Setelah jam pelajaran usai tanpa babibu lagi Agatha langsung saja keluar dari kelas dan berjalan dengan tergesa menuju ruang osis. Seperti biasanya, setiap hari kamis akan di adakan rapat rutin dan hari ini ia punya topik berbeda dari rapat sebelumnya dan sialnya Bu Ani sepertinya sedang keasyikan mengajar di kelas IPA 3 sampai-sampai ia lupa waktu dan melebihi 15 menit dari waktu yang telah di tentukan untuk pulang sekolah. Begitu sampai di depan pintu bertuliskan 'Ruang Osis' tanpa menunggu lama ia langsung saja membukanya.
CEKLEK
"Lama amat sih Ta," gerutuan demi gerutuan terus masuk ke dalam gendang telinganya hingga membuatnya hampir emosi, emang siapa juga sih yang mau telat!
"Sorry, tadi Bu Ani gak ngedenger bel pulang keknya," bela Agatha yang kemudian duduk di salah satu kursi yang khusus di sediakan untuk ketua osis.
Para anggota osis yang lain hanya mengangguk saja sebagai respon, padahal kalau mereka yang telat bisa di pastikan nyawanya akan terancam hanya dengan melihat tatapan sadis dari seorang Agatha.
"Oke, di mulai aja ya," interupsi Agatha agar semuanya kembali fokus ke isi rapatnya.
"Gue mau dari sekertaris dulu," ucap Agatha.
Safa menelan ludahnya susah payah, kemudian dengan enggan mulai membuka buku agenda yang sejak tadi ia bawa dan memang wajib ia bawa ketika ada rapat osis. "Jadi kemarin kan kita udah sepakat bakal bikin acara dengan judul 'penggalangan dana untuk penderita kanker' yang tujuannya gak lain dan gak bukan adalah buat ngasih semangat ke para penderita kanker tersebut sekaligus memperingati hari kanker sedunia. Gue udah coba komunikasi sama kepala sekolah, dan dia ngedukung banget sama keberlangsungan acara kita nantinya. Secara gak langsung kita udah punya lampu ijo buat acara ini. Tapi ada satu masalahnya ...."
"Apa?" tanya Agatha dengan seksama.
"Beliau emang ngizinin tapi beliau gak ngejamin kita bakal dapet target uang yang kita mau."
"Emang kenapa?"
"Ya jelas karena target kita sebelumnya adalah penggalangan dana dari siswa. Kita di suruh buat mikir realistis, katanya sekaya-kayanya siswa gak akan tuh sampe ada yang nyumbang 1 juta apalagi cuma buat acara kayak gini," tutur Safa.
Agatha menganggukan kepalanya. "Bener juga, yaudah laporan lo gue terima."
Safa menghembuskan napas leganya, kemudian kembali duduk dengan tenang di kursinya.
"Sekarang gue mau dari bendahara."
Maya berdiri. "Gue mau ngelanjut aja dari yang udah Safa bilang tadi. Ya, kita emang kekurangan dana. Walaupun mau di tambah sama uang kas Osis jumlahmya gak akan ada sampe target yang udah kita tentuin," ucapnya sembari membuka beberapa lembar kertas.
Agatha menghela napasnya. "Lo fikirin konsepnya gimana supaya acara kita berjalan dengan lancar." Maya menganggukan kepalanya.
"Ada yang mau ngasih pendapat?" tanya Agatha sembari mengedarkan tatapannya ke seluruh anggota osis yang ada di hadapannya.
Sontak para anggota osis yang lain langsung bersikap seolah-olah tak menatap Agatha, soalnya kalau nggak begitu bisa-bisa mereka yang kena tunjuk.
"Ta, gue mau ngasih pendapat," Adit selaku wakil ketua osis mengacungkan tangannya.
Agatha mengangguk, memepersilahkan Adit untuk berpendapat.
"Gimana kalo kita bikin acara penggalangan dana tapi dananya bukan cuma dari siswa aja ... maksudnya kenapa kita enggak minta donasi dari donatur SMA ini?"
Salah satu anak cowok kelas 11 mengacungjan tangannya. Agathapun langsung mempersilahkannya untuk berbicara. "Maaf sebelumnya kalau menyela. Tapi kalau menurut gue kak, itu kayaknya susah deh. Jangankan kita, kepala sekolah aja setiap mau ngundang beliau ke acara perpisahan atau lainnya suka gak dateng."
"Nah bener tuh," timpal yang lainnya.
Adit menganggukan kepalanya, ucapan juniornya itu ada benarnya juga.
"Kalo gitu ada saran lain gak?" tanya Agatha.
Tiba-tiba Safa kembali memgacungkan tangannya. "Adit ngusulin buat ngundang para donatur SMA ini sedangkan, Rudi bilang beliau susah di temuin. Gue punya solusi, kalian tau Mario?"
Seluruh anggota osis mengangguk tanda mengetahuinya termasuk Agatha. Tiba-tiba Safa tersenyum penuh arti pada Agatha hingga membuat cewek itu langsung mengeluarkan alarm tanda bahaya.
"Gue denger lo pacarnya Mario, kenapa lo gak bujuk Mario supaya kakeknya bisa hadir di acara ini?" tanya Safa sembari menaik turunkan alisnya.
Dan begitu Agatha melihat ke para anggota osis lainnya, mereka juga tengah menatapnya dengan penuh harap.
Sial! Ia terjebak.
° ° °
"Ada Mario gak?" tanya Agatha pada seorang cewek yang keluar dari kelas 11 IPS 5
Cewek itu yang di tanya Agatha sontak saja langsung gelagapan. "A ... ada kak," sahutnya.
"Tolong panggilin ya," pinta Agatha yang langsung di angguki olehnya.
Agatha melipat kedua tangannya didepan d**a sembari bersender di tembok samping pintu kelas 11 IPS 5.
Kalau saja tidak terpaksa mana mau ia menemui Mario.
"Eh, sayangnya gue," celetuk Mario ketika mendapati Agatha ada di depan kelasnya.
Agatha memutar kedua matanya jengah, kemudian berdiri dengan benar dan menghadap ke cowok itu.
"Ada apa?" tanya Mario.
Agtaha mempertimbangkan terlebih dahulu dengan apa yang akan ia ucapkan, takut-takut ia salah dalam berucap. "Gu ...."
"Sini deh duduk, masa bertamu ke kelas pacar sambil berdiri." Mario menarik tangan Agatha hingga membuat cewek itu duduk di bangku yang ada di depan kelas.
"Jangan pegang-pegang bukan mukhrin," sewot Agatha sembari melepaskan tangannya yang dengan kurang ajarnya malah di genggam oleh Mario.
"Ya udah yu, ke KUA biar jadi mukhrim," ucapnya sembari tersenyum lebar.
Sabar, sabar.
"Udah ah ngeladenin lo ngomong gak akan ada abisnya. Langsung aja ke intinya, gue mau minta tolong sama lo," ucap Agatha.
"Minta tolong apa?"
"Intinya lo bisa apa enggak?"
"Bisa dong," sahutnya cepat. Hingga membuat Agatha berfikir kalau cowok di hadapannya ini hanya menganggapnya sedang bercanda.
"Gue serius," tekan Agatha.
"Ya Allah Yang lo ngebet banget gue seriusin sih," kekeh Mario.
"Yo! Dengerin dulu," gerutu Agatha kesal.
"Oke, oke."
"Gue mau lo bantu supaya gue bisa ketemu sama kakek lo," ucap Agatha pelan-pelan agar Mario dapat mencernanya dengan mudah.
"Gampang," sahut Mario cepat.
Dahi Agatha berkerut samar, segampang itu? "Lo yakin bisa bikin gue ketemu sama kakek lo?"
"Seratus persen yakin," ucapnya mantap.
"Bagus so ...."
"Tapi gak gratis," sela Mario sembari mengeluarkan tanduk devilnya.
Agatha berdoa dalam hati agar cowok ini tidak meminta yang aneh-aneh padanya.
"Gak ikhlas banget sih!" rutuk Agatha.
Mario terkekeh. "Ikhlas dong, masa sama pacar sendiri gak ikhlas."
"Kalo ikhlas ngasih sesuatu itu harus gratis, jangan ada imbalannya," tekan Agatha.
"Gak akan sulit kok feedbacknya," ucap Mario sembari tersenyum miring.
Agatha berdecak kesal, lebih baik ia mengalah saja, makin lama berurusan dengan Mario makin memhuatnya naik darah pula.
"Ya udah apa?"
"Tembak gue sekarang juga," ucap Mario sembari tersenyum evil.
MARIO, KENAPA GAK MATI AJA SIH LO!