“Belum, Ma. Sebentar lagi dimulai,” jawab Rasman.
Nina dan Baskara berjalan menuju ke pintu ballroom, Rasman dan Dito mengikuti dari belakang. Di depan pintu ballroom Baskara dipersilahkan mengisi daftar tamu.
“Rasman, tolong kamu yang isi buku tamu!” ujar Pak Baskara. Rasman mengisi buku tamu dengan nama dan alamat Baskara.
Panitia memberi konsumsi kepada Nina dan Baskara. Setelah itu mereka masuk ke dalam ballroom. Ketika Baskara dan Nina duduk acara wisuda acara wisuda fakultas kedokteran universitas negri pun dimulai.
Pukul sebelas siang acara wisuda Cantika telah selesai Nina dan Baskara keluar dari ballroom. Di depan ballroom Rasman dan Cantika sudah menunggu Nina dan Baskara.
“Selamat ya, Cantika.” Nina dan Cantika saling cipika-cipiki.
“Terima kasih, Tante,” ucap Cantika.
“Sekarang waktunya kita makan siang bersama untuk merayakan kelulusan Cantika,” ujar Baskara kepada Nina.
Baskara menoleh ke Rasman. “Rasman, Om tadi lupa memberitahu nenek dan adikmu untuk makan siang bersama. Coba kamu
telepon nenek atau adikmu untuk bersiap-siap! Nanti Pak Tatang menjemput nenek dan adikmu,” ujar Baskara.
“Baik, Om.” Rasman membuka ponselnya dan menelepon Lukman.
“Cantika, kamu telepon Pak Tatang. Suruh dia menjemput nenek dan adik Rasman!” ujar Baskara kepada Cantika.
“Baik, Pa.” Cantika menelepon Tatang.
“Kita mau makan siang dimana?” tanya Nina.
“Di restaurant di jalan Dayang Sumbi. Tari memesan tempat di sana,” jawab Baskara.
Nina bingung ketika mendengar nama Tari. Ia tidak mengenal siapa Tari.
“Tari siapa, Pak?” tanya Nina dengan bingung.
“Tari adalah anak saya yang paling besar,” jawab Baskara.
“Nanti kalau ketemu akan saya perkenalkan kepada Bu Nina,” ujar Baskara.
Setelah selesai menelepon nenek dan Lukman, Rasman menghampiri Nina dan Baskara.
“Bagaimana, Man. Apakah nenek dan adikmu bisa ikut makan siang bersama kita?” tanya Baskara.
“Bisa, Om. Kebetulan Lukman belum ada acara dengan teman-temannya,” jawab Rasman.
“Baguslah. Jadi kita bisa kumpul bersama-sama,” ujar Baskara.
Cantika selesai menelepon Tatang supirnya, ia mendekati Baskara.
“Pak Tatang sudah Cantika beri tahu, sekarang Pak Tatang langsung berangkat menjemput Lukman dan nenek,” kata Cantika.
“Kalau begitu kita berangkat sekarang,” ujar Baskara.
Baskara melihat ke depan ballroom mobilnya belum ada. Baskara menoleh ke Dito.
“To, mana mobilnya?” tanya Baskara.
“Mobil sedang menuju ke sini, Komandan. Macet di tempat parkir,” jawab Dito. Terpaksa mereka harus berdiri di depan ballroom menunggu mobil yang terjebak macet di tempat parkir.
Beberapa menit kemudian mobil pun datang. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Cantika dan Rasman duduk di kursi belakang. Sedangkan Nina dan Baskara duduk di kursi tengah. Mobil pun meluncur meninggalkan kampus Cantika.
Baskara melepas dasi lalu ia membuka kancing kemeja yang paling atas.
“Kalau memakai dasi terlalu lama rasanya seperti tercekik,” ujar Baskara kepada Nina.
Nina menoleh ke Baskara. “Bukankah Pak Baskara sudah biasa memakai dasi?” tanya Nina. Baskara seorang perwira tinggi angkatan darat berpangkat Letnan Jendral. Sudah pasti seorang jendral sering menggunakan setelan jas di setiap acara resmi di luar kedinasan.
“Memang saya sudah terbiasa memakai dasi. Tapi tetap saja rasanya kurang nyaman,” jawab Baskara.
Hari sabtu siang jalan di kota Bandung sangat padat sehingga mobil Baskara berjalan dengan merayap. Setelah dua puluh menit jalan dengan merayap akhirnya mereka sampai di restaurant di jalan Dayang Sumbi.
Mobil Baskara berhenti di depan restaurant. Pintu mobil terbuka secara otomatis. Namun, hanya pintu sebelah kiri yang dibuka oleh supir. Dito sudah siap berdiri di depan pintu mobil. Baskara turun dari mobil lebih dahulu. Barulah Nina turun dari mobil.
Nina kesulitan turun dari mobil karena ia menggunakan kain. Baskara mengulurkan tangan ke Nina. Namun, Nina memilih untuk memegang lengan Dito sebagai pegangan daripada memegang tangan Baskara.
Baskara melotot kearah Dito. Dito merasa tidak enak kepada komandannya karena Nina lebih memilih memegang lengan tangannya daripada memegang tangan Baskara. Setelah Nina turun barulah Cantika dan Rasman turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam restaurant.
Ketika mereka berjalan masuk ke dalam restaurant tiba-tiba seorang gadis kecil berusia lima tahun berteriak, “Yang Kung! Tante!” Gadis cilik itu berlari menghampiri Baskara. Baskara langsung mensejajarkan posisinya dengan gadis kecil itu lalu merentangkan kedua tangannya. Gadis kecil itu menabrak tubuh Baskara hingga Baskara hampir terjatuh ke belakang.
“Aduh! Yang Kung hampir jatuh,” seru Baskara. Gadis kecil itu tertawa terkekeh-kekeh. Baskara mencium pipi gadis kecil itu.
“Salam dulu sama Yang Ti!” ujar Baskara.
“Yang Ti nya mana?” tanya gadis kecil itu.
Baskara menoleh ke kanan ke kiri dan ke belakang mencari Nina. Ternyata Nina berdiri di belakangnya.
“Ini.” Baskara menunjuk ke Nina yang berdiri di belakangnya. Gadis kecil itu menghampiri Nina lalu mencium tangan Nina.
“Pintar sekali.” Nina mengusap kepala gadis kecil itu.
“Siapa namanya?” tanya Nina.
“Sal-wa,” jawab gadis itu.
“Salwa belum salam sama Tante.” Cantika mengulurkan tangan ke Salwa. Salwa mencium tangan Cantika.
“Salam dulu sama Om Rasman!” ujar Cantika. Salwa mencium tangan Rasman. Kemudian Salwa mendekati Dito.
“Om Dito.” Salwa mencium tangan Dito. Dito mengusap kepala Salwa.
“Salwa cucu saya paling besar. Dia anaknya Tari. Anak Tari ada dua, yang paling kecil laki-laki,” ujar Baskara kepada Nina.
Tiba-tiba terdengar suara teriak seorang balita, “Aaahhh.” Semua orang menoleh ke arah suara. Seorang balita berjalan sambil dituntun oleh perempuan muda. Batita itu nampak gembira ketika melihat Baskara. Di belakang perempuan muda itu ada seorang laki-laki muda yang mengikuti perempuan muda itu.
“Tuh, cucu saya yang nomor dua.” Baskara menunjuk ke arah batita tersebut. Baskara berjalan menghampiri batita itu.
“Halo halo halo jagoan Yang Kung,” sapa Baskara. Batita itu tertawa ketika Baskara mendekatinya. Baskara menggendong batita tersebut lalu membawa batita itu mendekati Nina.
“Salam dulu sama Yang Ti!” ujar Baskara kepada batita itu. Nina mengulurkan tangannya ke batita itu. Lalu batita itu memegang telapak tangan Nina dengan kedua tangannya dan menempelkan punggung telapak tangan Nina di mulutnya yang penuh air liur.
“Pinter.” Nina menyentuh pipi batita yang gembil dan menggemaskan.
“Siapa namanya?” Nina bertanya kepada batita itu.
“No-val.” Salwa menjawab pertanyaan Nina.
“Yang Kung Yang Kung.” Salwa memanggil Baskara sambil memukul-mukul kaki Baskara.
“Iya.” Baskara menoleh ke arah Salwa.
“Tadi Ade ee,” kata Salwa.
Baskara memandang wajah Noval. “Ade ee? Bau, dong.” Baskara mencium pipi Noval yang gembil. Batita itu tertawa karena geli terkena kumis Baskara.
“Tapi sudah dibersihkan sama Mama. Popoknya sudah diganti sama Mama,” kata Salwa.
Perempuan muda yang tadi menuntun Noval mendekati mereka.