Suara bayi lain ikut terdengar. “Yang satunya bangun juga,” kata Zahra. Arvin menghela napas dramatis. “Dua lawan satu.” “Makanya cepat pulang.” Arvin menatap jam di dinding. Masih pukul sebelas siang. “Aku usahakan.” “Janji?” “Janji.” Namun sebelum pulang, Arvin harus melakukan satu hal lagi. Ia bertemu dengan seorang pria di sebuah kafe kecil yang tenang. Pria itu mengenakan jaket sederhana dan duduk di sudut ruangan. Begitu Arvin datang, pria itu berdiri. “Pak Arvin.” “Duduk saja.” Pria itu adalah kepala tim keamanan yang Arvin pekerjakan secara pribadi. Tidak ada kontrak resmi. Tidak ada laporan yang terlihat publik. Semua dilakukan diam-diam. “Bagaimana?” tanya Arvin. Pria itu membuka tablet kecil. “Kami sudah menempatkan dua orang di sekitar rumah Bapak. Satu di

