BAB TIGA

1568 Kata
"Bapak dan Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta. Sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja anda berada dalam posisi tegak. Dan pastikan juga sabuk pengaman anda terkait dengan baik. Atas nama Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan di kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!” Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Yogyakarta International Airports. As we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened. On behalf of The Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!" Rhea terbangun oleh suara announcement yang memberitahukan sebentar lagi pesawat yang ia tumpangi akan segera mendarat. Empat puluh menit perjalanan tak terasa berlalu sekejap dalam tidur singkat nya. Hamparan laut biru dengan ombak putih yang menggulung di dekat bandara sudah terlihat dari jendela. Dia segera memakai headset dan memasang sabuk pengaman nya kembali. Suara decit rem pesawat terdengar memekakan telinga. Beberapa teriakan anak-anak kecil memenuhi kabin pesawat saat rodanya mulai mendarat di aspal mulus Yogyakarta International Airport. Sekitar empat puluh menit waktu penerbangan, akhirnya sampailah mojang Bandung keturunan Belanda-Indonesia itu di kota yang kata orang selalu dirindukan ini. Tak sedingin Bandung dan tak sebising Jakarta. Murah senyum penduduk nya, sungguh suasana keramahan yang hakiki terasa di Kota Budaya ini. Tempat berkumpulnya ribuan orang menimba ilmu, memang sangat layak di sebut sebagai kota Pelajar. Yogyakarta memiliki banyak hal istimewa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Masih teringat terakhir Rhea menginjakan kaki di kota pelajar sekitar sepuluh tahun yang lalu saat tante Lydia menikah. Adik mamahnya itu sudah tinggal di Yogyakarta sejak ia masih SMA. Dia sengaja memilih sekolah di Yogyakarta karena baginya Jogja itu bukan hanya sebuah Kota, tetapi segala sudutnya sangatlah istimewa. Sayang pernikahan tantenya dengan seorang bule Perancis tidak berlangsung lama. Pernikahan yang baru berjalan selama tiga tahun pun harus kandas karena perbedaan prinsip. Tante Lydia belum dikaruniani anak dari pernikahan terdahulu. Padahal menurut Rhea, tantenya itu masih tergolong cukup muda dan berparas cantik di usianya yang ke 33 tahun. Untuk alasan agar cepat move on dari rasa sakit akibat proses perceraian yang lumayan memakan waktu panjang itulah sekarang tante Lydia membuka café sekaligus coffee shop di area sekitar kampus UBM. Dimana café dan coffee shop itu memang selalu ramai menjadi tempat tongkrongan favorit anak kampus untuk nugas atau sekedar hang out menghabiskan waktu bersama teman. Setelah mengambil tas yang berada di bagasi kabin, Rhea segera berjalan menuruni tangga pesawat menuju tempat pengambilan bagasi. Sembari menunggu koper keluar satu per satu, gadis berambut panjang itu segera mengeluarkan handphone baru yang sedari tadi dimatikan di dalam saku. Handphone itu merupakan hadiah kelulusan dari sang mamah karena Rhea mendapat nilai tertinggi se Kota Bandung. Sekitar dua puluh panggilan tak terjawab dari tantenya memenuhi daftar panggilan telepon. “Hhmm ... tante Lydia mungkin sudah menungguku dipintu keluar,” gumamnya dalam hati. Bergegas mengurus koper di area pengambilan bagasi, Rhea pun segera berjalan menuju tempat penjemputan kedatangan domestik. “Rheeea, Rhee!” teriak seseorang yang terlihat melambaikan tangan dengan membawa kertas bertuliskan RHEA MY NIECE di tangan satunya. Wanita berkaca mata hitam itu terlihat berlari kecil ke arah dimana Rhea berada. Perawakan tinggi sekitar 170 cm, berkulit putih dan berwajah cantik serta rambut panjang yang tergerai dengan cat pirang bak model itu dengan mudah Rhea kenali. Sesungging senyum terpancar di bibir, mojang Bandung itu pun ikut melambaikan tangan. “Tante Lydia! Tante.” teriak Rhea kegirangan saat melihat tantenya tidak terlambat menjemput. Padahal Rhea tahu, tante satu-satunya itu adalah orang yang paling suka telat untuk urusan jemput menjemput karena saking sibuk dengan segala pekerjaan nya “Ya ampun, keponakan tante ini udah gede aja. Kamu cantik banget Rhea, kamu apa kabar?” Lydia memeluk sembari melakukan cium pipi kiri dan kanan, senang melihat kembali keponakan satu-satunya yang memang sudah beranjak remaja. “Rhea baik tante, deeuuh tante juga awet banget cantiknya hihi.” Rhea menggoda sembari tersenyum. “Ah kamu ini bisa aja. Tante on time kan jemputnya? Kamu nggak nunggu kelamaan kan sayang?” Lydia khawatir jika sang keponakan sudah terlalu lama menunggu dirinya yang sempat terjebak macet beberapa kali dalam perjalanan. “Nggak kok tante, buat kali ini tante on time. Baru aja Rhea keluar dari ambil koper nih.” Rhea menunjukan koper-koper besarnya sembari tersenyum. “Hhmm syukurlah. Yasudah kita lanjutin ngobrolnya sambil jalan ke rumah ya. Eh by the way kamu laper nggak?” Lydia mulai merasa perutnya sedikit perih karena ia tidak sempat makan sedari pagi. “Ya lumayan laper si tante hehe,” Rhea tersenyum. “Nah kebetulan, kita cobain makan di resto temen tante yang baru grand opening kemarin didekat sini yuk?” ajak Lydia bersemangat. “Wah, ide bagus itu tant.” Rhea sembari menarik koper. Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat parkir dimana mobil Lydia berada. Kedua wanita itu tidak langsung kembali ke rumah, tetapi berencana untuk mampir makan siang di resto teman lama Lydia. Banyak obrolan didalam mobil antara tante dan keponakan itu. Kehadiran Rhea seakan membuat tante muda itu kembali bersemangat. Bagi Lydia, Rhea bukan hanya sekedar keponakan tetapi bisa dia jadikan teman juga. Teman curhat lebih tepatnya. Mereka berjibaku di tengah padatnya jalan Jogja-Wates yang dipadati kendaraan. Nampaknya cuaca kala siang itu terasa lebih terik dari biasanya. "Jogja udah banyak kemajuan aja ya tante? Sepuluh tahun yang lalu kayaknya nggak seramai sekarang." Rhea kagum melihat kemacetan di jalanan Jogja. "Hhmm itu kan sepuluh tahun yang lalu Rhe, pastilah sekarang banyak perubahan. Apalagi disekitar cafe tante sekarang beuuh udah kayak Malioboro jilid kedua. Ramenya kebangetan." jelas Lydia. "Hhmm jadi nggak sabar nih pingin explore Jogja." Gumam Rhea sembari tersenyum. "Boleh-boleh, kalau sama tante mah kamu bebas mau ngapain aja Rhe. Yang penting kamu harus selalu ingat tujuan kamu kesini apa. Jangan pernah kecewain mamah dan almarhum ayah kamu oke?" Lydia memandangi gadis itu dengan tersenyum. "Siap tante, pasti lah itu. By the way ini udah lumayan lama kok kita belum juga sampai si ke resto temen tante itu?" Rhea merasa perjalanan mereka sudah terlalu lama tetapi belum juga sampai ke lokasi tujuan. "Sabar sayang, bentar lagi satu tikungan didepan tuh kita sampai." Lydia tersenyum. Mobil berwarna putih itu melaju ke sebuah tikungan. Tak jauh dari situ, sebuah resto berkonsep back to nature milik teman Lydia telah terlihat. Tak sabar rasanya Rhea mencicipi kuliner-kuliner unik di Kota Gudeg itu. Setelah mobil terparkir, kedua wanita itu pun segera memasuki resto yang kanan kirinya diapit oleh bentangan sawah yang menghijau. Setelah menutup pintu mobil, tante dan keponakan itu segera memasuki bangunan berbentuk joglo besar. Semilir angin dari arah sawah langsung terasa menyejukan. Alunan musik gending langsung terdengar saat kaki mereka memasuki bangunan Joglo. Dari arah dalam, seorang wanita berpostur sedang menghampiri mereka sembari tersenyum. "Hai Lyd, nggak salah nih kamu mampir?" sapa wanita yang merupakan teman dari Lydia. "Hai San, iya nih. Maaf ya baru bisa mampir. You know lah ...." Lydia melepaskan pelukan sembari tersenyum. "Yeah i know, kamu kan orang sibuk. Bisa mampir ke saung sederhana kayak gini aja aku udah seneng banget. Eh ... ini keponakan yang kamu ceritain semalam itu?" Santi menatap Rhea sembari tersenyum. "Oh iya, ini keponakan aku. Baru nyampe di Jogja setelah sepuluh tahun dia nggak main kesini. Rhe, kenalin ini tante Santi. Dia pemilik resto ini." Lydia mengenalkan sahabatnya. "Halo tante Santi, saya Rhea. Salam kenal." Rhea tersenyum sembari menjabat tangan. "Wah kamu udah besar ya sekarang. Tante masih ingat waktu lihat kamu di nikahan tantemu. Dulu kamu masih dedek bule yang menggemaskan. Sekarang udah gede malahan makin cantik." Santi tersenyum tak henti-henti dibuat takjub dengan paras cantik Rhea. "Ah tante bisa saja. Makasih tant." Rhea tersipu malu. "Eh kok malahan masih berdiri aja. Ayok aku antarkan kalian ke spot yang paling istimewa di resto ini." Santi segera mengajak sahabat dan keponakan nya itu ke spot paling istimewa di resto. Sebuah saung kecil terletak di pinggir sawah. Hamparan padi menghijau terbentang seluas mata memandang. Dari kejauhan, pegunungan menoreh tampak berdiri kokoh menambah cantiknya goresan dari tangan agung Sang Pencipta. Suara gemericik air sungai yang tampak jernih menambah suasana asri semakin terasa. Santi memesankan menu spesial untuk sahabat lama yang telah menyempatkan mampir di resto yang baru di rintis itu. Obrolan kecil tak henti-hentinya bergulir di antara mereka. Hingga tak terasa, sejam lebih mereka larut dalam reuni kecil yang tidak terencana. Santi dan Lydia adalah sahabat lama dari SMA. Dia yang memperkenalkan Louis, mantan suami bule Lydia ketika mereka masih bekerja di perusahaan yang sama. Louis Abellard merupakan teman dari suami Santi ketika ia masih bekerja di perancis. Berita perceraian kedua nya sempat membuat Santi dan suaminya bagai tersambar petir di siang hari bolong. Merasa tak enak lebih tepatnya, karena mereka berdua lah yang mengenalkan Louis di kehidupan Lydia. Setelah mendengar penyebab mereka bercerai, Santi pun merasa sedikit lega karena Louis tak bisa setia dengan satu hati. Maka perceraian adalah solusi yang paling terbaik, walaupun mereka harus menjalani proses persidangan dengan berdarah-darah. Lydia pun meyakinkan sahabatnya bahwa ia akan baik-baik saja meskipun ia akan bercerai. Tetapi itu cerita tujuh tahun yang lalu, dan saat ini Lydia sudah bisa bangkit dari keterpurukan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN