Bab 5 - Ervin dan Milan ('M')

1298 Kata
Dering alarm ponsel menggema di setiap sudut ruangan. Suara getarnya yang mengadu dengan meja kayu semakin menambah gangguan bagi siapa saja yang mendengarnya. Seorang wanita mulai menggeliat dari tidurnya. Tangan kirinya bergerak keluar dari selimut lalu meraba ke atas nakas tempat benda berisik itu diletakkan. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menyipit terbuka untuk melihat layar ponselnya yang sedari tadi terus berdering. Pukul 5.00 AM, itulah waktu yang tertera di layar. Setelah menatapnya beberapa detik, jempolnya langsung bergerak mengetuk layar untuk mematikan suara berisik itu. Ia lalu kembali menaruh ponselnya di atas meja, dan melempar kepalanya ke atas bantal dengan tenang sambil kembali memejamkan matanya sejenak, mengusir sisa kantuk yang ada. Beberapa menit berlalu, ia kembali membuka matanya. Kali ini tingkat kesadarannya sudah hampir seratus persen. Masih ada sedikit sisa kantuk yang mengganjal di pelupuk matanya, tapi itu tidak akan membuatnya tertidur lagi. Ia menolehkan kepalanya ke sebelah kanannya lalu tersenyum tipis. Seorang pria tengah terlelap disana, sama sekali tidak terganggu dengan suara bising alarm ponselnya. Rambut merah marun-nya yang terlihat begitu kontras dengan kulit pucatnya yang kini hanya berbalut selimut, dengan penampilan seperti itu dia tampak sedikit mencolok di ruangan gelap ini. Tangan gadis itu terulur untuk membelai rambut pria di sebelahnya. Namun ternyata ada pergerakan disana. Pria itu membuka mata dan menatapnya tajam. Ia lalu mengambil tangan gadis itu kemudian menariknya ke pinggangnya sehingga kini jarak mereka menjadi lebih dekat. Keduanya bertatapan lalu tersenyum. “Aku kira kamu belum bangun,” ucap sang wanita. “Alarm kamu berisik banget. Gimana aku nggak kebangun coba?” jawab sang pria dengan nada manja. “Kamu mau kemana pagi buta begini?” “Aku ada kuliah pagi hari ini.” Wanita itu mulai melepaskan tangannya dari pinggang sang pria. Ia lalu bangkit dari posisi tidurnya sambil terus menutupi tubuhnya dengan selimut. Ya, ia tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya. Tak sadar, punggungnya terekspos saat ia bergerak untuk mendudukkan tubuhnya. Melihat itu sang pria tersenyum nakal. Ia lalu kembali menarik wanitanya itu. Kali ini jauh lebih erat lagi bahkan sampai tubuh sang wanita sedikit berada di atasnya. Mata mereka kembali bertemu. Pria itu berkata, “Kita baru ketemu beberapa jam lalu, lho, Mil.” “Terus kenapa?” jawabnya meledek. “Masih kangen ....” Pria itu memeluk wanitanya erat. “Kita udah lama nggak sedekat ini, kan.” “Ervin sayang ...,” kata wanita itu sambil menatap mata pria yang merupakan tunangannya itu. Nadanya terkesan meledek. “Kamu masih kangen apa masih pengen?” Pria itu, alias Ervin Jauzan, ia nyengir lebar ketika disindir seperti itu oleh tunangannya, Milan Lauw. “Tahu aja kamu.” “Huuu ....” Milan bersorak kecil sambil bangkit dari pelukan Ervin. “Udah, ya. l Aku mau siap-siap dulu.” “Memangnya kamu ada kelas jam berapa, sih? Kok pagi banget.” “Jam 7.” “Masih lama dong.” Milan menatap Ervin jengkel. “Lama gimana, sih, Vin,” protesnya. “Ini tuh udah mepet tahu, nggak. Belum mandi, belum dandan, belum sarapan, siapin buku dan lain-lain.” Milan mulai bangkit dari duduknya, lalu segera mengambil jubah mandi berwarna ungu yang tergeletak di lantai. Ia segera memakainya untuk menutupi tubuh polosnya. Sementara itu, Ervin terlihat cemberut. “Ribet banget sih, jadi cewek,” katanya manyun. “Perasaan aku cuma butuh waktu tiga puluh menit buat siap-siap kuliah.” “Kamu ‘kan cowok, beda sama cewek,” jawab Milan sambil mengikat rambut pirang ikalnya yang sedikit berantakan. “Cewek tuh butuh waktu ekstra untuk dandan dan catok rambut.” Ervin ikut maju menghampiri wanitanya itu. Ia menatap Milan dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Kayak gini aja kamu udah cantik, kok.” “Apaan, sih,” jawab Milan terlihat jengah, tapi juga senang. “Udah, ya, aku mau mandi.” Ia lalu mulai berjalan melangkah ke arah kamar mandi. Namun sebelum ia sampai, tubuhnya kembali di tangkap oleh Ervin lalu di lemparkannya ke atas ranjang. Ervin menindih tubuhnya. “Aku serius,” ucap Ervin tegas. Matanya bertemu pandang dengan mata sipit khas keturunan Tiongkok milik Milan. “Kamu benar-benar cantik pagi ini sampai-sampai mata aku nggak bisa lepas dari kamu.” Milan memutar bola matanya sebal. Ia hafal betul dengan sifat tunangannya itu. Dia pasti masih ‘mau lagi’, mangkanya dia bertingkah berlebihan seperti ini padahal biasanya terlihat acuh. “Ervin please, ya, aku ada kuliah pagi.” Ervin menggeleng dua kali. “Aku nggak akan lepasin kamu.” Milan mendengus kesal. “Kamu maunya apa sih, Vin. Jangan gini, dong nanti aku telat.” Ervin menatap Milan nakal. Tangan kanannya mulai bergerak ke arah pinggang ramping gadis itu dan melepaskan tali jubah yang menutupi tubuhnya. Saat itu juga tubuh polos Milan langsung terekspos di depan matanya. “Kamu tahu persis apa yang aku mau, Mil.” Milan memutar bola matanya dan menghembuskan napas kasar. “Emang kamu nggak capek? Kan semalam udah. Masih kurang?” Ervin mengangguk sambil tersenyum. Melihat kekasihnya yang bertingkah imut seperti itu Milan jadi tidak bisa menahan tawanya. “Oke, oke. Tapi main cepat, ya.” Mendengar itu senyum Ervin langsung merekah. Tanpa membuang waktu ia langsung membuka jubah mandi Milan yang masih menempel di tubuhnya kemudian memandanginya dengan penuh nafsu. Wajahnya mulai maju mendekati wajah Milan lalu mencium bibirnya lembut. Milan pun membalasnya. Semakin lama ciuman itu semakin memanas. Dari yang awalnya hanya bermain dengan bibir, kini lidah mereka mulai ikut bergabung dalam permainan. Hingga dua menit berlalu, Ervin melepaskan ciuman mereka. Bibirnya mulai bergerak ke samping dan bermain di telinga kiri Milan. Gadis itu melenguh pelan. Ervin tersenyum. Ya, ia tahu betul kelemahan wanitanya itu. Ia lalu mulai mengeluarkan lidahnya dan menyapu telinga Milan dengan permainan lidahnya. Milan semakin melenguh. Setelah beberapa menit bermain di telinga Milan, lidah Ervin mulai bergerak turun menyapu lehernya. Sesekali bibirnya menghisapnya lembut, membuat gadis itu mendesah nikmat. Gerakan lidah Ervin semakin menurun. Menelusuri bahu, tulang leher, hingga dua gundukan kecil yang ada di dadanya. Tangan kirinya meremas p******a kiri Milan dengan lembut. Sementara lidahnya menyapu p******a kanan Milan dan membuat gerak memutar pada p****g kemerahannya yang kini terlihat sedikit membesar karena birahi. Sesekali ia menggigitnya kecil, membuat gadis itu semakin mendesah nikmat. Ervin terus melakukan itu bergantian dengan p******a kiri Milan. “Ah ...,” lenguhnya. Mendengar desahan Milan yang semakin lama semakin memanas, tangannya mulai bergerak turun dan langsung menjerumus ke bawah sana, tepatnya di area kewanitaan Milan. Basah, itulah hal pertama yang dirasakan Ervin ketika menyentuh area sensitif gadis itu. Sementara Milan, desahannya semakin tak karuan mendapat perlakuan seperti itu. “Ah ... langsung a-jah, ah ... Ervin,” pintanya. “Nggak sabar, ya?” Ervin meledek sambil terus memainkan jemarinya di area kewanitaan Milan. Milan menggeleng pelan. Wajahnya yang terlihat sangat b*******h itu berusaha mengatakan sesuatu. “Akuh, takut-ah ... telat ....” Sebenarnya ia agak sebal dengan tunangannya itu yang masih saja memikirkan kuliahnya di saat tengah bersenang-senang seperti ini. Tapi akhirnya ia menurutinya. Dibukanya celana pendeknya yang sedari tadi masih ia kenakan, lalu segera mengarahkan batang kejantanannya yang sudah membengkak itu ke arah lubang kenikmatan yang terpampang jelas di depan matanya. “Uh,” Milan melenguh ketika kedua alat vital mereka mulai bertemu. Ervin segera mendorongnya masuk lebih dalam lagi. “Ah ...,” lenguh Milan lagi ketika b***************n Ervin sudah terkubur dalam dirinya. Ervin mulai memompa pinggulnya naik-turun, merasakan sensasi yang begitu nikmat rasanya. Semakin lama temponya semakin ia percepat karena rasa haus akan kenikmatan yang jauh lebih besar lagi. “Ah, ah ... uh, hmmph ....” Desah Milan semakin menjadi-jadi seiring tempo pompaannya yang semakin cepat. “Faster please." Milan memohon. “Ah, lebih cepat, Vin. Please ....” Ervin menurut. Gerakannya pun ia percepat bahkan ia sendiri merasakan kenikmatan yang begitu dahsyatnya. Hingga beberapa menit berlalu, batangnya seperti terasa tercekik di dalam sana. Bersamaan dengan itu, Milan pun melenguh panjang. “Aaah ... Vin ....” Ya, sepertinya Milan sudah mencapai klimaksnya. Sekarang giliran Ervin yang sepertinya akan mencapai klimaksnya. Ia semakin mempercepat lagi tempo pompaannya dan ... Slep! Ia segera mencabut batang k*********a itu lalu mengocoknya di atas perut Milan. Cairan kental keputihan pun bertebaran di sana. Setelah itu, Ervin terbaring lemas di atas ranjangnya. Ia mengecup kening Milan dengan penuh kasih sayang. “Thanks, Mil,” katanya. Milan hanya tersenyum lalu segera berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Ervin yang masih terbaring polos di atas ranjang. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN