Sejujurnya Kim tidak begitu yakin dengan wanita yang ada di depannya. Tapi karena istrinya menginginkan babysitter dengan cepat, dia pun langsung menerima Yoona sebagai babysitter di rumah ini. Anak terakhirnya membutuhkan pengasuh macam Yoona. Dilihat dari cara kerjanya Kim merasa puas. Karena di tangan Yoona anak terakhirnya tidak lagi rewel.
"Aku bilang apa. Dia adalah gadis yang baik, dia bahkan mampu menenangkan Kimberly." kata sang istri.
Kim memutar bola matanya, semua orang akan terlihat baik jika dia ingin. Dan akan terlihat jahat pula, jika dia ingin. Sama seperti Kim, dia bisa menempatkan sifat dimana keadaanya.
"Aku harus pergi ke kantor. Jaga anak-anak kita dengan baik." ucap Kim.
"Aku akan menjaganya dengan baik. Kau tenang saja."
Kim mengangguk ragu, dia harus pergi ke kantor karena pekerjaan. Tapi entah kenapa perasaannya meminta Kim untuk tetap di rumah. Seolah sesuatu akan terjadi pada kedua anaknya dan juga istrinya. Tapi pria tua itu langsung menepis perasaan sesaatnya. Mungkin hanya firasat sesaatnya saja, karena di rumah ini ada orang baru yang mengurus anaknya. Itu sebabnya Kim tidak langsung percaya, dan memiliki pemikiran yang buruk.
Sang istri yang tahu pun mencoba menyakinkan Kim. Jika semuanya akan baik-baik saja ketika Kim berada di kantor. Dia bahkan akan memasak makanan kesukaan Kim, ketika pria itu pulang nanti.
Kim menjadi tersenyum, dia pun mengecup kening istrinya dengan penuh sayang. Lalu meninggalkan rumah ini dengan perasaan yang tak karuan. Meminta satu atau dua anak buah Kim untuk menjaga rumah. Dimana Kim benar-benar tidak percaya dengan orang asing itu. Dia seperti mengenalnya, tapi entah dimana Kim lupa.
Meninggalkan dua anak dan istrinya. Hal itu malah membuat Andrea tersenyum kecil. Waktunya hanya dua puluh empat jam dari kemarin. Dan sepertinya dia sangat terlambat. Dia harus memastikan jika rumah ini tidak memiliki cctv, tidak memiliki anak buah dan juga orang lainnya.
"Hmm … Yoona aku harus pergi ke supermarket, dan anak-anak aku tinggal. Tidak masalah kan?" ucap Louisa tersenyum ramah.
Andrea tersenyum kecil dan mengangguk. Tentu saja tidak masalah. Dia akan mempercepat masalah ini, hingga akarnya. Pengkhianat tidak boleh lama-lama hidupnya.
Menatap kepergian Louisa, Andrea tersenyum kecil. Dia pun menggendong anak Kim yang bernama Kimberly. Lalu mengajak anak satunya lagi yang lebih besar untuk ikut dengannya. Sejujurnya Andrea tidak tega jika harus membunuh dua anak ini. Dan pada akhirnya Andrea hanya membawa dua anak itu untuk keluar dari rumah. Dimana semuanya akan berjalan dengan sempurna di mata Andrea.
"Suster kita mau kemana?" tanya bocah berusia lima tahun, yang saat ini tengah digandeng oleh Andrea.
"Kita pergi ke tempat, dimana kamu akan menyukainya." jawab Andrea malas.
"Dimana? Banyak mainan? Banyak teman?"
Andrea mengangguk kecil, dia pun terus menggandeng tangan bocah itu sampai menuju pinggiran jalan raya. Lalu menatap mobil besar yang berhenti tepat di depan Andrea. Tentu saja wanita itu langsung meminta satu bocah itu untuk masuk, dan setelah itu mendudukkan Kimberly di samping kakaknya.
"Kita apakan dia?" tanya salah satu pengawal Andrea.
"Antar ke panti asuhan. Aku tidak tega jika harus membunuhnya."
Orang itu tersenyum miring. "Aku pikir kau tidak memiliki hati nurani."
Andrea mendengus, lalu mengumpat. Menutup pintu mobil ini dengan keras. Setelah itu kembali berjalan meninggalkan jalanan ini dan menuju ke toilet umum. Rasanya Andrea sangat risih jika harus mengenakan pakaian dan juga make up, yang menurutnya sangat jelek ini.
Berhasil melepas semuanya, Andrea langsung membuang semuanya di tong sampah. Barulah dia keluar dari toilet umum ini. Dan betapa terkejutnya Andrea, ketika melihat Keano yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan toilet umum.
"Keano … " pekik Andrea kaget.
Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Andrea. "Hai … nggak nyangka ya bisa bertemu disini. Aku pikir …"
"Aku ada urusan sekitar sini tadi. Itu sebabnya aku disini. Kamu sendiri kenapa ada disini?"
"Aku sedang mencari seseorang. Tapi sepertinya dia sudah pergi."
Andrea tersenyum, dan meminta Keano melanjutkan pencariannya. Tapi yang ada Kenal malah meminta Andrea untuk menemaninya makan. Dia mendadak moodnya langsung hilang ketika bertemu dengan Andrea.
Dan entah kenapa hal itu langsung membuat Andrea tersenyum tipis.
"Baiklah. Aku temenin sebentar. Karena aku ada kelas siang." kata Andrea pasrah.
"Kalau begitu, ayo."
****
Ditemukan sebuah mobil meledak di jalan xxx, dua orang tewas dalam mobil dan tidak bisa dikenali.
Berita itu langsung membuat Andrea tersenyum kecil. Mematikan televisinya Andrea bangkit dari duduknya. Menatap Leo yang ternyata berdiri di belakangnya, dengan jarak yang tidak begitu jauh.
"Hai Pah … " sapa Andrea.
Leo tersenyum mengangguk lalu pergi begitu saja. Pria tua itu tidak seperti biasanya, yang dimana jika melihat berita seperti ini selalu merasa puas dan suka. Entah perasaan Andrea saja atau memang pria itu berubah. Andrea memutuskan untuk mengejar Leo, dan memastikan jika ayahnya itu baik-baik saja.
"Pah are you okey?" tanya Andrea memastikan.
Dan lagi. Pria tua itu hanya diam saja sambil memegangi kopi nya yang sudah dingin. Kopi itu tidak kembali mengepul, dan Andrea juga yakin seratus persen jika Leo paling suka dengan kopi yang masih mengepul atau hangat.
"Pah … " panggil Andrea kembali. "Jangan membuatku khawatir."
Barulah Leo menoleh menatap Andrea yang menunjukkan wajah takutnya. Walaupun dia ini dingin dan datar. Sejujurnya hal yang membuat Andrea takut adalah Leo. Andrea beranggapan jika dia tidak memiliki siapapun kecuali Leo, setelah ibunya meninggal. Itu sebabnya Leo sangat berarti dalam hidup Andrea.
"Siapa yang kau bunuh?" tanya Leo akhirnya mengusap lembut kepala Andrea.
"Kim. Aku membunuh pria itu bersama dengan istrinya. Meninggalkan kedua anak mereka ke panti asuhan." terang Andrea.
"Kau tahu siapa Kim?"
Tentu saja Andrea tahu siapa Kim. Dia adalah pria pemberontak yang saat ini bekerja dengan Braga. Menyembunyikan berlian merah incaran Andrea di suatu tempat. Tapi … tenang saja, berlian itu sudah ada di tangan Andrea ketika rumah itu meledak dengan sempurna. Ya sebelum Andrea membawa pergi kedua anak Kim, Andrea memasang bom digital di samping rumah yang menurutnya sangat aman. Mentimer cukup lama, karena berjalan membawa dua orang itu sangat sulit bagi Andrea. Itu sebabnya memiliki jarak yang lebih dari seratus meter, rumah itu langsung meledak.
"Berhentilah membunuh seseorang, Ea. Dendam kita hanya pada William, kau tidak perlu membunuh banyak orang yang tidak memiliki masalah dengan kita."
"Tidak Papa … aku tidak akan berhenti membunuh orang. Entah punya masalah atau tidak dengan kita, jika aku ingin aku akan membunuhnya."
Leo memijat pelipisnya pusing. Anak perempuannya ini sangat keras kepala. Tapi sebisa mungkin Leo meminta Andrea untuk berhenti menyakiti orang. Selain bisa membahayakan masa depan Andrea, apalagi dia ini seorang gadis yang dimana nanti akan berkeluarga juga. Leo hanya takut, jika Andrea terlalu dalam dendam dengan orang. Suatu saat juga jika dia kesal dan kalau dengan suami atau keluarga suami. Leo takut jika Andrea akan melakukan hal yang sama. Itu sebabnya Leo meminta Andrea untuk berhenti sejenak dan memperbaiki diri.
"Usiamu tidak muda lagi. Dendam boleh, tapi jika pada orang yang bersangkutan. Ea, Papa harap kamu mau mempertimbangkan ucapan Papa."
Leo bangkit dari duduknya dan memilih pergi. Meletakkan kopi dinginnya yang masih utuh di atas meja. Lalu menatap Leo yang berjalan menuju ke arah tangga, dimana letak kamar Leo sekarang pindah di lantai atas. Sedangkan Andrea sendiri hanya mampu diam saja di tempat, dengan tatapan kosong lurus ke depan.
Andrea mendadak pusing sendiri dengan ucapan Leo. Pasalnya Andrea ini masih kuliah, dan hidupnya juga masih panjang. Dimana Andrea harus memilih jalan hidup yang dia pilih. Memimpin anak buah, dan juga menguasai dunia. Tapi yang ada Leo malah memikirkan, suatu saat nanti Andrea akan menikah dengan seorang pria yang akan mengganti posisi dirinya. Dan nyatanya, Andrea berpikir jika dia tidak akan menikah seumur hidup. Setelah kehilangan Gracio. Pria yang dulu sangat berarti dalam hidup Andrea. Pria yang selalu ada di dekat Andrea, saat susah maupun senang Gracio selalu ada untuk Andrea.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat!! Disaat aku membutuhkan bahu untuk bersandar, dan kamu memilih pergi." gumam Andrea menarik nafasnya berat. Dadanya kembali sesak, jika dia mengingat sesuatu dalam hidupnya.
Gracio tewas ketika menyelamatkan kedudukan Andrea. Gracio berpikir jika memang Andrea adalah pemimpin yang pantas di periode ini. Gracio sempat mengalami krisis pasca penembakan itu. Tapi Tuhan berkata lain, jika dia mengambil Gracio di sisi Andrea.
"Cio … aku harap kamu tahu. Jika aku tidak akan pernah baik-baik saja saat kau pergi."
****
"Selamat pagi Uncle … selamat pagi Kakak Andrew." sapa seseorang yang langsung duduk di meja makan di keluarga Leo.
"Cinta … kamu kapan datang. Dan kenapa Ea nggak bilang sama Uncle." Leo langsung memeluk perempuan yang seusia Andrea dengan penuh hangat. Tak lupa juga mengenalkan Angel sebagai calon istrinya. Sayangnya mereka belum menikah, masih menunggu persetujuan Andrea dalam hal ini. Anak perempuannya itu sangat sulit diajak kerja cepat, jika masalah ini.
Cinta tertawa kecil dan mengangguk. Bahkan dengan sengaja dia pun mengecup pipi Andrew yang terus menunjukkan wajah cemberutnya.
"Apa!! Pergi!!" cetus Andrew.
"Dih … nggak berubah ya. Masih aja ngeselin dari dulu." cibir Cinta sambil mengibaskan rambutnya, ala-ala iklan shampo.
"Nggak sadar diri dia!!" cibir balik Andrew dan meneguk susunya.
Cinta cekikikan, dia pun langsung duduk di samping Andrew dan menatap seseorang, yang menurutnya sangat asing. "Dia siapa?"
Semua orang menatap ke arah tunjukan Cinta. Begitu juga dengan Andrea dan juga Josephine yang baru saja bergabung dengan mereka.
Dia adalah Angela, teman Mama Andrea yang sudah meninggal. Angela tinggal di sini, karena Leo ingin menikahinya. Tapi yang ada Andrea masih membutuhkan waktu untuk menerima Angela. Andrea sendiri masih belum bisa menerima Angela dengan gampang. Itu sebabnya Andrea masih membutuhkan banyak waktu.
Mendengar hal itu tentu saja langsung membuat Cinta marah. Dia bangkit dari duduknya, dan langsung menarik tangan Andrea untuk pergi dari meja makan. Sedangkan Andrea sendiri hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dimana Cinta menariknya sudah layaknya an-ji-ng.
Andrea menepis tangan Cinta dengan kasar, lalu menatap Cinta dengan tatapan jengahnya. Dia ingin sekali pergi dari hadapan Cinta. Tapi yang ada wanita itu terus menahan Andrea agar tidak pergi dari hadapannya.
"Kenapa sih? Kalau nggak penting, aku mau pergi!!" kata Andrea.
"Ini penting. Memangnya kamu siapa melarang Uncle menikah? Harusnya … "
"Aku anaknya kalau kamu lupa!! Cinta … aku membutuhkan banyak waktu untuk hal ini. Aku … "
"Diem!!" seru Cinta kesal. Pasalnya sejak tadi ketika dia berbicara, Andrea memotong ucapannya. Wanita itu bahkan tidak ingin mendengar sedikitpun yang dikatakan oleh Cinta.
Andrea memilih diam. Dia tahu jika wanita itu datang, hidupnya tidak akan damai kembali. Wanita yang keras kepala dan bertingkah seenaknya itu, sangat mengganggu di hidup Andrea. Bahkan dulu, Andrea berharap jika wanita itu tidak akan kembali ke Ibukota dan menemuinya. Sayangnya, doa tinggallah doa.
"Cinta tanpa perlu aku jelaskan, kamu sudah tahu apa yang aku alami selama ini. Aku masih belum bisa menerima mama ku pergi. Dan kamu juga tahu, kalau aku ini tipe orang yang tidak bisa menerima orang asing dengan mudah. Jadi tolong mengertilah!! Dan jangan memaksaku untuk hal ini!!" kata Andrea cepat dan berlalu begitu saja.
Cinta hanya diam saja tanpa mencegah kepergian Andrea. Dia pun hanya menatap punggung Andrea yang hilang di balik bufet. Mata wanita itu terpejam beberapa saat, kemudian terbuka ketika merasakan sebuah tepukkan dari arah belakang. Langsung saja Cinta memeluk orang itu dan meneteskan air matanya.
"Nggak tau lagi mau apa!! Tapi pengen Andrea berubah." katanya di sela-sela tangisannya.
"Sabar. Kita pasti bisa berubah dia."
-To Be Continued-