Tom meremas rambutnya, kepalanya langsung tertekuk, dia merasa sangat menyesal atas apa yang telah diperbuatnya 2 tahun yang lalu. Seharusnya dia sekarang tidak sedang berada di restoran mewah, ruang VIP, menikmati fasilitas kelas atas, bahkan sampai menjadi kandidat utama gubernur periode selanjutnya, dipandang baik oleh masyarakat. Saat ini, hari ini, detik ini, seharusnya Tom mendekam di penjara, menebus dosa-dosanya sebagai pelaku pelecehan seksual dan pembunuh.
Namun liat! Jabatan dan uang membuatnya bisa hidup tenang, tak perlu memikirkan perbuatan hina dan tercela itu. Hukum itu murah sekali bayarannya jika kamu punya uang dan jabatan.
Ini memang skandal yang buruk, sangat buruk malahan. Jika publik mengetahui ini, di detik itu juga, hilang sudah kepercayaan masyarakat pada Tom. Tom dan Ray sama-sama tau dampak tersebut.
Lantas, apa hubungan skandal yang dipunya Tom dengan Najwa? Adik tirinya? Sederhana. Wanita yang telah diperkosa Tom, dibunuhnya, adalah kakak kandung Najwa, wanita yang dibunuh Tom itu adalah adik tiri Tom sendiri. Satu tahun setelah kejadian itu, mama Tom menikahi papa Najwa. Tanpa Najwa dan papa nya tau, bahwa kakak dan anak mereka dibunuh oleh calon keluarga baru mereka sendiri.
Dan Najwa baru mengetahui kebenaran itu dari rekan artisnya yang pada malam 2 tahun lalu, berada di bar itu, tepat di hari papa kandung Najwa meninggal dunia, rekan artis Najwa keceplosan menyebut kejadian 2 tahun lalu itu saat melihat Najwa kehilangan papa nya.
"Na, baru 2 tahun lo kehilangan kakak lo yang dibunuh dengan mengenaskan oleh keluarga tiri lo sendiri, dan sekarang lo sudah harus kehilangan papa lo. Hidup lo berat banget ya Na."
Najwa kaget mendengar kalimat dari rekan artisnya itu, perempuan 27 tahun yang juga anggota teater milik Najwa. "Sa, kakak gue dibunuh?"
Sany menoleh ke Najwa, langsung menutup mulutnya. Keceplosan.
"Sa! Maksud lo apaan!?" seru Najwa panik, mengguncang-guncang tubuh Sany. Anggota teater yang lain menatap kedua perempuan yang nampak sedang bertengkar di atas gedung latihan itu.
Hari itu Sany menceritakan semuanya pada Najwa, sedetail-detailnya. Sany masih mempunyai potret tubuh kakak Najwa yang bersimbah darah tanpa busana dan punggung Tom, kakak tiri Najwa dengan wajah pucat basi di bawah redup lampu, yang diambilnya diam-diam malam 2 tahun lalu itu.
Najwa terdiam melihat foto itu, tak bisa berkomentar apa-apa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Najwa selama berminggu-minggu.
Apa Tom tau siapa keluarga dari wanita yang sudah diperkosa dan dibunuhnya? Jelas dia tau. Bahkan saat mamanya memperkenalkannya dengan papa Najwa, dia langsung pucat basi.
Apa mama Tom tau apa yang sudah diperbuat putranya? Siapa keluarga dari wanita yang sudah dibunuh oleh putranya? Jelas dia tau. Bahkan ia tak merasa bersalah sedikitpun sebab telah menyembunyikan fakta menyedihkan itu dari suaminya, orangtua dari wanita yang telah diperkosa dan dibunuh oleh anaknya sendiri.
Bagaimana dengan istri Tom, wanita yang akan dinikahi Tom 2 hari setelah pembunuhan itu? Apa dia tau? Tidak. Wanita itu sampai sekarang tak tau hal keji yang sudah diperbuat suaminya.
Ruangan 4×4 itu masih lengang, suhu AC tetap sesuai, aroma harum bunga tak tercium lagi, mungkin membayangkan kejadian itu, menipiskan indra penciuman Ray dan Tom. Air putih di atas meja tetap dalam posisinya, tak bergerak sedikit pun.
Tom menghela nafas, kedua tangannya sudah memegang kepala sejak tadi. Tertunduk. "Bagaimana ini Tuan Ray?" tanya Tom mulai panik sendiri.
"Jika Anda setakut itu, lebih baik Anda mengundurkan diri saja Tuan, Anda juga bisa menjelaskan semuanya pada adik tiri Anda, dan menyerahkan diri secara baik-baik pada polisi." Ray tertawa kecil, menganggap enteng permasalahan ini agar lawannya tidak terlalu tertekan. "Tapi tentu tak bisa semudah itu bukan? Ini hanya penyelesaian yang bisa dilakukan orang awam."
Tom mendongkak, menatap Ray, bingung dengan maksud perkataan Ray.
"Semua kriminalitas tidak melulu diselesaikan dengan kurungan penjara Tuan Tom. Karena pemikiran seperti itulah, para pejabat tidak takut korupsi, sebab jika ketahuan, mereka hanya akan masuk penjara, dan itu hanya kedok, aslinya mereka tinggal di ruangan mewah bak hotel bintang 5. Besok-besok, mereka tetap akan korupsi lagi. Pun dengan permasalahan Anda ini Tuan, Anda merasa bersalah sampai sekarang bukan? Saya melihat perasaan itu di diri Anda. Jika aib itu terbuka, kepercayaan pada Anda akan langsung pudar, sisanya, Anda dicap buruk oleh publik. Tak hanya karir politik Anda yang hancur, bisnis dan keluarga Anda juga akan berantakan, semuanya hanya soal waktu, Tuan. Jika istri Anda tidak terima perbuatan Anda, hanya soal waktu pula, dia akan meminta cerai, minggat dari rumah. Dan mungkin mengambil hak asuh anak. Finally? Hidup Anda berakhir."
Tom kembali menghela nafas, memperbaiki posisi duduknya, meneguk air putih yang ada di atas meja sampai habis.
Jeda beberapa detik, akhirnya Tom mengangguk. Semua yang dikatakan Ray benar, Tom jelas sudah memikirkan dampak itu. Karena itulah, dia meminta jadwal pertemuan dengan Ray, konsultan politik ternama di negeri ini, yang diakui banyak pejabat dan pimpinan penting negara lain.
oOo
Dram langsung membukakan pintu mobil saat melihat Ray keluar dari restoran, bersalaman dengan kliennya.
"Langsung ke perusahaan Tuan?" tanya Dram yang sudah duduk di bangku kemudi.
Ray mengangguk, melirik jam tangannya, langsung meraih telepon, menghubungi Yeye, memastikan Yeye tetap berada di perusahaan sampai dia datang.
"Bagaimana pertemuan tadi Tuan?" tanya Dram berbasa-basi, setelah Ray menutup telepon, selesai menghubungi Yeye. Memang benar si keling ini orangnya suka ingin tau urusan orang lain.
Ray melirik Dram dari balik kaca spion, tersenyum kecut, menghela nafas. "Lancar."
Dram mengangguk, tidak lagi bertanya. Bukan itu jawaban yang diharapkan Dram dari Ray, ajudan Tio itu ingin mengetahui semua hal yang terjadi di dalam restoran tadi, tapi dia segera sadar, dia tak punya hak untuk bertanya, dan Ray juga nampak tidak tertarik untuk bercerita.
"Hari ini tidak ada permintaan konsultasi lagi Tuan, setelah sampai di perusahaan nanti, apa perlu saya menunggu Tuan dan mengantar sampai ke apartemen?" tanya Dram langsung mengalihkan topik ke pekerjaannya.
Ray menggeleng ringan. "Kau berikan kunci mobil padaku setelah sampai di perusahaan nanti, dan kau bisa pulang. Aku bisa menyetir sendiri setelah ini."
Dram mengangguk. "Baik Tuan."
oOo
"Apa kabar suamimu di sana Ye?" sapa Ray berjalan mendekat ke meja Yeye.
Yeye menghentikan pekerjaannya, mengangkat bahu. Tidak tau. "Dia hanya menghubungiku saat baru selesai mendarat, setelah itu tidak ada kabar lagi." Yeye mendengus, memikirkan suaminya yang sedang asik mengadu kekuatan di luar sana. Kenapa laki-laki suka sekali mengadu otot? Huh.
Ray mengangguk, sudah tau Yeye akan memberikan jawaban seperti itu. Tio tidak sekali dua kali pergi ke luar negeri, menerima undangan pertandingan bela diri dan mengikuti kontes bela diri yang legal maupun ilegal, dia berkali-kali melakukan itu, bahkan dalam sebulan, ada sampai 20 kali laki-laki itu berpindah negara, mengadu kekuatan, mencari lawan kuat di seluruh penjuru dunia-- itu memang hobby-nya.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan padaku? Beban apa lagi yang akan kau jatahkan? Dan yang jelas itu tidak pernah ada di job listku." Yeye kini mendengus lebih kencang, setidak sukanya Yeye dengan hobby Tio, Yeye lebih tidak suka dengan Ray yang selalu memberikannya pekerjaan berat yang tidak ada di kontrak kerjanya.
Ray tertawa kecil. "Kau selalu berprasangka buruk padaku Ye."
"Itu bukan prasangka buruk, itu memang sudah tabiatmu. Menyusahkanku," gubris Yeye, mendengus kembali.
Ray mengabaikan Yeye yang sedang kesal. Menggeleng ringan, melangkah masuk ke ruangannya, disusul Yeye dari belakang.
"Mau kubuatkan kopi?" tanya Yeye masih berdiri di depan pintu.
Ray menggeleng. "Tidak perlu." Laki-laki berusia 30 tahun itu langsung duduk di sofa ruangan, bersantai.
Yeye memilih duduk di sofa pendek, membuka tab nya, memperbaiki kaca matanya, mengeluarkan catatan di dalam saku kemejanya, Yeye tau bahwa nanti Ray akan menyebutkan nama orang yang tidak dia kenal, Yeye perlu mencari info tentang orang itu, agar paham penjelasan Ray.
Ray tersenyum tipis melihat kesigapan Yeye, sekretarisnya ini memang sangat bisa diandalkan, walau Ray harus lebih dulu mendengar Yeye mengomel sebelum memulai pekerjaannya-- tugas tambahan yang sebenarnya tidak ada di job list Yeye.
"Ini ada hubungannya dengan pacarmu itu kan?" tanya Yeye langsung diangguki Ray.
"Kutambahkan, pacar pura-pura."
Yeye menghela nafas. "Terserah." Meletakkan tab nya di atas meja. "Jadi apa? Bukankah kau bilang hubunganmu dengan dia tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan? Itu berarti ada sangkut pautnya dengan pekerjaan sampinganmu itu? Apa namanya? Konsultan politik?" Yeye nampak tidak suka dengan status Ray sebagai konsultan politik, berkat status itu, Ray lebih banyak menyerahkan pekerjaan di perusahaan pada Yeye, laki-laki itu sibuk sendiri mengurus urusan pemilihan orang lain.
Ray tau itu, dia hanya tersenyum tipis. Hanya akan menghabiskan waktu meladeni ketidaksukaan Yeye pada pekerjaannya sebagai konsultan politik.
"Jadi kau akan menceritakan apa yang perempuan itu butuhkan darimu? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku tak perlu tau hal itu?" tanya Yeye menyelidik.
"Ah itu aku hanya bercanda. Kau jelas tau Ye, perempuan tak ingin rahasianya diketahui oleh perempuan lain, aku hanya menghargai perasaan Najwa saat itu."
"Kau menyebut namanya? Apa jangan-jangan kau benar-benar menyukainya?" tanya Yeye kembali menyelidik, kini terdapat raut muka sedikit bersemangat dari Yeye.
"Oh, kalau urusan itu, kau tak perlu tau sekarang Ye." Ray tertawa melihat Yeye mendengus untuk kesekian kalinya. "Kau sudah tau kakak tiri Najwa bukan? Aku tebak, sejak kau tau aku memutuskan dia menjadi pacar pura-puraku, kau sudah menelusuri sejarah dia dan keluarganya, mengetahui siapa orangtua kandung dan mama tiri perempuan itu serta catatan hidup keluarga tirinya dan perusahaan-perusahaan mereka sampai ipar besan dan segala macamnya."
Yeye mengangguk, sejak Ray masuk ke inti percakapan, Yeye sudah asik menaikkan turunkan jari telunjuknya di layar tab. Sesekali menekan layar, menscroll kembali. "Tentang kakak tirinya bukan? Aku tau dia sekarang bingung akan melanjutkan pencalonannya sebagai gubernur bulan depan atau tidak. Mengingat aib buruknya, kejadian di masa lalu yang memilukan dan tidak diketahui publik."
Pupil mata Ray membulat mendengar penjelasan Yeye, sudah menyangka Yeye akan tau sampai sedetil itu, bahkan sampai ke penyebab aib itu sendiri, terbukti dari ucapan 'memilukan' yang dilontarkan Yeye, bulan 'mememuakkan dan menjijikkan' karena setiap orang pasti berpikir bahwa berita pemerkosaan dan pembunuhan itu memuakkan dan menjijikkan, bukan memilukan. Walau sudah tau Yeye sangat a
handal, tapi Ray tetap masih terkejut, perempuan yang duduk di hadapannya ini benar-benar mengagumkan.
"Jadi ada apa? Perlu kau tau, kau bisa menyuruhku mencari banyak informasi dengan tingkat kesulitan yang tinggi sekalipun, atau menulusuri catatan hidup seseorang yang terisolasi dari dunia luar, tapi aku tak bisa menebak isi kepalamu selalu. Rencana licik apa lagi? Perlu kau garis bawahi, aku tak suka pekerjaan kotor." Yeye menjelaskan dengan intonasi tegas.
"Aku tak pernah memberimu pekerjaan kotor Ye, dan aku juga belum pernah menerima atau bahkan sampai melakukan pekerjaan kotor." Ray tersenyum tipis.
Yeye hanya diam, menyeringai kecil. Sahabat merangkap bosnya itu selalu bisa menjawab perkataannya. Dari dulu, sejak pertemuan pertama mereka di kampus. Liat? Dengan entengnya Ray ditambah sedikit wajah sombongnya yang memang sudah melekat di wajah tampannya itu, dia bisa memecahkan persoalan yang tidak bisa dipecahkan oleh Yeye bermalam-malam. Yeye benci pertemuan itu, walau diam-diam dia juga senang karena tugas kuliahnya selesai dengan baik dan dapat nilai sempurna berkat bantuan Ray.
"Aku membutuhkan bantuanmu Ye. Ini urusan penting, mendesak, menyangkut orang banyak, menyangkut media, juga... masa depan seseorang." Ray kini mulai serius, sorot matanya memperjelas itu.
Yeye mengangguk, tak bertanya urusan penting apa itu. Dia meletakkan kembali tab nya ke atas meja, mengambil catatan kecilnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja, memegang pulpen, memasang telinga tajam-tajam agar tidak melewatkan satu pun kata yang terlontar dari mulut Ray.
"Pertama, hubungi semua perusahaan berita dalam negeri untuk bekerja sama dengan kita, mau itu perusahaan mempunyai saham dariku atau tidak, hubungi semuanya. Bilang bahwa Tommy Noaminaka mengundurkan diri dari pencalonan gubernur, sebutkan bahwa dia terjerat skandal pembunuhan 2 tahun yang lalu." Yeye mengangguk, gesit mencatat poin penting.
"Kedua, tutup semua akses ke rumah keluarga Tommy Noaminaka." Yeye mengangguk pelan, jari-jari tangannya cepat dan lincah menulis.
"Ketiga, saat bersamaan dengan berita pengunduran diri Tommy, berikan publik konsumsi baru, terserah kau mau melakukan apa, entah menyewa artis ternama berselingkuh atau apa pun itu untuk membelah fokus publik pada berita Tommy Noaminaka. Dan terakhir... biarkan saja para reporter untuk menguak infomasi sebenarnya tentang skandal Tommy Noaminaka, kau tak perlu campur tangan mencegah mereka mengetahui fakta itu."
Gerakan tangan Yeye langsung terhenti sejenak. Dia kembali menulis, mencatat poin penting. "Bagaimana dengan nama pacarmu itu? Tak ada niatan untuk menutup skandalnya? Bukankah media mengatakan dia telah menghancurkan karir seorang aktor di tempat teaternya?"
Ray tersenyum tipis, menggeleng. "Itu urusan dia, bukan urusan kita." Ray langsung berdiri dari sofa, melambaikan tangan, meninggalkan Yeye yang masih duduk diam menatap tulisan di catatan kecilnya.
Yeye melirik punggung Ray yang sudah menghilang dari balik pintu, menghela nafas kecil. "Ujung-ujungnya dia tetap membiarkan fakta itu keluar, tak sedikitpun membiarkan namanya buruk di mata satu manusia. Kau orang terlicik yang pernah kukenal Ray. Walau aku tak bisa menepis bahwa itu memang bukan pekerjaan yang kotor." Yeye berdiri dari sofa, meraih tab nya, keluar dari ruangan Ray.
oOo
Kembali ke kejadian di restoran tadi.
Saat Tom akhirnya mengangguk mendengar semua penjelasan Ray tentang akhir dari pilihan Tom jika memilih mengundurkan diri dari pencalonan gubernur dan menebus dosa besar dan rasa bersalahnya di 2 tahun yang lalu.
Namun, bagaimana jika Tom memilih untuk tetap mencalonkan diri?
Ray tersenyum tipis mendengar pertanyaan Tom itu.
"Tentu bisa Tuan Tom. Sayangnya, saya merasa Anda tak punya mental kuat untuk melupakan kejadian 2 tahun silam. Anda hanya akan terus dan terus merasa dihantui, apalagi adik tiri Anda juga mulai membenci Anda bukan? Apa Anda tak merasa heran akan hal itu? Bagaimana jika adik tiri Anda sudah tau fakta itu? Di saat Anda terpilih sebagai gubernur, dan adik tiri Anda mengungkapkan semua fakta tentang Anda 2 tahun silam ke publik, apa yang akan terjadi? Anda dicopot secara tak hormat, publik semakin menjadi-jadi mencemooh Anda, meneror istri dan orangtua Anda, membuat kejadian itu membekas diingatan semua orang, mengingat gubernur mereka adalah orang keji, biadab, tak manusiawi. Karena saat itu, Anda adalah orang penting, bukan kandidat seperti saat ini yang mudah dilupakan."
"Sebaliknya, jika kebencian adik tiri Anda bukan karena dia tau fakta tentang Anda, malah itu hanya tebakan saya saja, atau hanya pikiran Anda saja. Ending cerita Anda akan tetap sama, seolah jika ini adalah sebuah novel, akhir hidup Anda tetap buruk, karena inilah takdir Anda yang sudah ditentukan oleh si penulis. Apa penulisnya keji?" Ray tertawa kecil, mencoba mengubah atmosfer ruangan yang nampak kelam. "Ehm, jadi masalah ini ada di mental Anda, Tuan Tom."
Tom mendongkakkan kepalanya, melirik Ray, menunggu penjelasan Ray tentang mentalnya.