Cold-19

1510 Kata
Permainan itu tak berhenti disana. Keano tersenyum begitu bahagia. Wanita yang saat ini memunggungi dirinya baru saja menyelesaikan mandinya setengah jam yang lalu. Tubuhnya memiliki aroma strawberry yang diyakini Keano itu adalah aroma sabun kesukaannya. Kebanyakan orang, setelah mandi mereka pasti akan menghabiskan waktu di dapur untuk memasak makan malam. Tapi yang ada, wanita itu memilih kembali memejamkan matanya dengan alasan dia lelah dan mengantuk. Tanpa memperdulikan banyaknya panggilan masuk dari tiga orang dalam ponselnya. Siapa lagi, jika bukan Cinta, Audy dan juga Aubrey. Selain itu tidak, atau mungkin Keano yang tidak tau. "Ea … kamu nggak lapar? Aku lapar setelah permainan kita." "Cari makan sendiri!!" "Kamu masih marah sama aku?" kata Keano menatap punggung Andrea. Wanita itu membalik badannya cepat, menatap pria yang ada di hadapannya dengan tajam. "Kamu pikir aja sendiri!! Memangnya siapa yang tidak marah, jika kamu berbuat seperti itu!! Secara garis besar kamu memaksa aku untuk memuaskan nafsu kamu, Keano!! Dan secara garis besar juga, kamu itu sudah memperkosa aku!!" "Hei … aku tidak memperkosa kamu. Kita saling menikmatinya!!" seru Keano kesal. "Apa? Menikmatinya? Aku tidak menikmatinya, tapi kamu yang menikmatinya!!" protes Andrea. "Tapi kamu terus memanggil namaku." "Oh sialan!! Tutup mulutnya, Keano!!" bentak Andrea dan pergi. Bukannya marah atau apa Keano malah tertawa kencang. Dia masih ingat betul permainan pertama mereka di atas meja, yang dimana Andrea terus saja memanggil nama Keano. Tentu saja hal itu tidak mampu membuat pria itu berhenti disana. Bahkan jika di ingat, suaranya yang serak.basah nanti manja itu mampu membuat Keano candu. Bangkit dari tidurnya sambil mengambil bajunya. Keano pun sudah siap untuk tuk menemui Andrea yang tengah duduk kesal di depan komputer yang mati. Menaruh kedua tangannya di sandaran kursi, Andrea pun mengecup kepala Andrea beberapa kali. Hingga membuat wanita itu langsung menepis dan mendorong tubuh Keano untuk menjauh. "Sepertinya aku harus membawa banyak barang ke sini." kata Keano. "Untuk apa? Aku tidak mengizinkan kamu tinggal disini." "Aku tidak membutuhkan izinmu, Ea. Aku ingin tinggal disini, ada atau tidaknya kamu." "Keano--" "Tolong mengertilah. Aku sedang berjuang demi hubungan kita. aku sedang berjuang untuk menghamili kamu, dan menikah denganmu. Jadi tolong jangan melarangku tinggal bersama kamu." potong Keano. "Tapi aku tidak ingin hamil anak kamu!!" "Karena Cio? Tidak masalah, yang penting aku pengen disini dan hidup bersama kamu." Dan nyatanya untuk saat ini Andrea tidak bisa melakukan hal apapun. Mau ngotot seperti apapun, hal itu tidak akan membuat Keano menyerah untuk tetap mendekati Andrea. Serapat apapun Andrea menutup dirinya, tapi kehadiran Keano yang terus memaksa dirinya mampu mengganggu hidup Andrea. Dan nyatanya hal itu sama sekali tidak diinginkan Andrea. "Terserah!! Mau sekeras apapun aku menolak, kamu tetap akan hidup dalam keras kepalamu. Dan aku harap kamu harus cepat keluar dari penthouse ku secepatnya." "Hmm, aku harus mengambil barangku. Dan aku minta kunci penthouse ini." Andrea memberikan digit pada Keano untuk masuk ke dalam penthousenya. Dan meminta Keano membeli makanan untuk persediaan mereka selama hidup di penthouse. Bagaimanapun Keano itu tamu, dan dia harus memenuhi semua kebutuhan penthouse ini selama tinggal di sini. Andrea tidak ingin mengeluarkan uang apapun, dan kalau perlu Keano juga harus menanggung semua uang jajan Andrea selama mereka tinggal. "Kalau begitu, kita menikah saja bagaimana? selain uang jajan, hal itu akan membuatku tenang kalau mendengar kamu hamil." kata Keano. "Jangan berharap lebih, Keano. Aku--" "Aku hanya memastikan, kau tidak hamil Andrea aku tidak menggunakan pengaman." "Karena kamu melakukannya dengan sengaja. Dan aku tidak mau menikah denganmu. Titik!! Jangan paksa aku!!" Keano mengalah, untuk saat ini tidak. Tapi Keano bisa pastikan jika hal itu akan terjadi antara dirinya dan juga Andrea. Mengambil kunci mobilnya, dan memilih pergi. Pria itu juga meminta Andrea untuk menunggunya. Masalah kebersihan mungkin mereka membutuhkan orang yang dipercaya Andrea dan juga Keano selama ini. "Aku pergi." pamit Keano sambil mengecup kening Andrea dalam. **** "Kamu mau pergi?" kata Aloysius. Keano mengangguk. "Ya, aku akan pergi. Sudah aku katakan bukan, jika aku menolak perjodohan ini." "Bagaimana dengan Andrea?" "Dia akan aman bersamamu." "Kamu yakin?" Tentu saja Keano yakin, karena setelah ini Keano akan tinggal di penthouse Andrea. Dan selama ini ini juga Keano bisa memastikan, jika Andrea akan aman bersama dengan Keano. Makanya dia terlihat sangat tenang, karena setelah ini mereka akan bersama. "Apa aku boleh bermain ke penthouse mu?" "Tentu. Aku akan mengirim alamatnya setelah ini." Aloysius tertawa kecil, "Aku tunggu alamatnya. Sekarang pergi sana, sebelum ayah datang." Kenan mengangguk, dia pun memilih pintu belakang untuk kabur dari rumah. Membawa mobil barunya, yang baru dibeli beberapa hari yang lalu sebelum ayahnya datang. Mengendarai mobilnya dengan cepat, tak lupa juga Keano membeli banyak bahan makanan dan juga makanan matang. Jangan sampai dia pulang tidak membawa apapun. Yang jelas Andrea pasti akan marah besar, karena dia yang meminta Keano untuk membeli bahan makanan. Di tengah jalan, Keano berpikir jika dia akan menyiapkan makan malam yang romantis bersama dengan Andrea. Setidaknya sikapnya mampu membuat Andrea berpikir dua kali, biak harus menolak orang setampan Keano. Atau tidak, Keano harus bisa merubah perasaan Andrea yang awalnya tidak suka menjadi jatuh cinta dengannya. Tapi apa? Hingga tak lama mobil yang dikendarai Keano pun memasuki lingkup penthouse Andrea. Disana Keano kembali dihadang oleh dua orang yang tadi siang sempat menghadangnya. Ketika pria itu menurunkan kaca mobilnya, langsung saja dua orang itu memberi jalan pada Keano, ketika yang datang adalah orang yang sama. "Andrea buka pintunya … " teriak Keano. Padahal dia tahu berteriak sekencang apapun, tidak akan membuat Andrea mampu mendengar suaranya. Menatuh semua belanjaan di lantai, pria itu langsung memasukkan enam nomor digit angka di gagang pintu penthouse, dan membuat pintunya terbuka lebar. Bahkan disini Keano bisa melihat Andrea yang sibuk dengan ponselnya. "Pantes aku panggil tidak dengar, taunya malah sibuk telepon." dengus Keano Mendengar hal itu Andrea langsung memutuskan sambungan telepon nya. Dia pun langsung menyimpan ponsel itu di saku celana jeans yang tertutup oleh baju hitam, yang panjangnya di bawah celana yang dia kenakan. "Udah pulang? Aku pikir besok mau kesini lagi." kata Andrea mengalihkan pembicaraannya. Keano menggeleng. "Aku hanya mengambil sebagian dari barangku." "Setelah aku pikir kamu boleh tinggal disini. Tapi jangan sampai aku dengar, atau aku lihat kamu memasukkan wanita lain di penthouse ku!!" Hal itu tidak akan terjadi dengan Keano. Lagian wanita mana yang harus dimasukan ke dalam penthouse selain Andrea? Tidak ada wanita lain yang pantas bersanding dengan Keano kecuali Andrea. Itu sudah kodrat dan tidak bisa diganggu gugat. Memasuki kembali kanata Andrea, Keano malah baru sadar jika setiap ruangan di penthouse ini memiliki warna hitam. Atau warna gelap lainnya yang dipadukan dengan warna cerah tapi sedikit gelap juga. "Kenapa sih semuanya harus warna hitam?" kata Keano ketika melihat Andrea masuk ke kamar ini, dan memperhatikan Keano yang sibuk memasukkan baju ke dalam lemari kaca milik Andrea. "Karena aku suka warna gelap," kata Andrea. Dia pun menatap Keano yang berjalan ke ayahnya, dengan tatapan menggodanya. "Segelas hidupmu!!" cibir nya. Keano mendekat, dia pun menghampiri Andrea dan memeluk pinggang wanita itu. "Kenapa nggak warna terang aja? Seterang hidupku saat bersamamu." Memutar bola matanya malas, Andrea langsung menepis tangan Keano dengan kasar. "Aku tau arah pembicaraanmu, Keano!!" Pergi. Adalah pilihan Andrea, belum lagi suara bel penthouse nya mampu mengganggu pendengarannya. Memegang knop pintu penthouse, wanita itu langsung membuka pintu penthouse ini dengan lebar dan terkejut. "Hai Andrea … " "Kalian!!" pekik Andrea kaget. **** Tarik nafas buang!! Itulah yang dilakukan Andrea sejak setengah jam yang lalu. Dimana banyak sekali orang yang masuk ke dalam Penthouse nya. Siapa lagi jika bulan keluarga besar Keano yang bertamu malam-malam. Hingga Andrea harus melewatkan makan malamnya bersama dengan Keano. Bangkit dari duduknya dan mengambil minuman kaleng. Tak sadar, Diego salah satu kerabat Keano mengikuti Andrea hingga ke dapur penthouse ini. Dia pun menepuk bahu wanita itu dan membuat Andrea menoleh dengan cepat. "Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" kata Andrea cepat. Diego menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin berbicara berdua saja denganmu." "Hmm, ada perlu apa?" Sebenarnya Diego masih ragu dengan hubungan Andrea dan juga Keano. Dan baru kali ini Diego melihat Keano yang berjuang mati-matian dengan orang yang dia cintai. sedangkan selama ini, Diego sama sekali tidak pernah melihat ini ketika Keano bersama dengan Naomi. Diego hanya takut, jika suatu saat nanti ketika, ketika Keano sudah benar-benar mencintai Andrea. Dia hanya takut jika Andrea akan mengecewakan Keano dan membuat hidupnya seperti orang gila. "Memangnya dulu Keano pernah gila?" tanya Andrea memastikan. Pria itu mengangguk antusias. Nyaris gila yang ada, karena Keano belum bisa menerima kepergian Naomi dengan lapangan d**a. Dulu Keano juga pernah berharap, jika suatu saat nanti Naomi bisa bangkit dari kuburannya dan langsung menghampiri Keano. Itulah kenapa Diego merasa ragu pada Andrea. Wanita itu juga tidak jika berbuat banyak tentang hal ini. Karena Andrea sendiri juga masih tahu dengan apa yang dia rasakan. Entah perasaannya milik Cio, atau mungkin sudah tidak ada lagi nama Cio dalam hati Andrea. Dan saat ini juga, Andrea juga belum memberi jawaban yang pasti atas perasaan Keano. Dia hanya ingin berjalan begitu saja. Jika suara saat nanti dia suka, maka Andrea akan jauh lebih suka dibanding Keano. "aku harap kamu tidak mengecewakan orang yang tulus mencintaimu, hanya karena perasaan ego." -To Be Continued-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN