"Ayas, bangun! Gus Ayas! Bangun. Jangan pergi!" Air mataku semakin deras walau sudah dihapus berulang-ulang. Tangisku semakin menjadi, melupakan fakta bahwa tangisan tidak akan mengembalikan nyawa seseorang. Yang terjadi, akan tetap terjadi. Dan yang sudah mati tidak akan pernah kembali. Perlahan, tubuh kaku itu memudar, menjadi butiran debu, lalu hilang tersapu angin. Tak ada lagi yang kumiliki. Selain hanya perasaan kehilangan. Kenapa semua ini harus terjadi padaku? "Ayaaaaaaaas!" Teriakan ternyata tidak bisa mengusir duka yang mendeka erat perasaanku. Ayas tiada, di tangan Asrul. Kenapa ini bisa terjadi? Aku merasa sesuatu yang dingin menepel di kening. Ada seorang yang sedang memijat kakiku. Dan seorang lagi mengusap-usap lenganku. "Sadar, Jea. Nyebut. Laailahailallah. Nyebut, ja

