3

1469 Kata
Pintu ruangan Karisma terbuka. Laki-laki itu tengah berdiri dan berjalan mendekati meja Fatimah. “Sudah sampai mana?” “Em,, baru mencoba menyusun data di computer.” Karisma mengangguk, “Good, besok datang lah ke kantor, seperti karyawan pada umumnya. Kamu saya terima.” Fatimah membelalak kaget, “Apa?” “Saya tidak suka mengulangi ucapan. Jadwal masuk kantor adalah pukul delapan. Jangan sampai terlambat. Sekarang kamu boleh pulang.” Fatimah mengangguk kaku, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum indah membuat karisma terpaku sesaat sebelum akhirnya ia kembali memasuki ruangan. “Alhamdulillah.” Fatimah dengan cepat membereskan mejanya kemudian berjalan menuju lift dan pulang kerumah untuk bertemu ibu, memberikan kabar bahagia ini.   ⚫⚫⚫   “Assalamualaikum.” Fatma yang berada di dapur terlonjak kaget. “Fatimah?” “Ibu.. ibu tahu…” “Apa yang ibu tahu? Kamu belum bicara apa-apa.” “Oke, dengar Fatimah ya bu. Fatimah bisa kerja di perusahaan itu.” “Kamu serius?” Fatimah mengangguk, “dan besok Fatimah bakalan langsung kerja. Ya Allah, gak nyangka bu.” “Alhamdulillah, semoga betah ya nak.” Fatimah mengangguk, “Bagian apa kamu bekerja?” “Sekretaris.” “Sekretaris dengan tamatan SMA?” “Fatimah juga gak tahu bu, tapi alhamdulillah keterima.” “Bagaimana dengan atasanmu?” “Atasan ku, gimana ya cara nya jelasin. Dia tampan. Pemilik perusahaan itu. Tapi dia tegas eh enggak baik. Aduh, bagaimana menjelaskannya. Pokoknya seperti itu.” Fatma tersenyum, “Sudah mengerti mana yang tampan dan tidak ternyata.”kemudian mencubut pipi Fatimah. “Ih ibu, yang bilang aku gak ngerti siapa? Tapi bener kok, atasan Fatimah seperti itu.” “Baiklah, cukup. Kamu bersihkan diri dulu setelahnya kita makan ya.” “Siap.”   ⚫⚫⚫   TOK TOK! Pintu rumah kontrakan Fatimah diketuk, mereka tampak bingung siapa gerangan yang datang di malam hari kerumah mereka. Kecuali…. “Iya?” “Kapan kalian akan membayar kontrakan?” Ini adalah orang yang menjadi pemilik kontakan yang mereka sewa. Dua hari yang lalu, rumah kami sudah harusnya membayar kontrakan, tetapi karna kami belum memiliki uang, jadi belum bisa membayar. “Maaf bu, bisa beri kami waktu satu bulan? Saya baru saja dapat kerjaan.” “Gak bisa, dua hari yang lalu sudah jatuh tempo, tapi saya tunggu sampai sekarang belum ada.” “Iya bu, saya tahu. Tapi…” “Siapa nak?” tanya Fatma, “Eh bu Lastri.” “Kapan akan membayar kontrakan?” “Bu, saya sudah katakan, beri saya waktu satu bulan lagi.” “Kelamaan, dua minggu, saya tunggu. Jika tidak ada maka kalian boleh angkat kaki.” Setelah mengatakan itu, ibu kontrakan langsung pergi membuat Fatimah menghela nafas. “Kita bisa jual kalung…” “Enggak, itu pemberian ayah bu. Jangan dijual, Cuma itu satu-satu nya kenangan yang ada.” “Tapi kita harus bayar kontrakan.” “Enggak, ibu simpan kalung itu, Fatimah coba pinjam ke kantor atau teman Fatimah.” “Tapi..” “Bu, Fatimah mohon.” Akhirnya Fatma mengangguk. Mereka masuk kedalam rumah dan melanjutkan makan malam mereka.   ⚫⚫⚫   Karisma melangkahkan kakinya pada rumah bersar milik keluarganya. Tadi siang sang mama menelfon dan menyuruhnya untuk datang ke ruamh. Disini lah ia. “Selamat datang tuan Karisma.” Karisma hanya tersenyum membalas salam dari maid. “Dimana yang lain?” “Sudah ada di meja makan tuan. Mereka sudah menunggu dari tadi.” Karisma langsung berjalan menuju meja makan. Sesampainya disana ia mendapati seluruh keluarga nya. Termasuk sang adik yang tinggal di Australia. “Ada apa ini?” “Duduk nak.”ujar Burhan-papa Karisma. Karisma menurut, ia mengambil tempat duduk disamping adiknya Shyla. “Kapan kamu pulang?” “Tadi siang.” Setelah nya Karisma tidak bertanya lagi, ia menatap mama dan papa nya bergantian. “Ada apa ini?” “Sudah lama kamu tidak mengunjungi rumah ini. Susah sekali sepertinya.” “Tidak begitu ma, aku hanya banyak pekerjaan.” “Dari dulu kamu selalu mengatakan itu.” Karisma hanya menghela nafas. “Maafkan aku.” “Sudah tidak apa. kita hanya berkumpul, adik mu bahkan pulang hanya karna ingin bertemu dengan mu.” Karisma hanya mengangguk, kemudian para maid menghidangkan makanan pada mereka. “Bagaimana kabarmu?” “Aku baik.” “Perusahaan?” “Baik juga.” “Abang gak mau tanya bagaimana keadaan ku?” “Bagaimana keadan mu?” “Baik.” “Kuliah mu?” “Baik juga.” “Bagaimana dengan hubungan mu bersama Kinanti?” “baik-baik saja, hanya saja kamu jarang bertemu. Dia banyak undangan photoshoot.” Burhan mengangguk, “Ya baiklah.”   ⚫⚫⚫   Karisma Adipati, sosok laki-laki yang tampan dan tegas. Pemilik perusahaan yang saat ini ia pegang. Karisma Corp. Perusahaan itu pusat dari seluruh cabang perusahaan yang ia miliki. Laki-laki itu berusia 29 tahun. Ia memiliki kekasih bernama Kinanti. Ia berpacaran saat mereka masih menginjak bangku sekolah menengah atas. Bisa dikatakan cukup lama berpacaran. Sekarang, Kinanti menjadi wanita yang sangat ditunggu kedatangannya. Model terkenal. Banyak bepergian. Bahkan mungkin untuk waktu istirahat saja tidak bisa. Mereka jarang sekali akhir-akhir ini bertemu. Kinanti yang selalu sibuk di luar negeri. Malam ini, Karisma terpaksa menginap dirumah orang tuanya. Ia memiliki apartement sendiri yang letak nya tidak jauh dari perusahaan. Karisma mendial nomor seseorang. "Ambilkan pakaian saya, dan antar kerumah orang tua saya." Setelahnya, ia membaringkan diri ke atas ranjang kamarnya dulu. Kamar yang tidak terlalu besar yang memang ia sendiri yang meminta. Banyak sekali kenangan yang tersimpan disini. Bahkan tata letak barang-barang nya dulu, tidak berubah sama sekali. Mainan kecil yang memang ia telakkan di lemari kaca tersusun rapi dna bersih. Ia menjamin bahwa maid dirumah ini yang membersihkannya. "Abang...." Karisma menoleh, kemudian ia beranjak saat suara Shyla memanggilnya. "Ya?". "Boleh gak malam ini aja, aku tidur bareng abang. Kangen." "Kamu sudah 19 tahun, masih aja. Ya sudah masuk." Shyla adalah adik perempuan satu-satunya, sekarang tengah melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Australia. Adik yang kini tumbuh dengan cantik walau tetap manja padanya. Adik kecil yang selalu membuatnya tertawa dengan tingkah lucu nya. "Abang belum mandi ya?." Karisma menggeleng, "Kenapa?." "Bau." Shyla menutup hidung dengan dua jari membuat Karisma terkekeh. Shyla hanya bercanda, ia lama sekali tidak berjumpa bahkan bercanda gurau dengan abang nya satu ini. Rasa rindu kian membuncah saat beberapa tahun terakhir. "Shyla bercanda kok." Karisma tahu itu, adiknya tengah merindukan dirinya. Karisma masih berdiri didekat pintu membuatkan Shyla berguling-guling diatas ranjang nya. Ia membiarkan tingkah aneh sang adik. Kemudian Shyla beranjak, "Kangen abang." ujarnya sembari memeluk Karisma. "Abang juga." Karisma membalas pelukan Shyla sembari mencium puncak kepala samg adik.   ⚫⚫⚫   Pagi ini, Karisma sudah siap dengan setelan kerja nya. Ia menuruni tangga menuju meja makan. Disana sudah ada mama dan pala nya serta sang adik. "Selamat pagi." "Pagi." "Sudah mau kekantor?." "Iya." "Baiklah, sebaik nya isi perutmu dulu." ujar Burhan. Karisma mengangguk, ia mengambil tempat duduk disamping sang adik. "Pagi abang." "Pagi." "Pulang jam berapa?." "Kenapa?." Shyla berdecak malas, "Mau jalan sama abang lah. Kapan lagi coba." "Nanti abang lihat jadwal dulu." "Langsung kabari aku ya." Karisma mengangguk. Kemudian para Maid menyiapkan makanan mereka dan melayani segala nya. Karisma telah menghabiskan sarapannya dengan cepat. Kemudian ia berdiri. "Karisma berangkat sekarang." "Baik lah hati-hati." Karisma beranjak mengambil tas kerjanya kemudian berlalu setelah mengucapkan salam. "Anak mu kenapa jadi datar begitu." ujar Shinta—mama Karisma. "Biarkan saja, kan cocok dengan wajahnya yang tampan." Shinta hanya berdecak malas. Ia kemudian melanjutkan makannya. "Semalam kamu tidur dimana Shyla?." tanya Burhan. "Kamar abang, soalnya rindu." Burhan hanya mengangguk saja.   ⚫⚫⚫   Jalanan Jakarta pagi ini tampak leluasa. Padahal jarak antara perusahaan dengan rumah orang tuanya cukup jauh. Hingga memudahkan Karisma untuk cepat datang ke kantor. Walaupun ia pemilik nya. Tapi ia tidak mau memberi contoh yang buruk. Setelah sampai, satpam membukakkan pintu untuk Karisma. "Jangan lakukan itu." Satpam itu menunduk memberi tanda maaf. Setelahnya Karisma berjalan menuju lift para pentinggi perusahaan. Para karyawan yang datang lebih dulu membungkuk memberi tanda hormat Ting! Pjtu lift terbuka, Fatimah langsung berdiri dari mejanya." Selamat pagi Pak." "Pagi." Fatimah mengangguk, kemudian dengan cepat mengambil jadwal kerja Karisma dan mengikuti Karisma kedalam ruangan. "Pak, saya akan memberi tahu jadwal anda hari ini." Karisma memberi tanda pada Fatimah dengan mengangguk sekali. Fatimah yang paham langsung membuka tab nya. "Jadi, untuk hari ini ada jadwal pukul 9 pagi, rapat dengan devisi keuangan. Lalu jam 12 kita akan bertemu dengan pemilik perusahaan JK untuk membahas kerjasama sekaligus makan siang." "Hari ini?." "Iya pak." "JK... Kenapa dia tidak menghubungi saya lebih dulu?." Fatimah menggeleng. "Baiklah, lanjutkan." "Lalu pukul 3 sore ada rapat untuk membangun resort di Surabaya. Lalu malam nya...." "Tolong untuk jadwal malam di tunda dulu, malam ini saya ada urusan penting dan tidak bisa di tinggalkan." Karisma memotong ucapan Fatimah. Fatimah mengangguk, "Baik pak." Setelah nya Fatimah undur diri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN