“Pak Ardito yang meminta saya untuk tetap tinggal, dan menemani anda.”
“Tolong bicara biasa saja. Jangan memanggilku nyonya. Jangan memakai kata anda.”
“Anda istri bos saya.”
“Aku bukan perempuan yang diinginkan bosmu.”
Kai tidak menyahut. Pria yang duduk di depan Milea itu hanya menatap datar istri atasannya. Kai menghembus pelan napasnya. Dia diminta sang atasan untuk mengajak keluar wanita itu supaya terhibur.
“Namaku Milea. Aku sahabat Aurora. Kalau kamu tidak percaya, coba cari media sosial Aurora. Kamu akan tahu jika aku tidak berbohong.” Milea menatap serius Kai.
“Tolong bantu aku. Aku harus kembali ke Jakarta.” Tatapan Milea berubah. Penuh harap.
Kai mengambil ponsel di atas meja lalu fokus menggulir layarnya. Beberapa saat kemudian, tanpa mengatakan apapun–Kai meletakkan ponsel miliknya ke depan Milea.
Dengan kening mengernyit, Milea menatap Kai sebelum menurunkan pandangan mata. Semula Milea menatap biasa layar benda di depannya, namun dua detik kemudian Milea dengan cepat mengambil ponsel itu. Mendekatkan benda tersebut seakan dia tidak bisa melihat dengan jelas.
Mulut Milea menganga. Beberapa detik yang wanita itu lakukan hanya menatap layar telepon genggam milik Kai. Ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sedang kebingungan. Tampak tidak percaya melihat apa yang dilihatnya.
Kai menarik punggung ke belakang. Duduk menyandar lalu melipat dua tangan di depan d**a. Sepasang mata pria itu menatap lurus wanita yang masih tampak kebingungan. Kai mendengkus pelan. Heran pada apa yang dipikirkan oleh istri bosnya.
“Anda adalah wanita pilihan bos. Seharusnya anda bersyukur.”
Milea masih syok melihat media sosial atas nama Aurora berisi foto-fotonya. Milea tidak habis pikir. Bagaimana bisa? Milea menggulir layar benda di tangannya. Mencoba mencari ada tidak foto Aurora yang asli.
Dan yang membuat Milea tercengang adalah tak satu pun foto Aurora yang asli tertampil di media sosial dengan nama Aurora Kaya Abimanyu. Sama sekali tidak ada. SATUPUN!
Tangan Aurora bergetar. Wanita itu meletakkan ponsel milik Kai ke atas meja. Wanita itu menggulir bola mata. Kepalanya menggeleng. “Ini salah. Ini salah,” kata Aurora dengan suara bergetar. Sementara Kai menatap wanita itu dengan sepasang alis yang mengerut.
Mengingat sesuatu, Milea membuka tas lalu mengeluarkan ponselnya sendiri. Milea menyalakan layar ponsel sebelum mulai menggerakkan jari di atas layar. Dia akan membuktikannya.
Milea mencari nama kontak Aurora yang tertulis ‘My Best’ sama seperti nama kontaknya di ponsel Aurora. Ya, karena mereka memang sedekat itu. Milea menekan tombol panggil kemudian mengulurkan ponsel miliknya kepada Kai.
“Silahkan buktikan sendiri. Ini Aurora yang asli.”
Meskipun dengan kening berlipat, Kai mengurai lipatan tangan lalu menarik tubuhnya ke depan. Kai mengambil ponsel di tangan Milea. Pria itu menatap layar sebelum membawa ponsel ke telinga kanan. Pria itu menatap Milea dengan lipatan di kening yang semakin dalam.
Milea mengangkat kedua alis. Tatapan wanita itu seolah mengatakan, ‘Aku tidak bohong. Itu Aurora yang asli.’ Harapan Milea muncul. Wanita itu tersenyum. Sayangnya, senyum itu tidak bertahan lama ketika mendengar apa yang Kai katakan.
“Tidak diangkat.”
“Oh … coba lagi. Mungkin tadi dia tidak dengar.”
Kai menuruti saran Milea. Pria itu menurunkan ponsel lalu menekan tombol redial. Kali ini Kai tidak membawa ponsel ke telinga. Pria itu justru menyalakan loudspeaker kemudian meletakkan ponsel ke atas meja.
Nada sambung terdengar cukup keras. Milea menunggu dengan tidak sabar. Berharap agar Aurora segera menerima panggilan itu. Ayo, Aurora … angkat. Angkat, Ara.
Milea menarik punggung ke depan begitu terdengar nada panggil itu diterima. Jantungnya berdegup cepat. Menunggu suara Aurora terdengar.
“Halo.”
Sayangnya, bukan suara Aurora yang terdengar. Bukan suara perempuan, tapi suara seorang laki-laki. Membuat Kai menatap Milea dengan sorot mata aneh.
“Elias?” tanya Milea. “Dimana Aurora?” tanya Milea heran kenapa selalu saja Elias yang menjawab panggilan darinya.
“Aurora? Ada apa denganmu, Ara?”
Sepasang mata Milea membesar. “Elias … jangan main-main. Aku sedang punya masalah. Panggil Ara, aku butuh bicara dengannya.”
“Ara, ada apa denganmu? Siapa yang kamu cari?”
“Jangan bercanda. Sekarang bukan waktunya bercanda, Elias. Tolong berikan ponsel itu pada Aurora. Pacar kamu.” Milea mengepal dua telapak tangan di atas meja. Degup jantungnya semakin menggila.
Pria yang masih tersambung dengan Milea tertawa cukup keras. “Ya ampun, Ara. Aku tahu kamu menyukaiku. Tapi, aku pacarnya Milea. Aku tidak mungkin mengkhianati Milea, meskipun kamu lebih kaya dan lebih cantik darinya."
Bola mata Milea nyaris meloncat dari kelopaknya. Kepalan tangannya menguat.
"Kalian juga bersahabat. Please, jangan rusak kepercayaan Milea padamu. Aku bisa mengenalkanmu dengan temanku kalau kamu mau.”
Milea menganga. Kepalanya menggeleng berkali-kali. Dia tidak percaya dengan fungsi telinganya sendiri. Dia berharap telinganya lah yang bermasalah. Dia ingin saat ini dia hanya sedang berada di dalam alam mimpi, dan setelah membuka mata nanti–semua kembali seperti semula.
“Halo, Ara … bagaimana? Kalau kamu mau, aku akan mengatur pertemuanmu dengan temanku.”
Milea meremas kepalan telapak tangannya. Degup jantungnya menggila. Sungguh, Milea kehabisan kata-kata. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Elias justru memanggilnya Ara?
Elias membalik kenyataan. Milea adalah Aurora, dan Aurora adalah Milea. Apa sebenarnya yang Elias rencanakan?
“Saya rasa sudah cukup.” Kai mengambil ponsel tersebut lalu menekan tombol bergambar gagang telepon warna merah. Pria itu menarik napas pelan, namun panjang. Pria itu menatap Milea.
“Saya tidak tahu kenapa anda berusaha keras untuk lepas dari pak Ardito. Kenapa anda sampai tidak ingin mengakui diri anda sendiri?”
“Bukan … bukan.” Milea menggeleng, menatap Kai dengan sorot mata memohon. “Aku benar-benar bukan Aurora. Aku Milea. Harus berapa kali kukatakan kalau aku Milea?! Aku bukan Aurora.” Milea semakin emosi. Dia tidak paham. Bagaimana bisa semua berbalik menyerangnya?
Melihat tatapan Kai, Milea kembali menggeleng. Pria itu jelas tidak mempercayai kata-katanya. Milea semakin putus asa, dan juga marah. Semua jalan terputus. Bahkan Aurora pun sekarang berpaling darinya. Milea yakin, Aurora berperan pada apa yang baru saja terjadi. Tidak mungkin Elias tahu tentang apa yang sedang terjadi jika bukan dari Aurora.
Milea yang benar-benar sudah tidak bisa menahan emosi, beranjak dari tempat duduk. Mengambil ponsel miliknya lalu pergi meninggalkan Kai. Milea berlari keluar Kafe yang berada tak jauh dari pantai. Wanita itu terus berlari menuju pantai. Dia butuh tempat yang bisa menampung amarahnya.
Sementara Kai langsung bergerak menyusul setelah menyelesaikan pembayaran. Pria itu berlari keluar. Menoleh ke sana kemari untuk mencari sang nyonya. Kai langsung berlari kencang begitu melihat dimana keberadaan istri bos nya itu.
Milea berteriak kencang sambil terus berlari. Kaki wanita itu sudah tak lagi beralaskan sepatu. Tak merasakan dinginnya air, Milea menerjang pasir yang terdorong ombak ke pantai.
“Arrggghhhhhhh!!!!!” Milea kembali berteriak. Sekeras yang ia bisa. Kakinya mulai terendam air seiring langkah kaki yang terus terayun. “Araaaaa!!!! Kenapa?!”
“Kenapa kamu tega sama aku, Ara?!!” Milea berteriak semakin kencang. Berharap ombak akan membawa pertanyaan itu sampai ke telinga Aurora. “Aku mempercayaimu. Kenapa? Kenapa kamu tega, Ara?!!!”
Milea menangis. Meraung keras. Kecewa, marah, juga sakit hati berkumpul menjadi satu. Seumur hidup, Milea selalu merasakan itu. Saat kemudian bertemu dengan Aurora dan hidupnya mulai berubah, Milea memiliki harapan untuk bisa merasakan bahagia.
Memiliki seseorang yang mendukungnya. Namun ternyata, orang yang sangat ia percaya itu kini turut mengecewakannya. Menorehkan luka di dalam hati yang mungkin akan sulit untuk disembuhkan.
Terlalu sibuk dengan perasaannya, Milea tidak sadar jika langkah kakinya semakin jauh meninggalkan pantai. Air laut itu kini tidak hanya merendam betisnya. Air yang tampak tenang, namun di saat tertentu bisa jadi mematikan itu kini mulai naik hingga ke lutut.
Tangis Milea semakin pecah. Cairan bernama air mata itu turun dengan derasnya, membasahi wajah Milea. Suara raungannya terurai hembusan angin yang cukup kencang. Kakinya terus terayun tanpa sadar bahaya yang menunggunya.
Kai berlari semakin kencang. Tanpa peduli pada sepatu dan pakaiannya, pria itu menerjang ombak lalu menarik tubuh Milea. Membuat Milea terkejut dan saat itu barulah Milea sadar jika ia sudah terlalu jauh meninggalkan pantai.