Pertanyaan tentang mengapa ajudan Tio suka bergonta-ganti warna rambut tidak terjawab. Malah terinci jadi hal-hal lain di luar topik pertanyaan sederhana itu.
Ray dan Tio kembali ke perusahaan properti terbesar itu, Ray's Company. Namanya dibentuk bukan karena ada 'Ray' yang 'banyak' namun karena Ray sudah menganggap Yeye sebagai keluarganya, sebab sejak awal perusahaan itu dirintis 5 tahun lalu, Yeye sudah bergabung bersama Ray. Padahal Yeye banyak mendapat tawaran kerja dari perusahaan internasional luar negeri, bahkan sampai di perusahaan fashion terbesar di dunia. Yeye adalah lulusan terbaik di kampus yang sama dengan Ray, Yeye adalah adik tingkat Ray saat universitas. Mereka beda 4 semester.
5 tahun lalu, sebelum perusahaan Ray berdiri.
Ray sempat memikirkan akan membuat nama perusahaannya jadi RY Company, tapi Yeye menolak mentah-mentah keputusannya.
"Kau bodoh? Apa-apaan itu RY Company?!" seru Yeye yang saat itu sedang membuang dokumen-dokumen ajakan bergabung dari berbagai perusahaan dunia. Membakarnya.
"Ray dan Yeye." Ray mengusap wajahnya, berpikir keras.
"Hah?! Kau benar-benar bodoh ya?" Yeye tergelak, hampir saja dia kehilangan keseimbangan dan masuk ke dalam tong sampah dari drum bekas itu.
"Hah?! Aku melakukan ini demimu tau!" Ray berseru kesal. Dari tadi dia sudah menahan-nahan emosinya mendengar Yeye mengatakan dia bodoh. Jangan coba-coba menyebut Ray bodoh, dia paling alergi dengan sebutan itu-- lagi-lagi karena apa yang pernah terjadi di masa lalu.
"Hahaha kau tidak perlu membangun perusahaan atas nama kita berdua. Aku tidak ada niatan untuk jadi pimpinan perusahaan atau wakil perusahaan properti yang mau kau bangun, cukup jadikan aku sekretaris." Yeye mengatur nafasnya yang tersengal karena kebanyakan tertawa. "Atau orang-orang akan menganggap aku adalah istrimu karena nama perusahaanmu yang kau sombong-sombongkan pasti akan sukses besar itu, ada namaku di sana." Yeye duduk di samping Ray setelah selesai membereskan semua surat tawaran untuknya. "Kau pikir aku sudi jadi istrimu?" goda Yeye.
"Aku pun tak sudi punya istri sepertimu!" balas Ray kesal.
"Istri?!" Tio tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Padahal Ray dan Yeye tahunya Tio sedang mengikuti turnamen terbuka di China. "Sayang, jangan bilang kalau selama ini kamu mencintai Ray?" Wajah Tio berubah pucat, salah paham arti percakapan Ray dan Yeye tadi.
"Kakak Besar." Dram, laki-laki yang turun di mobil yang sama bersama Tio tadi, menepuk ringan bahu Tio. Dram adalah ajudan Tio. Ajudan yang dipertanyakan oleh Ray alasan kenapa rambutnya suka gonta-ganti warna. "Jika Kakak besar sebegitu patah hatinya, Dram akan mencarikan wanita untuk Kakak Besar."
Yeye langsung berdiri dari duduknya, melotot kesal pada Dram. "Coba saja kalau kau berani! Kucupot bola matamu itu!" ancam Yeye, menyodorkan dua jarinya di depan mata Dram.
Dram langsung mundur 3 langkah, takut pada Yeye. Hanya ada dua hal yang ditakuti Dram, ajudan Tio. Yang pertama adalah Yeye, perempuan yang sangat galak dan pernah membakar rambutnya. Kedua baru kakak besarnya, Tio. "Maa... maaf Kakak." Padahal usia mereka sama, tapi Dram malah memanggil Yeye dengan panggilan 'kakak'
Ray hanya tertawa kecil karena mendapat tontonan gratis yang menarik.
Yeye menghela nafas, memegang pundak Tio. "Kamu salah besar Sayang. Aku tak pernah sekali pun jatuh cinta pada laki-laki seperti dia!" Yeye mengacungkan telunjuknya pada Ray. "Walau laki-laki yang tinggal di muka bumi ini hanya ada dia, aku juga tak akan pernah memilih dia." Yeye langsung memeluk Tio, penuh kasih.
"Buchiiiin teroooos." Ray bersungut-sungut, kesal melihat kedua sahabatnya itu romantis-romantisan di depannya. Berpikir seburuk itu kah dirinya di mata Yeye? Adik tingkatnya sekaligus pacar sahabatnya itu?
Yeye menjelaskan semuanya pada Tio, walau sedikit lama karena Tio tak kunjung paham-paham juga. Untung saja Yeye cinta dengan Tio, kalau tidak Tio pasti sudah digampar Yeye, jadi orang kok bodoh kali.
Saat itu Ray baru saja balik dari proses perjalanan panjangnya setelah menyelesaikan 2 program magisternya dua tahun lalu. Keliling dunia untuk menjalin koneksi dengan orang-orang hebat, menjadi relawan, bekerja paruh waktu di perusahaan multinasional. Sekali-sekali Ray mengikuti kontes bela diri tertutup di dunia hitam, melatih fisiknya untuk siap menghadapi bahaya. Belajar dan mencari banyak pengalaman untuk membuka usahanya di dalam negeri.
Sedangkan Yeye baru saja menyelesaikan perkuliahannya untuk mendapat gelar magister. Berbeda dengan Tio yang setelah lulus sekolah menengah atas malah sibuk berlatih, menentang semua orang hebat di dalam kota, di dalam negeri, sampai akhirnya ikut banyak turnamen di luar negeri. Kalah berulang kali, Tio kembali berlatih keras sampai akhirnya menang dan menyandang gelar juara bertahan. Tio juga pernah terlibat dalam perang di negara tempatnya berada saat itu. Ditakuti oleh banyak pembunuh bayaran skala internasional. Tanpa direncanakannya, Tio sudah menjadi pemimpin mafia terbesar di negara ini.
Membahas bagaimana proses Tio menempuh semuanya sampai menjadi dia yang sekarang memang menarik, terlebih membahas tentang hubungan Tio dan Yeye.
Tapi cerita ini bukan kisah tentang mereka berdua. Cerita ini adalah tentang Ray, sahabat sepasang kekasih itu. Ini tentang bagaimana Ray, laki-laki tampan nan mapan itu terbentuk. Ini tentang Ray dan masa lalunya. Tentang bagaimana Ray bisa mendapatkan kekasih hatinya. Tapi hei, ini tidak akan menutup kemungkinan untuk menceritakan kisah Tio dan Yeye, masa lalu kedua sahabat terbaik Ray.
"Jadi kau akan memberi nama perusahaanmu apa Ray?" tanya Tio yang akhirnya mengerti jalan pembicaraan mereka, walau sedikit.
"Ray's Company."
Yeye dan Tio tercengang mendengar jawaban Ray.
"Ray's?"
Ray menganguk, tersenyum takzim. Menengadahkan kepalanya menatap langit biru dengan sedikit coretan putih yang bergerak. "Ray's itu adalah keluarga Ray." Ray tersenyum, menoleh pada Tio dan Yeye. "Kalian adalah keluargaku, aku ingin ada kalian di sana."
Yeye tersenyum senang. "Aku setuju. Terima kasih Ray."
Tio tidak bisa berkata apa-apa, langsung memeluk Ray dan Yeye. "Kalian yang terbaik, kalian adalah keluargaku yang terbaik."
"Kak... kakak!" Alona, adik perempuan Yeye yang masih duduk di bangku sekolah menatap kesal kakaknya itu karena tidak mendengar panggilannya dari tadi. "Mommy menyuruh kakak mengajak kedua om-om ini makan siang bersama."
Kening Ray terlipat mendengar perkataan adiknya Yeye. 'Om-om?!' bathin Ray berseru tertahan. 'Ooh lord! Aku baru 25 tahun! Huh!'
"Kakak, ayo makan siang bersama." Alona menarik tangan Ray, tersenyum senang.
"Bukankah tadi kamu memanggilku 'om'?" tanya Ray tak mau melangkah, memasang ekspresi cemberut pada Alona.
"Maksud Alona yang 'om' hanya om-om itu." Alona menunjuk Tio dan Dram.
Ray tertawa senang, mengelus lembut kepala Alona. Berbeda dengan Yeye yang kini memukul kepala adiknya. "Hei! Gak boleh gitu, lain kali kalau kamu banding-bandingin orang lagi Kakak gak bakal mau bantuin kamu belajar!"
Alona tertawa kecil, meminta maaf pada Tio dan Dram. Bilang hanya bercanda.
Selesai makan siang, Ray sudah berangkat duluan untuk mengecek gedung yang sudah dia beli dan kini sedang diperbaiki. Dram juga sudah balik lebih dulu, habis kenyang langsung pulang.
"Sayang."
"Ya?" Yeye menoleh pada Tio, tersenyum.
"Bagaimana kesehatan Alona?"
Raut muka Yeye langsung berubah masam setelah mendengar pertanyaan Tio. Itu bukan pertanyaan yang salah, hanya saja pertanyaan yang menyedihkan untuk diingat jawabannya.
oOo
Yeye melipat tangannya di depan perut, menyandarkan tubuh di pintu ruangan Ray. Memasang wajah kesal.
Tio langsung mundur, tidak mau berurusan dengan Yeye yang sekarang.
"Kau tau bahwa kau telah melakukan hal bodoh yang menghebohkan lagi?!" seru Yeye pada Ray, mendekatkan wajahnya ke wajah Ray. Menatap lamat-lamat mata Ray. Penuh tekanan.
Ray refleks mundur. "Kau sudah membaca beritanya Ye?" tanya Ray. Berita mengenai kejadian di hotel tadi dengan Cao.
Yeye menghela nafas. "25 media cetak dan online yang berbeda, serta video-videomu yang sudah tersebar berjuta kali, aku sudah melihat semuanya!"
"Ah, se-fans itukah kau padaku Ye?" canda Ray. Tio yang berdiri di belakang Ray menepuk keningnya. Dia saja sebagai suami tidak berani bercanda seperti itu pada Yeye yang sedang marah, dan ini si Ray bisa-bisanya melakukan itu dengan wajah tanpa dosa.
Yeye melotot kesal. Bukan Yeye namanya apa bila tidak main tangan-- rambut ajudan Tio saja pernah dia bakar karena kesal. Tio yang menyadari pergerakan Yeye langsung memegangi tangan Yeye, menggelengkan kepalanya. "Jika kamu menampar apalagi sampai memukulnya sekarang, dia tidak akan bisa menemukan pacar hari ini karena sudah bonyok duluan."
Ray langsung mengendap-endap, mencari tempat bersembunyi. Ray tidak yakin Yeye akan termakan dengan kata-kata Tio, mana ada rumusnya Yeye bisa luluh kalau sedang marah.
Yeye mendengus kesal. "Jadi?" tanya Yeye melirik Ray.
Ray tercengang, Yeye benar-benar bisa luluh. Ray segera mengabaikan keluluhan Yeye. Ray mengusap wajahnya. "Apanya?" tanya Ray yang kini berdiri di balik pintu masuk-keluar.
"Kau pasti berbuat gila seperti itu karena ada alasan yang akan menguntungkan kau bukan?" tanya Yeye yang emosinya sudah sedikit reda. Yeye tidak ingin Ray sampai tidak mendapatkan pacar karenanya, sebab itu akan membuat pekerjaan Yeye semakin banyak, perempuan-perempuan fans-nya Ray terus meneleponnya sampai sekarang. Yeye tidak bisa untuk tidak menjawab telepon, takut ada telepon penting yang masuk nantinya jika dia mengabaikan semua telepon. Terlebih Yeye tidak bisa menebak panggilan yang masuk itu dari klien penting atau manusia-manusia tidak berguna itu.
"Haah..." Ray menghela nafas. Ray tau Yeye tidak bodoh seperti Tio.
Selama 20 menit Ray menjelaskan rencana dan tujuannya menerima undangan dari Cao di hotel. Yeye memasang wajah serius mendengarkan, sekali-kali mencoret catatannya. Berbeda dengan Tio yang setelah Ray bercakap tidak kurang dari satu menit, dia langsung keluar ruangan. Otak Tio panas mendengar kata-kata yang tidak bisa dicerna oleh otak kecilnya. Lama-lama di ruangan itu bersama Ray dan Yeye hanya akan membuatnya gila.
Yeye menutup buku catatannya, melirik jam tangan. "Ayo kita makan siang dulu." Yeye beranjak, mengajak Ray keluar.
Tanpa diajak dua kali, Ray langsung bangkit dari duduknya, ngekor di belakang Yeye.
Tio duduk di meja Yeye yang ada papan bertuliskan jabatan Yeye, Sekretaris.
Wakil direktur Ray's Company tidak pernah bekerja, jabatan itu hanya ada nama orangnya saja, siapa lagi kalau bukan Tio, atau yang lebih dikenal dengan nama lengkap Craderesse Naxotyo. Sedangkan bendahara Ray's Company, adalah lulusan universitas ternama di dunia, Ray mempercayakan pendapatan perusahaan pada bendaharanya.
Tio adalah pemilik saham terbanyak kedua di perusahaan Ray's Company setelah direktur utamanya yang tidak lain adalah Ray sendiri. Lagian saham juga hanya dimiliki oleh mereka berdua, 70% atas nama Ray, 30% atas nama Tio.
Tio lebih nyaman jadi bodyguard merangkap sopir dan asisten Ray yang menangani permintaan konsultasi yang sebenarnya hanya kerja sampingan bagi Ray untuk menaikkan nama perusahaannya-- walau pekerjaan menangani permintaan konsultasi itu dilakukan oleh Dram, ajuan Tio, Tio mana paham sama yang begituan. Tio hanya jadi perantara antara Dram dan Ray. Setelah Dram mengirim data permintaan konsultasi yang telah disaring dari kliennya Ray lengkap dengan profil berserta hal-hal tentang klien yang tidak diketahui publik ke Ray, Tio langsung mengirim ulang ke Ray. Tinggal terima-serah.
Yeye menggandeng Tio ke parkiran, mereka mau makan siang bersama hari ini. Ray yang berjalan di belakang mereka hanya menggerutu di dalam hati. Ray berpikir mereka sama sekali tidak menghargai sahabatnya yang sakit mata berjalan di belakang mereka, melihat adegan gandengan tangan itu.
Ray tiba-tiba kepikiran sesuatu, langsung menghela nafas lega.
oOo
"Sudah lama ya kita tidak makan di luar bersama seperti ini?" ucap Tio takzim.
Yeye tidak merespon, asik menyantap kepitingnya.
"Kau saja yang keseringan keluar negeri beradu tinju." Ray balas menjawab, nada datar.
Tio tertawa. "Kau kali, setiap diajak makan kau selalu menolak dengan urusan pekerjaan."
"Kau!" Ray berseru, tidak mau disalahkan. Hanya soal siapa yang tidak bisa menyempatkan waktu untuk makan bersama saja mereka ribut.
"Kau!" Tio berseru lebih kencang dari Ray, lebih tidak mau disalahkan.
Untung saja mereka duduk di kursi VIP. Ruangan kedap suara yang biasa digunakan oleh pejabat-pejabat atau agen negara untuk membahas sesuatu yang bersifat rahasia. Ruangan yang hanya bisa disewa oleh orang-orang berkasta tinggi. Tapi ruangan itu memang khusus disediakan hari ini untuk mereka bertiga, karena restoran mewah bintang 3 ini, adalah milik keluarga mafia Tio. Sejak banyak memenangkan kompetisi, Tio jadi sering bermain saham-- dan tentu saja ini karena saran Dram. Tio juga banyak membangun usaha-usaha yang menguntungkan. Lagi-lagi Tio mana ada pikiran sampai sana, apalagi sampai berpikir untuk investasi, membuka usaha, lihat angka saja otaknya udah puyeng duluan.
Yeye menimbuk meja, kotor sudah meja yang kena tangan Yeye, saus kepitingnya belepotan. "Kalian bisa berhenti ribut gak sih?! Udah ada makanan di meja malah sibuk debat gak jelas! Ayo makan!" Yeye kembali menyantap kepitingnya, sekali-kali melirik Ray dan Tio yang masih juga belum melanjutkan menyantap hidangan mereka. "Atau kalian mau aku yang habisin?" tanya Yeye menatap ngiler hidangan Ray dan Tio. Tanpa disuruh lagi, Ray dan Tio menyantap lahap makanan mereka, tak mau jatah mereka dihabiskan oleh Yeye.
oOo
Yeye melirik jam tangannya, kemudian melirik Ray dari balik spion mobil.
"Ada apa?" tanya Ray yang tau Yeye sedang melihatnya. Tio yang sedang mengemudi acuh tak acuh saja, karena dia sibuk mendengar langsung pertandingan gulat di radio.
"Kau tau ini hari apa?" tanya Yeye.
"Tau," angguk Ray.
"Tanggal?"
Ray kembali mengangguk.
"Kau jangan kira aku lupa ya!" seru Yeye tiba-tiba, mengeluarkan aura mencekam.
Ray menelan ludah, baru saja tadi dia bisa bernafas lega karena berpikir Yeye sudah melupakan kesepakatan mereka. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang, Yeye sepertinya benar-benar ingat soal perjanjiannya dengan Ray, Ray harus mencari pacar sendiri atau Yeye yang mencarikan.
Ray langsung memalingkan wajahnya, menatap pemandangan dari balik kaca mobil yang terus melaju. Pura-pura budek.
"Ray!" Yeye berseru kesal karena diacuhkan. "Batas waktunya malam ini! Kalau kau masih belum membawa perempuan yang bisa kau sebut pacar padaku, awas saja!"
"Aku sudah menemukannya kok," potong Ray yang masih memalingkan wajahnya ke jendela mobil, mendengus, bohong.
Tio mematikan Radio. Mulai tertarik dengan obrolan istri dan sahabatnya itu.