Nina membawa makanan untuk Baskara. Nina menaruh makanan di atas meja. “Maaf, di warung hanya ada ini,” ucap Nina.
“Tidak apa-apa, Ibu Nina,” ujar Baskara. Baskara mengambil lauk pauk lalu di taruh di atas piring nasi.
“Saya ambilkan minum dulu.” Nina masuk ke dalam rumah untuk mengambi minum. Tidak lama ia kembali membawa segelas air putih. Ia meletakkan gelas itu di atas meja. Kemudian Nina duduk di kursi tamu menemani Baskara makan.
Baskara menoleh ke Nina yang hanya duduk tidak ikut makan. “Ibu Nina sudah makan?” tanya Baskara.
“Belum,” jawab Nina.
“Kenapa tidak sekalian makan? Mumpung warung sedang kosong,” ujar Baskara.
“Sebentar, saya ambil makanan dulu.” Nina masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian ia kembali membawa sepiring nasi beserta sayur dan lauk pauk. Nina duduk di kursi tamu dan makan bersama Baskara. Baskara mengunyah makanan sambil menoleh ke Nina yang sedang makan. Ia melihat makanan yang berbeda dengan makanannya.
“Ibu Nina makan dengan apa?” tanya Baskara sambil mengunyah makanannya.
“Sayur sop dan perkedel, Pak. Ini sayur sop sisa kemarin,” jawab Nina.
“Ibu makan makanan sisa warung?” tanya Baskara.
“Bukan sisa warung, Kemarin saya masak khusus untuk Pak Baskara. Saya takut Pak Baskara tidak mau makan makanan warung. Tapi Pak Baskara tidak datang, jadi saya panaskan untuk makan hari ini,” jawab Nina.
Baskara kaget mendengar perkataan Nina. Ia pun berhenti makan. “Kemarin Ibu masak khusus untuk saya?” tanya Baskara.
“Iya. Tapi tidak apa-apa, Pak. Makanannya bisa dijadikan lauk hari ini,” jawab Nina.
“Maafkan saya. Saya jadi merepotkan Ibu Nina,” ucap Baskara dengan perasaan bersalah.
“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Nina.
Tiba-tiba terdengar suara orang berbicara di teras. Baskara dan Nina menoleh ke jendela. Mereka melihat Cantika yang sedang berbicara dengan Dito. Lalu Cantika masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Cantika. Cantika datang membawa rantang.
“Waalaikumsalam,” jawab Baskara dan Nina.
“Papa, kok di sini? Papa tidak kerja?” Cantika mencium tangan Baskara dan menyalami Nina.
“Papa sedang makan siang,” jawab Baskara.
“Ini sudah lewat dari jam makan siang. Sudah jam setengah dua.” Cantika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
“Tadikan Ibu Nina sibuk lagi melayani pembeli. Jadi Papa tunggu dulu sampai Ibu Nina tidak sibuk,” ujar Baskara.
“Jadi Papa tidak kembali ke kantor?” tanya Cantika.
“Papa ke kantor lagi. Tapi nanti kalau makanan Papa sudah habis,” jawab Baskara.
“Kamu ngapain bawa-bawa rantang?” Baskara menunjuk ke rantang yang dipegang Cantika.
“Mau pulangin rantang. Cantika lupa belum pulangi rantang punya Tante Nina.” Cantika menaruh rantang di atas meja.
“Tante, Cantika pulangin rantangnya dalam keadaan kosong,” kata Cantika.
“Tidak apa-apa, Cantika,” jawab Nina.
“Duduk dulu, Cantika. Tante buatkan minum, ya.” Nina menaruh piring makan di atas meja lalu beranjak dari tempat duduk.
“Tidak usah, Tante. Tante makan dulu saja!” kata Cantika.
“Ibu Nina dari tadi belum makan siang. Dia sibuk melayani pembeli,” ujar Baskara.
“Iya, Cantika tahu.” Cantika membuka ponselnya lalu menelepon seseorang.
“Assalamualaikum, Man,” ucap Cantika ketika panggilannya tersambung.
“Waalaikumsalam,” jawab Rasman.
“Cantika sudah sampai di rumah Rasman. Sekarang ada di ruang tamu sama Papa dan Tante Nina,” kata Cantika.
“Aku turun sekarang.” Rasman mematikan telepon.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki turun dari tingkat atas. Rasman datang menemui Cantika.
“Sudah lama datangnya?” tanya Rasman.
“Baru saja,” jawab Cantika.
“A, tolong buatkan minum untuk Cantika. Sekalian bawa rantang ke dalam!” Nina memberikan rantang ke Rasman.
“Iya, Ma,” jawab Rasman.
“Mau minum apa?” Rasman bertanya kepada Cantika.
“Terserah apa saja,” jawab Cantika.
“Om, mau dibuatkan minum juga?” Rasman bertanya kepada Baskara yang sedang menikmati makanannya.
“Tidak usah. Om minum air putih saja,” jawab Baskara. Rasman masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minuman.
Cantika melihat satu kue bolu di atas piring kue. Kelihatannya kue itu sangat enak.
“Cantika mau makan?” tanya Nina.
“Terima kasih, Tante. Tadi Cantika sudah makan di rumah. Cantika mau kue saja.” Cantika mengambil kue bolu tersebut.
“Jangan diambil! Itu kue punya Papa,” seru Baskara ketika Cantika hendak mengambil kue.
“Papa pelit. Tadikan Papa sudah makan kue,” kata Cantika dengan kesal.
“Kue bolunya enak sekali. Itu pasti buatan Ibu Nina,” ujar Baskara. Kalau soal makanan enak Baskara tidak mau mengalah kepada anaknya, apalagi kue itu buatan Nina.
“Masih ada kok kuenya. Kemarin Tante bikin kue itu untuk Pak Baskara, tapi Pak Baskara tidak bisa datang. Nanti Tante suruh Rasman bawakan untuk Cantika,” ujar Nina.
Rasman datang membawakan segelas sirop untuk Cantika. Rasman menaruh sirop di atas meja. “A, tolong bawakan kue bolu untuk Cantika!” ujar Nina.
“Iya, Ma.” Rasman kembali masuk ke dalam rumah.
Baskara sudah selesai makan. Ia mengelap mulutnya dengan tissue lalu minum air putih yang sudah disediakan.
“Terima kasih atas makan siangnya. Saya mau kembali lagi ke kantor,” ucap Baskara.
“Sama-sama, Pak Baskara,” jawab Nina.
“Papa tidak bayar makanannya?” tanya Cantika.
“Oh, iya. Papa lupa.” Baskara hendak mengambil dompet.
“Tidak usah, Pak!” ujar Nina.
“Loh, kenapa?” tanya Baskara.
“Pak Baskara sudah sering mengajak keluarga saya makan di restaurant,” jawab Nina.
“Lain kali kalau saya makan di sini lagi jangan menolak dibayar sama saya, ya! Nanti Ibu Nina bisa bangkrut kalau sering menggratiskan saya makan di sini,” ujar Baskara.
“Insyaallah tidak akan bangkrut, Pak,” jawab Nina.
Rasman datang membawa sepiring kue bolu lalu diletakkan di atas meja. Melihat kue bolu, Baskara ingat dengan kue miliknya yang tersisa satu lagi.
“Oh, iya. Saya lupa kuenya. Saya bungkus saja untuk di kantor.” Baskara mengambil tissue untuk membungkus kue.
“Jangan pake tissue, Pak! Sebentar saya ambilkan tempat kue.” Nina beranjak dari tempat duduk lalu masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudia ia kembali membawa kotak makan. Di dalam kotak makan sudah ada beberapa potong kue bolu. Nina mengambil kue bolu yang tersisa dari piring kue lalu ia masukkan ke dalam kotak makan. Nina menutup kembali kotak makan tersebut lalu ia masukkan ke dalam tas kain.
Nina memberikan kotak makan kepada Baskara. “Ini untuk Bapak ngemil di kantor,” kata Nina. Baskara tersenyum, ia tidak menyangka kalau Nina begitu perhatian kepadanya.
“Terima kasih, Bu Nina,” ucap Baskara.
“Sama-sama, Pak,” jawab Nina.
Baskara beranjak dari kursi. “Saya permisi dulu, Bu Nina,” ujar Baskara.
“Iya, Pak Baskara,” jawab Nina.
Baskara mengulurkan tangan ke Cantika, Cantika mencium tangan Baskara.
“Assalamualaikum.” Baskara keluar dari rumah Nina.
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang berada di ruangan itu.