Halaman dua

1011 Kata
Two "Kau sudah sampai? Bagaimana di sana? Apa ada kendala? Sudah Ibu katakan, kenapa juga kau mau pindah rumah dan tinggal sendirian. Kau masih sekolah, kau tentu masih butuh dukungan orang tua dan pengawasan orang dewasa. Kau tahu itu, 'kan?" Seorang gadis manis yang tingginya tidak lebih dari seratus lima puluh satu senti, dengan rambut pendek yang hanya mencapai leher putihnya; berwarna cokelat gelap yang senada dengan warna bola mata miliknya tampak tengah berjalan di pinggiran kota Paris dengan menggeret koper yang tingginya hampir mencapai pinggang Si gadis. Rosalynd Monche, gadis yang masih duduk di bangku sekolah dan memutuskan untuk tinggal sendirian itu benar-benar tengah menikmati pemandangan kota dengan dirinya sendiri. Ibunya; Meghann Monche tidak pernah menyetujui rencana Olyn untuk berpisah rumah dan tinggal sendirian. Namun, Olyn merasa jika keputusannya sudah sangat tepat, baik untuk dirinya sendiri atau pun untuk Ibunya sendiri. Ibunya, sudah menikah lagi lima tahun setelah kematian Sang ayah, bukan Olyn tidak menyukai kehadiran Sang ayah baru atau ayah baru yang baru hadir di kehidupannya adalah sosok pria yang jahat. Hanya saja, Olyn merasa membiarkan Ibu dan ayah barunya memiliki kesempatan berdua adalah hal yang benar untuk dilakukan. Olyn tentu merasa bahagia jika ibunya bahagia, terutama peran ayah barunya adalah sosok pria bertanggung jawan dan memiliki pemasukan yang lumayan untuk menopang kehidupan dirinya dan juga Meghann. Mengingat selama ini, Meghann lah yang terus bekerja keras memenuhi kebutuhan Olyn, mulai dari sekolah hingga makan sehari-hari. Meghann adalah sosok wanita yang kuat dan tangguh, ia tidak pernah satu kali pun mengeluh atau berkata jika ia lelah di hadapan orang lain. Namun, tentu saja Olyn tahu jika ibunya, yang bahkan hampir tidak pernah mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan hanya memikirkan Olyn berhak mendapatkan istirahat dan perlakukan yang luar biasa spesial. Olyn merasa datangnya soson Ayah baru ke dalam kehidupan mereka adalah keajaiban kecil dan hadiah yang mendebarkan yang Tuhan kirimkan untuk mereka. Olyn selalu bersyukur pada Tuhan atas kesehatan dan kesederhanaan yang Tuhan berikan padanya, begitu juga dengan semua rasa bahagia yang mereka lewati meski hanya berdua saja. Dan Olyn juga merasa jika keputusannya untuk tinggal sendirian saat ini adalah hadiah tambahan darinya untuk Meghann dan Ayah barunya. Olyn tertawa kecil menanggapi kata-kata Ibunya, sepasang mata gadis itu masih sibuk menatap ke sana dan kemari seolah hal-hal yang ada di sekitarnya adalah hal yang sangat menarik untuk ia perhatikan. "Iya, Bu. Olyn tahu, Olyn tahu kalau anak yang masih sekolah masih butuh pengawasan orang tua atau orang dewasa sebagai wali, tapi Olyn ingin coba tinggal sendirian. Olyn melihat di majalah-majalah remaja wanita, kalau tinggal sendirian itu adalah trend yang harus dicoba di masa muda! Hehe. Olyn janji, akan terus hati-hati, dan lagi Olyn sudah memilih tempat tinggal yang dekat dengan sekolah, 'kan? Ibu tidak perlu khawatir lagi." Suara manisnya terdengar berbisik, bercampur dengan suara bising mobil yang lalu-lalang. "Dasar anak ini, sungguh tidak bisa diberitahu. Menyebalkan sekali, padahal kau masih berusia enam belas tahun, Ibu bahkan berencana untuk mengajakmu liburan ke pantai bulan depan. Kebetulan Mikael ambil cuti, jadi Ibu pikir hal itu akan jadi keputusan yang tepat. Mikael juga terlihat sangat menunggu hal ini, dia senang sekali saat Ibu berkata padanya kalau akan mengajakmu liburan. Kau sungguh tidak mau memikirkannya kembali? Olyn, coba pikirkan lagi, bagaimana kalau kau tinggal di sana selama satu atau dua bulan saja?" Olyn tersenyum, kakinya berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual ragam minuman. "Tidak mau! Haha. Ibu, aku akan baik-baik saja, kalau nanti aku kangen rumah aku akan pulang dan segera menemui Ibu! Aku janji, aku tidak akan bohong! Dan lagi, masalah liburan, Ibu dan Mikael bisa pergi berdua. Kalian bahkan tidak pernah liburan berdua, bukan? Setelah menikah, Ibu juga sibuk mengurus sekolahku, barang-barangku dan kita sibuk pindah rumah. Aku jadi kasihan dengan Mikael yang tidak Ibu urus, haha, kalau dia sampai menangis bagaimana? Ibu harus menjaga Mikael dengan baik, Ibu dan aku tahu kalau Mikael itu punya sifat yang lembut seperti anak-anak. Aku tidak mau saat aku datang berkunjung nanti, Mikael mengadukan sifat kejam Ibu padanya. Sebagai seorang putri yang baik hati, aku tidak akan biarkan hal itu terjadi." Olyn bersungut pelan, sementara matanya sudah sibuk memilih-milih jenis minuman yang akan ia pesan. "Paman, bolehkah aku mencoba satu gelas Lemon Grassnya? Dengan tambahan banyak gula? Karena aku tidak tahan asam, tapi terlihat enak sekali, hehe." "Tentu! Mohon tunggu sebentar, Nona kecil! Apa kau datang sendirian ke Paris? Nona kecil, di mana orang tuamu? Bahaya sekali bagimu untuk berjalan sendirian. Jangan katakan kalau kau kabur dari rumah diam-diam, hm?" Olyn tertawa pahit. Ini bukan kali pertamanya ia dianggap anak-anak meski usianya sudah mencapai kata remaja. Banyak orang yang mengira Olyn masih berada di sekolah dasar hanya karena tinggi badannya yang benar-benar berbeda, di kelas pun, Olyn mendapatkan peringkat gadis paling pendek seantero sekolah dan selalu menjadi bahan ejekkan teman-temannya. Meski Olyn tahu jika teman-temannya bukan orang jahat dan melakukan hal itu hanya untuk menggoda Olyn, tetap saja mendengar perkataan seperti itu terasa sangat menyebalkan. "Haha. Paman, aku ini sudah enam belas tahun sebenarnya. Jadi, aku bukan anak-anak. Tolong, jangan salah paham." "Wah! Anak-anak sekarang sudah pandai berbohong rupanya! Haha. Lucu sekali! Omong-omong, kau yakin ingin pesan Lemon Grass? Kau tidak mau tukar jadi Buble Tea? Paman bisa tambahkan s**u dan keju yang banyak tanpa harus ada biaya tambahan karena kau adalah anak yang manis dan berani." "Paman, ayolah!" Kling- Suara lonceng terdengar pelan, tanda tamu lainnya masuk ke dalam kedai mungil bernuansa warna pastel tersebut. Seorang pria jangkung dengan wajah rupawan dan tidak ramahnya berjalan masuk ke dalam dengan langkah yang besar. "Oh, Denette! Kebetulan kau ada di sini, Denette, anak ini sepertinya berpisah dari orang tuanya. Coba kau bawa dia ke kantor polisi yang ada di depan pertigaan." "Paman aku sudah bilang aku bukan anak-anak." "Tidak ada anak-anak yang mengaku anak-anak. Lagi pula, untuk apa anak kecil sepertimu membawa koper sebesar ini? Tidak diberikan hadiah natal oleh orang tuamu?" Olyn menoleh ke arah pria bertubuh jangkung di sebelahnya, Olyn bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sudah cukup sibuk dengan paman pemilik kedai dan sekarang pria menyebalkan ini dikirimkan Tuhan untuk menguji kesabarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN