Baskara Modus

1194 Kata
Nina melanjutkan menyuapi Salwa hingga makanan Salwa habis. “Alhamdulillah, akhirnya habis juga makanan Salwa. Salwa pinter sekali,” ucap Nina. Gadis kecil itu tersenyum senang ketika dipuji oleh Nina. “Pinter cucu Yang Kung.” Puji Baskara ketika melihat makanan Salwa sudah habis. Mendengar Baskara memuji Salwa, Tari menoleh ke Salwa. Ia melihat piring di depan Salwa sudah kosong. “Salwa, bilang apa sama Yang Ti?” Tari mengingatkan Salwa. “Terima kasih, Yang Ti.” Salwa mengecup pipi Nina. “Sama-sama, Salwa.” Nina mengusap rambut Salwa. Tiga orang pelayan restaurant datang mengantarkan dessert pesanan mereka. Pelayan-pelayan itu menaruh dessert di atas meja. “Mana ice cream Salwa?” Salwa memandangi dessert yang berada di atas meja. Ia mencari ice cream miliknya. “Ini ice cream punya Salwa.” Nina menaruh ice cream di meja Salwa. Wajah gadis itu terlihat senang ketika melihat ice cream di depannya. Salwa memakan ice cream. Ketika ia sedang memakan ice cream ia menoleh ke es campur milik Nina. Warna es campur Nina nampak menarik dan menggugah selera. “Yang Ti, itu apa yang merah-merah?” Salwa menunjuk ke pacar cina yang ada di dalam es campur milik Nina. “Ini namanya pacar cina,” jawab Nina. “Salwa mau coba?” tanya Nina. “Mau,” jawab Salwa. Nina mengambil pacar cina dan kuah es campur lalu disuapkan ke mulut Salwa. Salma memakan pacar cina. “Hmm enak,” kata Salwa. “Mama!” Salwa memanggil Tari. Tari sedang makan cake menoleh ke Salwa. “Kakak makan pacar cina.” Salwa menunjuk ke mulutnya. “Mau lagi Yang Ti,” kata Salwa. Nina menyuapi pacar cina ke mulut Salwa. Melihat Salwa mengganggu Nina, cepat-cepat Tari menghampiri Salwa. “Kakak jangan ganggu Yang Ti makan. Kakak makan ice cream Kakak aja!” ujar Tari. “Kakak mau makan pacar cina, Ma. Rasanya enak,” kata sambil merajuk. “Mama pesankan es campur. Tapi Kakak jangan ganggu Yang Ti! Kasihan Yang Ti tidak bisa makan diganggu terus sama Kakak terus,” ujar Tari. “Maafkan Salwa, Tante. Karena sudah mengganggu makan Tante,” ucap Tari. “Tidak apa-apa, Mbak Tari. Nama juga anak-anak,” ujar Nina. Tari memesan es campur untuk Salwa agar Salwa tidak mengganggu Nina. “Mama sudah pesankan Kakak es campur. Sekarang Kakak jangan ganggu Yang Ti lagi. Kakak makan ice cream Kakak! Nanti keburu lumer,” ujar Tari. “Iya, Ma,” jawab Salwa. Salwa melanjutkan makan ice cream. Nina melanjutkan makan ice campur. Tidak lama kemudian pesanan es campur Salwa datang. Kebetulan ice cream Salwa sudah habis. Gadis kecil itu melanjutkan dengan makan es campur. Salwa makan es campur sendiri tanpa disuapi oleh Nina. Namun, sambil makan Salwa bertanya nama-nama makanan yang berada di dalam es campur kepada Nina. Salwa terlalu asing melihat isi es campur. Dengan sabar Nina menyebutkan satu persatu nama isian es campur. Baskara tersenyum melihat interaksi antara Nina dan Salwa. Nina begitu sabar menjawab semua pertanyaan Salwa. Tanpa terasa akhirnya es campur Salwa habis dimakan semua oleh Salwa tinggal sisa kuah es campur. “Alhamdulillah, sudah habis es campurnya,” ucap Nina ketika melihat es campur Salwa sudah tidak ada isinya. Nina mengelap mulut Salwa dengan tissue. “Yang Ti, perut Kakak kenyang.” Salwa menegang perutnya. Nina cemas melihat Salwa yang memegang perut. Ia takut Salwa sakit perut. “Sakit sekali perutnya. Kak?” tanya Nina dengan cemas. “Tidak saki, Yang Ti. Cuma rasanya seperti kepenuhan,” jawab Salwa. Nina merasa lega karena perut Salwa tidak sakit. “Kalau perutnya penuh dengan makanan, Kakak jangan lari-lari dulu! Nanti perutnya sakit,” ujar Nina. “Iya, Yang Ti,” jawab Salwa. Setelah semua selesai makan Baskara menyuruh Tari membayar semua makanan. Ia memberikan kartu sakti kepada Tari. “Ibu Nina.” Baskara memanggil Nina yang duduk di hadapannya. Nina sedang berbincang-bincang dengan Ibu Enny dan Cantika. Nina menoleh ke Baskara. “Iya, Pak?” tanya Nina. “Kalau tidak ada halangan hari Senin saya akan makan di warung nasi Ibu Nina,” ujar Baskara. “Kalau Pak Baskara mau makan makanan warung nasi saya, Pak Baskara tidak usah ke warung nasi. Biar Rasman yang mengantarkan makanan ke kantor Pak Baskara,” jawab Nina. “Tidak usah! Saya mau pilih sendiri makanan di warung Bu Nina,” ujar Baskara. Tari sudah selesai membayar semua makanan. Ia mengembalikan kartu sakti kepada Pak Baskara. “Ayo, sekarang kita pulang!” Baskara beranjak dari tempat duduk. Semuanya juga beranjak dari tempat duduk. Mereka berjalan keluar dari Restaurant. Sesampai di depan restaurant mereka berdiri menunggu sampai mobil Baskara dan Cantika datang. Semenit kemudian mobil Baskara dan Cantika datang dan berhenti di depan teras restaurant. Nina dan keluarga pamit kepada Tari dan Aswin. “Terima kasih, Tari,” ucap Nina. “Sama-sama, Tante. Kapan-kapan kita makan bareng lagi,” ujar Tari. “Salwa salam dulu sama Yang Ti dan Eyang Uyut!” ujar Tari. Salwa mencium tangan Nina dan Ibu Enny. “Rasman dan Cantika naik mobil Cantika. Nenek Rasman dan Lukman naik mobil saya.” Baskara mengatur posisi duduk mereka. “Kenapa bukan Papa dan Om Dito saja yang naik mobil Cantika? Kan Papa bisa langsung pulang ke rumah. Biar Cantika yang mengantar Rasman dan keluarganya,” kata Tari. “Tidak, ah. Mobil Cantika sempit,” jawab Baskara. Tari kaget mendengar jawaban Baskara. Setahu Tari papanya kadang-kadang suka memakai mobil anak-anaknya. Cantika berbisik ke Tari. “Mbak, Papa itu mau mengantarkan Tante Nina pulang ke rumah.” Mendengar perkataan Cantika, Tari mengerti maksud papanya. “Jadi ceritanya Papa lagi modus, nih?” tanya Tari. “He eh.” Cantika mengangguk. “Hati-hati nanti keduluan sama Papa,” bisik Tari. “Biarkan saja kalau Papa mau duluan,” kata Cantika. “Ayo Lukman, kita duduk di belakang.” Baskara masuk duluan ke dalam mobil, ia duduk di kursi paling belakang. Dito, anak-anak Baskara dan Aswin kaget melihat Baskara duduk di kursi belakang mobil Alphard. “Tuh, kan. Apa Cantika bilang. Papa lagi modus,” bisik Cantika. “Waow, tidak bisa dipercaya. Ini suatu keajaiban,” ujar Tari sambil berbisik. Seorang jendral mau duduk di kursi belakang mobil Alphard. Baskara mengalah demi wanita. Benar-benar suatu keajaiban. “Pak Baskara duduk di tengah saja. Biar saya yang duduk di belakang sama Lukman,” kata Nina. “Tidak usah. Saya sudah biasa duduk di kursi belakang mobil Alphard,” jawab Baskara. “Ayo Lukman, cepat masuk!” ujar Baskara. Lukman masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sebelah Baskara. Kemudian Ibu Enny dan Nina masuk ke dalam mobil. “Kapan Papa pernah duduk di kursi paling belakang mobil Alphard?” tanya Tari kepada Cantika. “Tidak tahu.” Cantika menggeleng kepala. “Sepertinya baru kali ini, deh,” ujar Tari. Akhirnya Ibu Enny dan Nina sudah duduk di dalam mobil. Salwa melambaikan tangannya ke Nina. “Dah dah Yang Ti. Dah dah Eyang Uyut. Dah dah Yang Kung,” kata gadis cilik itu. “Dah dah Salwa. Sampai ketemu lagi. Assamualaikum.” Nina melambaikan tangan ke Salwa. “Waalaikumsalam,” jawab semua orang. Pintu mobil pun tertutup secara otomatis. Dito masuk ke dalam mobil. Mobil Baskara pun berjalan meninggalkan teras restaurant.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN