"Dih!? Gak usah di percaya, mulutnya Dana kok di percaya" jawab Gendis sewot
"Lah trus kemarin yang sok cemburu waktu gue jemput elu siapa mbak?" usil Dana
"Gak usah ember deh Dek" ujar Gendis sengit
"Siapa sih Dan?" sambung Galih
"Ntar lu juga tau, pas masuk kampus sering-sering ke fakultasnya Mbak Gendis buar tau" jawab Dana
"Emang sefakultas?" timpal Rana
"Enggak kok Mbak, beda" jawab Gendis
"Nah kan Mbak Gendis tau" ejek Dana
Gendis hanya manyun mendengar ledekan dari sepupunya.
"Udah lah, bahas yang lain aja" ucap Gendis
Tak lama terdengar sorakan 'Cieee malu' riuh hingga orang di dapur juga teras belakang masuk untuk melihat.
Senja yang kemerahan di ufuk barat menambah kehangatan sore itu. Penuh canda juga tawa.
.
.
.
Kicauan burung di dekat dahan pohon mangga menyambut pagi dengan keceriaan. Beberapa orang sudah mulai beraktifitas bahkan sebelum cahaya mentari muncul.
Terdengar gesekkan gergaji dengan kayu di halaman belakang sebuah rumah joglo dengan pilar kayu jati bercat coklat.
Geliat tubuh seorang laki-laki yang baru menyelesaikan mimpinya terganggu dengan suara yang masuk ke indera pendengarnya.
Dengusan malas juga gerangan kesal terdengar bersamaan dengan ketukan di pintunya.
"Le bangun, katanya ada kuliah pagi" ucap suara lembut
Geliat tubuhnya seperti cacing. Ditambah gerutuan yang terdengar.
"Yo ayo bangun"
"Hm"
"Sudah jam delapan ini"
Tanpa di duga Rio segera membuka kelopak matanya setelah mendengar perkataan Mamanya.
"Maa..."
Di luar, Sarah-Mama Rio hanya bisa tersenyum
"Mandi trus sarapan. Sudah Mama siapin di meja makan" ucap Sarah sebelum beranjak pergi dari depan pintu kamar Rio
Tidak sampai setengah jam Rio sudah siap berangkat dengan bibirnya yang mengapit roti selai coklat.
"Rio hati-hati. Habiskan rotimu dulu"
"Iya Kek. Rio udah telat" jawab Rio yang sudah bersiap di atas motor besarnya
Deruman knalpotnya terdengar bergema. Membelokkan setirnya ke jalanan besar.
Berhenti di lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. Mengamati sekitar hingga pandangannya tidak sengaja melihat Gendis yang berboncengan dengan seorang laki-laki.
Dahinya berkerut. Apalagi dilihat dari seragamnya seperti anak SMA. Celana abu-abu
Namun, Rio melihatnya seperti sangat serasi.
"Siapa itu?" gumam Rio yang tidak mengalihkan pandangannya dari Gendis. Tak lama motor yang membawa Gendis dan si laki-laki melaju sontak Rio juga mendengar klakson marah di belakangnya.
...
Rio memarkirkan motor besarnya di depan gedung kemahasiswaan. Melepaskan helm dan turun dari motornya.
"Yo, buruan tes mic sana. Lu bagian pidato pertama" sergah Aji, wakilnya
Terlihat Aji yang membantu membawa barang menuju lapangan bersama anak perlengkapan.
"Oke, gue ke sana" jawab Rio setelah mengacak rambutnya yang masih setengah basah
"Habis ngapain lu keramas gitu" celetuk Gusti, koordinator lapangan yang batu saja keluar dari ruangan BEM dan melihat kedatangan Rio
"B**ot!? Ikut gue lu" ucap Rio mendahului Gusti
Gusti hanya tersenyum kecil dan segera menyusul Rio menuju lapangan besar
Rio segera mendekati Laras yang sedang memgang sebuah dokumen berisi pidatonya nanti.
"Ras, gimana? Ada kendala gak?" tanya Rio
"Udah sih. Tinggal elu nih sana cek bentar. Eh Gus bantuin anak musik cocokin jadwal nih" ucap Laras pada Gusti yang mengekori Rio
"Oke gue ke sana. Mana"
Rio mengambil pidatonya dan segera ke podium untuk memeriksa keadaan. Mengecek mic dan lainnya.
Sayup-sayup Rio mendengar gemuruh teriakan mahasiswa baru saat ia sedang mengecek kejernihan mic yang akan digunakan.
Pandangannya menyapu ke depan dan tidak sengaja bertubrukkan dengan pandangan Gendis yang entah kebetulan atau apa juga tengah memandanginya.
Beberapa detik mereka saling menyelami satu sama lain.
"Ndis, pindah ke sana yuk"
Ikatan tatapan mereka terputus. Rio juga dikejutkan dengan Laras yang menepuk bahunya.
Rio mengarahkan pandangannya sebentar melihat Gendis berbaris di bagian belakang.
"Yo tuh ada pak rektor"
Rio menganggukkan kepalanya dan menyerahkan teks pidatonya ke Laras. Langkahnya menuju Rektor yang baru datang bersama dengan pejabat rektorat lainnya.
....
"Ndis, haloo!!?"
"Masih nglamaun Bi dia" ucap Andin yang baru datang dengan nampan penuh makanan juga minuman
"Iya nih. Ada apaan dah dia ini" timpal Bita
"Ndis, nih pesenan lu" ujar Andin menggeser mangkok berisi bakso dan minumannya ke depan Gendis
Gendis masih belum merespon
Bita yang tidak tahan langsung menggebrak meja. Otomatis semua atensi pengunjung kantin siang itu mengarah pada meja mereka.
"Astaga!!" pekik Gendis bersamaan dengan Andin yang akan menyuapakan makanannya
"Nah udah sadar kan"
"Gila ya lo Bit" pekik kesal Andin
"Apaan sih lo" kesal Gendis
"Makan noh" tunjuk Bita pada makanan yang ada di depan Gendis
"Oh eh udah ya"
"Dari tadi tuan putri. Lu kebanyakan nglamun ada apaan sih lu" ucap Bita
Gendis menghembuskan napasnya pelan dan mulai mengambil sendkm hendak makan.
Bita menyenghol Andin yang kelihatan anteng dengan porsi baksonya yang bahkan tinggal separuh.
"Dih apaan sih Ta" pekik kesal Andin
Buta memberi kode dengan menunjuk Gendis yang diam sambil makan dengan dagunya
"Biarin aja sih. Gendis makan dulu ntar kita interogasi lagi" bisik Andin
Bita mengangguk pelan dan mulai makan.
.
Hari sudah berjalan menuju petang. Langit mulai gelap. Awan kelabu juga menghiasi bersamaan dengan hembusan angin yang menyapu manusia yang berlalu lalang.
"Hah!! Akhirnya ospeknya kelar. Asli gak sabar pengen segera kuliah" ucap Andin begitu mereka keluar dari gerbang kampus dan duduk di halte
"Bener, eh kalian udah lihat jadwal kuliahnya?" tanya Gendis
"Udah baru aja tadi" jawab Bita
"Kalian kelas apa?" tanya Andin
"Gue kelas A nih. Lu apa?" jawab Bita
"Gue kelas B" jawab Gendis
"Yah gue kelas C. Kok kita misah sih" ucap Andin
"Halah masih sejurusan ini. Gampang lah" ucap Gendis ceria sambil merangkul bahu kedua temannya
"Nah bener tuh" timpal Bita
"Eh tuh ada angkotnya" tunjuk Gendis
"Oh bener tuh. Gue duluan ya Ndis, Andin" ucap Bita yang segera naik
"Hati-hati Bitaa" pekik Andin yang melambaikan tangan
Melihat angkutan kota yang ditumpagi Bita sudah berbelok, Gendis segera menelpon adiknya untuk menjemputnya.
"Andin, lu gimana pulangnya?" tanya Grndis yang sedang menempelkan ponslelnya di telinga kiri menunggu sambungan teleponnya
"Ada yang jemput gue, lu gimana?" tanya Andin balik
"Sama gue juga"
Tak lama sebuah motor besar terdengar derum knalpotnya yang menggema. Berhenti pas di depan mereka
"Ras, ayo balik" ujarnya
Andin juga Gendis saling berpandangan. Bahkab mereka saling nelemparkan kode mata
Karena lama tidak di respon si pengendara melepaskan helemnya dan menghampiri Gendis. Memakaikan helm kecil di belakang motornya dan terdengar bunyi 'klik'
"Ayo pulang" ajaknya sambil menarik tangan Gendis
"Eh loh... gimana sih ini. Andin tolongin" pekik Gendis panik
Andin hanya tersenyum setelah ikut bengong.
.
Gendis termenung di balik jendela kamarnya. Memandangi langit malam yang sudah banyak bintang yang menemani bulan sabit di atas sana.
Derik suara jangkrik bergumul di pojokan perdu di taman depan rumahnya. Sisa gerimis sore tadi menambah hawa dingin nan sejuk. Dihembuskan oleh semilir angin yang mengalun lembut.
Tak lama ada sebuah motor besar warna merah berhenti di depan gerbang rumahnya. Gendis yang berdiri di balik jendela seolah mengawasi.
Si pengemudi melepaskan helm hitamnya dan tampak seorang pemuda dengan potongan cepak rapi turun dari motornya.
"Ngapain sih kesini?" dumel Gendis
Tanpa Gendis duga si pengemudi mendongakkan kepala dan pandangan mereka saling bersibobrok. Gendis yang panik langsung menutup gorden jendelanya dan mematikan lampu kamarnya.
"Dihh!? Kelihatan lagi" gumam Gendis yang sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut
Asyik bergumul dengan pemikirannya. Pintu kamarnya di ketuk dari luar
"Mbak ada yang nyari tuh"
Terdengar suara Dana
Gendis membuka selimutnya hingga sebatas dagu
"Bilangin gue tidur" teriak Gendis
"Yakin lu?"
"Iye udah sana"
"Asal lu tau ya kak, dia lagi ngobrol sama emak sama bapak. Yakin gak mau keluar?" ujar Dana
Karena tidak ada sahutan lagi, Dana hanya mengendikkan bahunya dan berbalik pergi
Namun, baru selangkah pintu kamar Gendis terbuka
Dan secepat kilat Dana melihat Gendis yang berlari terburu menuju ruang tamu.
Dana hanya tertawa kecil
.
.
.
Holaaaa
Lama tidak update
Gimana2?
Sehat2 buat kalian dan semangat
Jangan lupa tap love ya buat amunisiku untuk semangat up cerita ini
Bedankt :)