Cici yang sejak tadi pura-pura sibuk merapikan struk di dekat kasir akhirnya berdehem keras, sengaja menarik perhatian. “Ehem… ehem,” katanya dengan nada menggoda. “Mbak Zahra bisa pulang sekarang, kok. Urusan kafe serahin padaku.” Zahra menoleh cepat, wajahnya langsung memerah. “Cici!” Arvin terkekeh pelan, jelas menikmati situasi itu. Zahra menyilangkan tangan di da-da, memasang ekspresi pura-pura tersinggung. “Jadi aku diusir dari kafe milikku sendiri, nih?” Cici mengangkat kedua telapak tangannya, berpura-pura defensif. “Bukan diusir, Mbak. Diamankan. Demi kesehatan ibu dan calon bayi.” “Dan demi Pak suami yang kelihatan nggak sabaran,” tambah Cici sambil melirik Arvin. Sejak mereka menikah, Arvin lebih sering datang ke kafe, dan para karyawan Zahra pun menjadi akrab. Terlebih

