Ardy untuk menuruti semua kemauan Papinya. Ardy menggelengkan kepalanya cepat. “Tentu saja aku tidak mau di coret dari data warisan keluarga. Aneh. Kenapa aku harus di coret? Aku adalah anak satu-satunya. Harta dan aset Papi juga banyak. Jika bukan untuk aku, harta sebanyak ini di kemanakan?” tanya Ardy yang tidak percaya jika namanya akan di coret dari daftar penerima warisan, jika ia tidak menuruti apa kemauan Andri. “Harta dan aset sebanyak ini akan di sumbangkan oleh Papimu jika kamu tetap bersikap bandel, engga nurut dan terlalu moderen! Kamu tahu sendiri kan jika Papi mu itu masih kentel adat ketimurannya?!” seru Angela mengingatkan. “Iya aku tau Mi ... Tapi untuk apa harta sebanyak ini di sumbangkan? Aku kan satu-satunya anak dari keluarga Subargja. Aneh sekali Papi itu ...," sungut Ardy tidak mengerti dengan jalan fikiran Papinya. “Ya, karena kamu adalah anak satu-satunya dari keluarga ini. Itu semua menjadi beban berat untuk kamu! Apa lagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang ...," kata Angela sambil berdecak kesal. “Apa sih Mi ... kalo ngomong engga usah berbelit. Aku engga ngerti ...," gerutu Ardy yang juga merasa kesal. Angela menatap tajam ke arah putra satu-satunya itu. “Karena kamu tidak menyukai wanita. Kamu sukanya dangan si Dendi itu! Itu semua membuat Papimu malu! Karena berita kamu sudah menyebar dimana-mana. Anak semata wayang Andri Subargja seorang gay!” Ardy merapatkan bibirnya sejenak. Lalu beberapa detik kemudian mengumpat. “Sialan memang orang-orang engga ada kerjaan itu! Mereka malah menggosipiku.” “Karena itu, Papimu sedang memilihkan wanita untuk kamu nikahi dan memberikan keluarga kita keturunan dari benihmu!” kata Angela memberitahu. “Ingat! Diamlah dan turuti semua kemauan Papimu itu!” Suara Mami ketika malam itu masih terdengar di telinga Ardy. Ya, ia akan menuruti saja semua keinginan Andry Subargja. Ini semua demi harta dan asetnya. Ardy tidak ingin di coret dalam data penerima warisan keluarga. Kedua mata Ardy menatap Bunga yang lagi-lagi tak berani membalas tatapannya. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN