1. Hari Pertama.

1102 Kata
1. Hari Pertama. 02 Mei 2016 "Setelah Alma lulus SMP, kita sekeluarga akan tinggal di kota. Papa sudah punya pekerjaan dan tempat tinggal yang layak di sini." Suara parau yang terdengar cukup berat berselimut kerinduan, usai tak bersua hampir lima tahun lamanya dengan istri dan juga kedua putrinya. Malam yang begitu kelam, tidak tampak bintang, hanya bulan dengan sinar yang tidak seterang biasanya ditambah angin sepoi-sepoi membuat Almahyra sangat menikmati malam itu. Setelah mendapat telepon dari Papanya untuk pindah ke kota membuatnya harus bersekolah pula di kota dan meninggalkan sahabatnya yang ada di kampung. Padahal ia sudah berjanji kepada sahabatnya untuk masuk ke SMA yang sama, namun janji itu hanya tinggal janji sekarang. Alma, nama yang dikenal oleh banyak orang. Sesuai namanya, Almahyra secara islami bermakna cerdas dan beruntung. Itulah salah satu alasan mengapa orang tuanya memberikan nama itu dengan harapan kelak ia akan menjadi pribadi yang cerdas. Juni 2016 Besok adalah hari pertama bagi Alma untuk masuk ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Papa nya sudah mendaftarkan nya di salah satu sekolah dekat rumahnya. Alma tidak memilih ingin bersekolah dimana, sebab ia tahu bahwa pilihan Papa nya adalah yang terbaik. Disaat Alma sedang mempersiapkan perlengkapan untuk sekolah besok, tiba-tiba handphone nya berbunyi pertanda pesan dari aplikasi BBM dengan notif yang khas. Rizki : Hy, semangat ya cantik buat besok sekolah di hari pertamanya. Ingat, di kota orang gaboleh cengeng lagi. Rizki, sahabat Alma, ya bisa dibilang kalau kemana mana pasti berdua. Mereka sudah bersahabat dekat sejak kelas satu SMP. Banyak yang mengira kalau Alma dan Rizki berpacaran namun pernyataan itu berhasil ditepis oleh kedua belah pihak. Tanpa pikir panjang, Alma pun membalas pesan dari Rizki, "Siaap kapten, kita harus semangat biar nantinya bisa masuk universitas impian bareng." Ting! Pesan yang dikirim Alma dibalas dengan emot love oleh Rizki. Alma tidak membalas lagi pesan yang dikirim Rizki, ia hanya tersenyum manis menatap layar ponselnya itu. "Gimana ya besok. Apa mungkin Aku akan memiliki teman dengan cepat?" gumam Alma sendiri sambil meratapi bulan yang tampak sendirian di langit. ??? Pagi menyapa dengan kicauan burung yang terdengar ramai di depan kamar Alma. Ya, burung peliharaannya memberi pertanda bahwa sudah pagi ditambah ketokan pintu yang terdengar sedari tadi. "Alma, bangun Nak. Hari ini kamu harus masuk sekolah."Terdengar suara Lastri, Mama Alma membangunkan di depan pintu. Pintu kamar yang terkunci dari dalam membuat Lastri hanya bisa mengetok pintu kamar agar Alma bangun. Di dalam kamar, Alma menyahut, "Iya Ma. Tiga puluh menit lagi Alma keruang makan." Gadis itu pun bangun dari tidurnya, mulai membereskan tempat tidurnya dan membuka jendela yang sudah dinantikan sedari tadi oleh burung kesayangannya. "Hai Jeckyy." Namanya Jecky. Burung beo itu sudah setahun bersama Alma. Itu pemberian dari Endi, Papa Alma yang memberikan itu disaat Alma berulang tahun sweet fourteen. Alma sangat menyayangi burung itu. Tiga puluh menit telah berlalu dan Alma sudah selesai mandi dan berkemas untuk sekolah. Setelah selesai, Alma menuju ruang makan untuk sarapan bersama Keluarganya. "Pagi ini Alma dan Sheryl diantar sama Papa ya, Nak."Pernyataan yang dilontarkan Endi memulai perbincangan. "Sekolah kak Alma dekat sama sekolah Adek kan, Pa?"tanya Sheryl, Adiknya Alma. "Iya dek deket kok. Nanti pulang sekolah Kakak jemput kamu." Jawab Alma sambil mencubit pipi Adiknya gemas. "Nanti pulang sekolah kalian berdua akan dijemput sama Om Udin."Lastri menambahkan. "Om-om Ma? Ih adek takut." Mendengar perkataan Sheryl membuat seisi rumah tertawa. "Gak kok, Om Udin masih muda dek. Kamu gaperlu takut ya." tambah Lastri Setelah semuanya selesai sarapan, Alma, Sheryl dan Papa Endi pun berangkat menuju sekolah. Tinggal lah Lastri bersama Bik Inah dirumah. Disepanjang perjalanan, Alma hanya mendengar celotehan Sheryl kepada Papa nya. Sheryl memang se cerewet itu di umurnya yang baru menginjak sembilan tahun. Teman-temannya disekolah dulu sering memanggilnya dengan sebutan ratu cerewet karena memang Sheryl se cerewet itu. "Kakak kok bajunya udah ganti gak kayak baju biasanya. Kok adek masih baju yang lama. Ini gak adil. Papa gak adil sama Adek. Ini salah."ujar Sheryl sambil melipat kedua tangan dan memanyunkan bibirnya. Alma tertawa kecil, pun menjelaskan secara detail kepada Adiknya itu karena jika ada satu hal saja yang tertinggal pastilah nanti Sheryl akan bertanya terus menerus sampai menemukan jawaban yang pas. "Kita sudah sampai di sekolahan Sheryl."Mobil Endi berhenti didepan sekolah berlantai tiga dengan bangunan yang cukup megah. "Alma mau ikut papa ngantarin Sheryl ke kelas, Nak?" Dengan nada pelan Alma menjawab,"Enggak pa. Alma disini aja." Papa Endi pun turun bersama Sheryl, "Dadah kakak cantik" ujar gadis kecil itu dengan kissbye yang diberikannya. Disaat Alma sedang sendiri didalam mobil, ia melihat banyak orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah. Namun pandangan Alma tertuju pada satu lelaki berseragam putih dongker yang sedang mengantar Adiknya yang bersekolah disana juga. Ini memang bukan penampakan yang luar biasa, namun di desanya dulu tidak ada seorang Abang yang mengantar Adiknya ke sekolah, yang ada Adiknya berjalan kaki dan dia bersama teman-temannya. "Seriusan ini tuh sosweet parah."tatap Alma kepada laki-laki itu. Gadis berlesung pipi itu terus tersenyum ketika melihat laki-laki sampai tidak menyadari jika Papanya sudah berada didalam mobil, "Eh jangan suka sama berondong." Alma terbangun dari lamunannya sendiri, "Heh Papa, gak lah." Mendengar jawaban Alma Papanya pun melanjutkan pernyataannya,"Kalau rajin agama, ya gapapa juga sih sama berondong." Alma tak menjawab lagi, hanya tersenyum manis dengan pipi yang sudah memerah karena ketahuan sedang melihat laki-laki. ??? Sesampainya disekolah Alma, Papa nya dengan sigap turun dan membawa Alma bersamanya. "Papa, sampai sini aja. Kan Alma udah gede jadi ga perlu diantar sampai ke lapangan,"ujar Alma. Mendengar perkataan Alma, akhirnya Endi memutuskan untuk tidak mengantar Alma menuju ke lapangan. Endi pun mencium kening putrinya dan tak lupa mengingatkan nanti ia akan dijemput oleh Om Udin. Alma berjalan menuju lapangan sekolah yang dari luar sudah terlihat sangat luas. Hari pertama masuk SMA sepertinya sama saja dengan hari pertama masuk ke SMP. Kegiatan MOS dihari pertama yaitu pengenalan sekolah. Kepala sekolah dan seluruh guru memperkenalkan dirinya ditambah pula dengan perkenalan anak OSIS yang sangat biasa saja menurut Alma. "Ini kok flat banget sih, ga se-asik waktu SMP."batinnya sendiri. Semua orang asik bersama temannya sedangkan Alma hanya sendiri. Alma yang perempuan cuek dan tidak mudah berbaur dengan orang lain membuatnya malas untuk memulai percakapan lebih dulu. Sampai akhirnya ada segerombolan laki-laki menghampirinya. "Lo orang yang baru tinggal disini ya?"tanya salah satu laki-laki. Alma tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki itu. Seketika tatapannya berubah menjadi sinis dan pergi meninggalkan kumpulan laki-laki itu. Belum jauh Alma pergi, tiba-tiba ia mendengar ucapan salah satu dari segerombolan laki-laki itu. "Wih ada incaran baru nih." -To be continued ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN