"Biar aku lihat," ucap Aland pelan sambil meraih pergelangan tangan Rheiny. "Ssshhh!" rintih Alesya saat Aland menyentuhnya pelan dengan ujung jari tangannya. "Berengsek!" umpat Aland murka. "Beraninya dia melukai dirimu!" ucapnya lagi kesal membayangkan Amar. "Maaf, andai aku ada di sampingmu tadi," Aland dengan wajah menyesal dan suara bergetarnya. Kedua hal itu membuat Rheiny bingung, alasan mengapa Aland harus sampai semarah ini. Padahal mereka bukan pasangan yang saling mencintai, melainkan pasangan yang terikat melalui sebuah kontrak perjanjian. "Tidak apa. Ini bukan salah Anda. Tidak ada yang menyangka, kalau mereka akan ada di rumah sakit juga," ucap Rheiny pelan dan tersenyum. Dia mencoba untuk meredakan amarah Aland. "Aland, Rhe!" gumam Aland. "Panggil aku Aland, bukan An

