Panti Asuhan Gempita

1952 Kata

Gembong, Pati Gedung Panti Asuhan Gempita Bintang masih memusatkan perhatiannya pada layar smartphone yang tengah menampilkan panggilan video bersama ibunya di Jepang. "Nyebelin banget kan, Ma? Gara-gara dulu stiknya lepas hilang satu, nilainya jadi dikurangin sama bu guru," kikih Bintang ketika bercerita tentang pengalamannya membuat seni kriya di SMA-nya dulu. "Bintang nggak nyangka pigura ini masih ada di sini." Bukannya ikut tertawa mendengar cerita lucu putranya—Emeralda—wanita paruh baya itu justru membekap mulut dengan tangan kanannya. Tidak mampu berkata-kata, hanya sebulir air mata yang dibiarkannya lolos mengalir di pipi. "Lho, kok Mama malah nangis?" Bintang yang berubah panik, segera menatap ibunya intens. Kepala Emeralda menggeleng. Ia buru-buru menyeka bekas air mata ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN