Melihat secara nyata orang yang biasanya hanya bisa dilihat di televisi ternyata terasa menakjubkan. Setidaknya membuat pikiranku terbuka, bahwa mereka juga manusia biasa dengan nasib di atas rata-rata.
Harvey Jarvis, idola masa kini yang selalu dipuji karena kesempurnaannya, kini ada di depanku. Terduduk di kursi dan diikat menggunakan rantai besi. Sama seperti aku kemarin.
Cukup miris juga karena seseorang yang biasanya menggenggam dunia dengan pesonanya itu kini tak berdaya. Duduk di kursi dengan mata terpejam dan tidak sadarkan diri. Aku mulai bertanya-tanya, apakah penyambutan Herakles memang harus seperti ini.
Ruby bilang, penyambutan dengan interogasi yang kasar ini sudah jadi tradisi. Bukan cuma aku, Arthur, atau Jarvis saja yang mengalami. Ruby dan Romy juga. Katanya tradisi mengerikan ini adalah salah satu langkah awal untuk memastikan bahwa Herakles punya keberanian dan mental yang kuat.
Aku berpendapat lain. Menurutku tradisi bodoh buatan Profesor Song itu hanyalah media untuk kesenangan pribadinya. Mungkin menakuti kami adalah hal yang menyenangkan buatnya. Bisa saja ia seorang psikopat yang bersembunyi di balik topeng profesi. Apalagi dengan penampilannya yang lebih mirip mafia dibandingkan seorang profesor. Namun semua itu hanya asumsiku semata, tak ada buktinya.
Sebuah lampu besar dinyalakan dan diarahkan tepat ke wajah Harvey. Sama seperti apa yang harus aku lalui kemarin. Ia akhirnya terbangun dan tampak ketakutan.
"Siapa kalian? Aku bisa saja melaporkan kalian ke pihak berwenang!" pekiknya.
Profesor Song tertawa seolah semua ini lucu baginya. "Laporkan kalau begitu! Bukannya kau tak bisa apa-apa karena mereka akan menangkapmu begitu tau siapa dirimu?"
Profesor Song akhirnya menanyakan pertanyaannya. Pertanyaan yang sama. "Kau bekerja untuk siapa?"
Harvey tak bisa menjawabnya. Aku serasa ingin menolongnya, tapi siapalah aku? Aku bahkan belum kenal tempat ini sepenuhnya. Bisa saja aku sendiri juga sedang terjebak dalam tipuan.
Karena tidak bisa menjawab, akhirnya Harvey dibiarkan sendirian di ruangan itu. Kami diminta keluar. Tentu saja aku keluar dari ruangan itu bersama yang lainnya.
"Bukankah terlalu kejam? Apakah tidak ada cara untuk membantunya?" tanyaku pada Romy dan Ruby. Aku tidak bertanya pada Arthur karena tau bahwa ia tak akan peduli.
"Tidak ada. Lagi pula b*****h seperti dia pantas untuk menerimanya," ucap Ruby, tampak tak senang dengan kehadiran Harvey.
"b*****h?"
"Iya, b*****h kaya dan terkenal sepertinya yang hanya bisa berpura-pura peduli pada orang lain meski sebenarnya tidak," tambah Ruby.
Romy kemudian mengelus-elus punggung Ruby. Memintanya tenang. Kalau dilihat-lihat, dua orang ini amat mirip. Bentuk matanya yang sipit dan naik ke atas seperti mata kucing, bentuk hidungnya, bahkan cara mereka bicara. Nama mereka juga mirip, Romy dan Ruby. Seperti terlalu kebetulan untuk disebut sebagai kebetulan.
"Apakah kalian saudara?" tanyaku.
"Tentu, kami kembar malah," jawab Romy.
Aku terkejut.
"Bukannya kemarin aku sudah memberitahukan tentang nama kami kepadamu? Ruby Marionette Yoo dan Romy Mario Yoo," tambah Ruby.
Aku malu sendiri. Pertanyaanku tadi berarti terdengar sangat konyol.
"Ah, benarkah? Maaf, aku mungkin terlalu terkejut kemarin sampai tak mendengarkan baik-baik," kataku.
"Aku bisa mengerti. Terlalu banyak yang terjadi padamu kemarin. Kau pasti terkejut."
Banyak sekali yang terjadi padaku kemarin. Mulai dari bertemu area perlimbahan, dikejar-kejar, dipanah, diinterogasi secara kasar, lalu masuk ke dunia baru yang sama sekali asing denganku ini. Terlalu banyak yang terjadi.
"Mmh ... omong-omong, apajah kalian teman?" Romy menunjuk aku dan Arthur.
Aku menoleh kepadanya. Ia diam saja seperti tak tertarik dengan pembicaraan kami. Entahlah, aku tidak tau apakah manusia yang dingin itu bisa aku sebut sebagai teman.
***
Bahkan sampai malam, Harvey Jarvis tidak bisa menjawab pertanyaan Profesor Song. Ia tampak lemas tak berdaya karena sedari tadi hanya diberi segelas air. Melihat manusia yang biasanya bersinar ditekan terus-menerus dengan mata kepalaku sendiri seperti ini sungguh menyiksa. Seorang bintang diperlakukan bagai binatang dalam semalam.
Aku merasa diriku menjelma jadi orang jahat yang hanya melihat saja meskipun tau bahwa ia butuh bantuan. Aku sama tak berdayanya.
Aku ingin sekali untuk keluar dari ruangan ini. Akan tetapi Profesor Song, si mafia bertopeng profesor itu melarang siapapun untuk keluar dari ruangan ini tanpa seijinnya. Kami semua bahkan belum makan, tak sempat minum juga. Sehingga bukan hanya Harvey Jarvis, aku sendiri juga rasanya sudah lemas. Masih untung tidak pingsan.
"Apakah otakmu memang sebodoh itu? Untuk apa aku memberimu waktu begitu panjang sedari tadi?" tanya Profesor Song pada Harvey.
Jawaban Harvey sedari tadi tetap sama. Ia menyebutkan nama Gamal, manager aslinya. "Kau ingin aku menjawab apa? Aku bekerja pada Gamal! Dia manager yang mengatur semua pekerjaanku!"
"Bodoh! Kita tinggalkan saja dia malam ini di sini!" Profesor Song pergi, kami mengikuti. Ia menutup pintu masuk tempat itu dan menguncinya.
Meski aku tak tega melihatnya, aku harus berhati kuat. Nyatanya aku tak bisa membantu apa-apa. Aku harus belajar untuk mempedulikan diriku sendiri tanpa peduli pada orang lain karena nasibku sendiri belum pasti. Aku tak punya hak untuk peduli pada orang lain.
***
Satu-satunya orang yang harus aku pedulikan saat ini adalah diriku sendiri, nenek, dan ibuku. Selain itu, tak akan menguntungkan bagiku untuk peduli. Aku sudah berusaha keras untuk tidak peduli pada siapapun. Sayangnya, aku tak bisa tidur karena merasa kasihan pada Harvey. Seorang bintang yang sekarang dikurung di dalam ruang dingin dan remang-remang itu.
Semuanya akan lebih mudah kalau aku tidak peduli. Karena pada dasarnya kepedulian itu mengikat. Sekali aku peduli, maka selanjut-selanjutnya, akan sangat sulit untuk tidak peduli.
Aku tau konsekuensinya dengan baik. Namun bukannya menahan diri, aku malah keluar dari kamarku diam-diam dan pergi menuju ruangan itu sendiri. Melangkahkan kaki sesunyi mungkin, bernapas setenang mungkin.
Bukan hanya itu, aku bahkan membawa air dan satu buah apel di tanganku. Entah apa yang sebenarnya aku pikirkan ketika memutuskan untuk melakukan ini.
Tampaknya semua orang sedang tertidur. Tak ada siapa-siapa di luar sini. Aku aman sampai ke depan ruangan itu.
Kata Ruby, pintu ruangan ini hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari Profesor Song. Tidak ada orang lain yang bisa membukanya. Jadi aku tak mencoba, tak mau membuang-buang waktuku secara percuma. Sebagai gantinya aku mengetuk pintu besi itu. Namun sayangnya tak ada bunyi apa-apa yang timbul dari sana. Besi pembatasnya terlalu tebal.
"Hei! Kau bisa mendengarku?" Aku berusaha berbisik, namun tak mendapatkan respon apa-apa.
Aku mengencangkan suaraku. "Hei! Bisa dengar aku? Tolong jawab kalau kau bisa dengar aku!"
Namun sepertinya usahaku sia-sia. Kalau dipikir-pikir lagi, ruangan di dalam sana mungkin didesain kedap suara. Sama seperti ruangan-ruangan lainnya yang ada di bangunan ini.
Aku hendak berteriak lagi, tapi terhenti karena sesuatu menyentuh bahuku. Ternyata Arthur. Aku hampir saja memukulnya, bahkan sudah pasang kuda-kuda.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyaku.
Ia tak menjawabnya. Selain itu, ia juga melemparkan pandangan seolah berkata 'urus saja urusanmu sendiri' kepadaku. Sungguh menyebalkan.
Arthur membawa gadget di tangannya. Tanpa banyak bicara, ia mendekat ke arah alat pemindai sidik jari untuk membuka pintu dan menghubungkannya dengan gadget yang ia pegang.
Lalu ia memencet-mencet gadget di tangannya itu dan beberapa detik kemudian pintu terbuka lebar.
"Cepat selesaikan," kata Arthur dingin.
Aku menatapnya dengan bola mata yang berbinar-binar. Siapa sangka, manusia dingin ini akan membantuku membobol pintu.
Aku masuk ke dalam ruangan itu dengan berhati-hati. Situasi ruangan yang gelap membuatku sulit bergerak.
"Si-siapa itu?" Harvey berteriak. Ia tampaknya tak sadarkan diri dan baru sadar setelah mendengar suara langkah kakiku.
"Ssstt!" desisku, menyuruhnya diam, "Aku punya air dan apel untukmu. Memang tidak banyak, tapi setidaknya aku ingin membantumu."
Aku mendekatkan mulut botol ke bibirnya yang kering dan pecah-pecah itu. Seketika ia minum sampai habis tak bersisa. Tanda bahwa ia kehausan parah. Setelahnya aku juga mendekatkan apel ke mulutnya. Ia menyantapnya dengan lahap, lalu mulai mengeluarkan air mata. Aku bisa paham bagaimana perasaannya. Ia pasti merasa buruk sekali dengan keadaannya saat ini. Merasa tak berdaya dan sakit hati.
"Jawabannya Elise," ucapku, "Ketika besok pagi kami datang lagi, jawab saja Elise. Elise dari lagu Fur Elise."
Ia mengangguk, tersenyum kecil sambil menitihkan air mata karena merasa punya setitik harapan.
"Terima kasih," tuturnya. Aku lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Arthur menutupnya seperti semula.
Kami lalu berjalan berdampingan menuju kamar masing-masing. Meskipun rasanya seperti ada di dua dunia yang berbeda, ia ada dalam dunianya sendiri.
Aku tak berhenti mengamatinya. Ia benar-benar tak terduga. Cangkangnya yang dingin membuat siapa saja tak menyangka kalau ia bisa melakukan hal baik seperti ini.
"Kenapa kau membantuku?" tanyaku.
"Aku tidak membantumu. Aku hanya tidak tahan melihat orang melakukan hal-hal yang tidak efektif dan tidak berguna," katanya lalu masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku mendengus. Siapa yang ia maksud sebenarnya? Aku? Apa katanya? Hal tidak berguna?
Aku ingin sekali mencungkil bola mata cokelatnya itu. Tapi akan kuampuni karena setidaknya ia sudah membantuku.
Aku akhirnya masuk ke kamarku sendiri. Kemudian aku menatap satu buah apel yang tergeletak di atas meja. Setiap melihatnya, aku teringat nenek dan ibu. Aku menerka-nerka, apa mungkin mereka akan bangga kalau tau aku membantu orang lain seperti hari ini?
***
Kini aku paham kenapa Ruby memaki-maki suara alarm terkutuk itu. Karena memang mengganggu. Bunyi terompet yang memainkan lagu Fur Elise itu rasanya ingin kumusnahkan dari muka bumi. Padahal aku baru dua kali dibangunkan dengan alarm itu. Bayangkan betapa muaknya Ruby dan Romy yang sudah lebih lama tinggal di tempat ini.
"s**l!" ujarku.
Ruby lalu tertawa. "Selamat datang ke klub pengutuk alarm!"
Kemudian Ruby dan Romy ikut memaki setelah aku. Satu-satunya orang yang tetap tenang adalah Arthur. Ia tampak tak terganggu dengan alarm menyebalkan itu. Wajahnya tetap datar seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Ruby dan Romy langsung memandu jalan, menuju tempat Harvey dikurung. Aku dan Arthur mengikuti.
Profesor Song sudah ada di sana terlebih dulu. Ia duduk di depan Harvey dengan pose sombong yang membuatnya makin kelihatan mirip mafia.
"Lepaskan!" Profesor Song memerintahkan Ruby dan Romy.
"Tunggu, Prof! Bukankah kau belum menanyakan jawabannya?" tanya Ruby.
"Tak perlu, ada dua orang yang diam-diam kemari dan memberitahukan jawabannya kemarin malam." Profesor Song menatap aku dan Arthur.
Sontak aku melirik ke arah Harvey, melemparkan tatapan penuh tanda tanya.
"Tidak, aku tidak memberitahunya," kata Harvey.
"Tempat ini dijaga dengan ketat. Hanya kamar pribadi kalian yang bebas dari pengawasan. Kalian pikir aku tak tau apa yang kalian lakukan semalam?" ucap Profesor Song. Ia tersenyum lebar sampai membuat aku bingung. Garis-garis halus di wajahnya tampak jelas.
Namun sedetik kemudian wajahnya berubah marah. "b******k! Beraninya kalian!"
Aku berusaha untuk tidak menunduk. Aku akan menunjukkan bahwa aku tidak takut. Lagi pula apa yang kulakukan bukanlah kesalahan. Membantu orang lain bukanlah suatu hal yang salah.
"Kenapa memangnya? Apa yang salah dari membantu orang lain?" tanyaku.
Laki-laki tua itu hanya mendengus kemudian mengacungkan telunjuk di antara aku dan Arthur.
"Kalian berdua, bersihkan peternakan sapi sekarang!"
***
Ruby akhirnya mengantarkan kami jauh ke bagian belakang gedung. Ada padang berwarna hijau, cukup luas tapi ada di dalam ruangan dengan sapi-sapi yang duduk-duduk dimana saja. Meski di dalam ruangan, cahaya matahari bisa masuk karena bagian atapnya dibuat transparan sehingga tembus cahaya. Sapi-sapi tersebar bebas bak sedang berada di rumah mereka sendiri.
"Semoga beruntung," kata Ruby lalu menepuk bahuku.
Kami masuk ke dalam area rerumputan itu. Meski ini hukuman nyatanya aku cukup senang. Melihat makhluk hidup lain--selain manusia--dari dekat begini membuatku kagum. Suatu pengalaman baru yang mungkin tak akan aku lupakan seumur hidupku.
Sapi-sapi itu punya badan yang cukup besar. Mungkin dua sampai tiga kali ukuran tubuhku. Sementara rumput ternyata terdiri dari daun-daun kecil dan panjang yang bersatu jadi kumpulan-kumpulan. Satu hal yang sangat menarik perhatian adalah bau tidak sedap yang timbul dari tumpukan kotoran sapi-sapi itu.
Berbeda dari aku yang sibuk mengamati sapi dan rumput, Arthur langsung membersihkan tempat ini. Ia membersihkan kotoran sapi dan membuangnya ke tempat khusus.
Hidung dan dahi Arthur mengkerut menahan bau sehingga ia tampak seperti sedang berekspresi. Aku tertawa melihatnya.
"Baru kali ini aku melihat ekspresi di wajahmu selain datar," kataku.
"Jangan banyak bicara, lebih baik kau membantu."
"Haha, iya, iya. Maafkan aku."
Aku lalu membantunya membersihkan tempat ini sambil mengamati gerak-gerik sapi.
Setelah hampir satu jam berada di sini, aku tau bahwa sapi punya gerakan yang lambat. Mungkin karena tubuh besarnya yang sulit untuk diajak bergerak cepat. Sapi juga punya kebiasaan yang unik, yaitu mengunyah makanan berupa rumput lalu memuntahkannya lagi menjadi bentuk bola-bola lalu memakannya lagi. Aku tak tau alasan mengapa sapi melakukan itu, namun apapun itu, aku yakin ada alasannya.
Aku dan Arthur duduk di rerumputan yang bersih. Aku mengamati sapi-sapi itu, sedangkan Arthur tampak sedang melamun, entah memikirkan apa sebenarnya.
Aku tersenyum menatapnya. Ia sama sekali tidak seburuk yang aku kira. Meski tampaknya dingin, aku merasa ia adalah orang yang hangat. Karenanya, aku mengulurkan tanganku. "Rasanya kita belum berkenalan secara benar. Perkenalkan, aku Griselda Brave. Kau bisa memanggilku Gris."
"Arthur," katanya singkat, bahkan tak menyambut uluran tanganku.
"Mau jadi teman?" tawarku.
"Tidak, terima kasih."