Seminggu ini Fatimah tampak sangat tidak bersemangat. Daniel dan Ayu tampak bingung ketika makan siang bersama Fatimah, wanita itu hanya mengaduk-aduk makanan tanpa kemakannya. Wajahnya juga tampak pucat, dan juga di bagian matanya tampak lingkaran hitam.
Wanita itu seperti tidak tidur, bibir yang biasanya berwarna pink kini tampak pucat. Matanya juga tampak sayu. Ayu mengkode Daniel dan bertanya ada apa. Tetapi Daniel hanya menghedikkan bahu tidak tahu.
"Fat, kamu baik-baik aja?."
"Iya." wanita itu menunduk sembari menatap makanannya.
"Kalau sakit kamu bisa istirahat kok."
"Enggak, aku baik-baik aja."
Fatimah sengaja berada di luar, ketika sudah pulang kerumah ia akan teringat hal itu dan membuatnya drop seketika. Maka dari itu ia harus berada diluar, menyibukkan diri dengan segala macam.
"Dimakan itu, jangan di aduk-aduk."
"Aku gak selera makan."
Ayu pun terdiam. Begitu juga Daniel.
"Pak, saya mau bicara."
"Apa?."
"Maaf sebelumnya, saya tidak bisa menerima lamaran bapak."
Daniel syok, "Kenapa?."
"Saya... Saya tidak bisa."
Laki-laki itu menghela nafas sembari memejamkan mata. "Tidak apa jika tidak menerima saya. Saya tidak memaksa hati mu untuk jatuh pada saya."
"Terimakasih."
"Semoga, suatu saat kamu menemukan laki-laki yang akan memcintaimu dengan sepenuh hati."
Mata Fatimah berkaca-kaca, akan kah ia bertemu dengan laki-laki yang akna mencintai nya dengan sepenuh hati setelah mengetahui hal ini.
"Aamiin pak. Em.. Aku duluan ya."
Fatimah berlalu dengan berlari kencang, ia tak kuasa menahan air mata yang mengalir kian deras.
⚫⚫⚫
"Jadi bapak..."
"Tidak apa Ayu, saya juga tidak memaksa hatinya."
Ayu tersenyum, "Semoga bapak menemukan seseorang yang bisa terima bapak."
Daniel tampak berpikir, "Bagaimana dengan mu saja?."
"APA?!."
"kenapa, saya serius."
"Gak, aneh bapak sumpah. Saya gak suka nih yang beginian."
"Lah, serius. Saya jujur, untuk apa saya bohong."
"eh pak, dikira kita-kita barang apa? Enak aja."
"Yang anggap kamu barang siapa Ayu? Saya serius."
"Aduh pak, enggak deh males saya yang beginian modelan nya."
"jadi saya harus bagaimana supaya kamu percaya."
"dih, gak perlu."
"kenapa gak perlu? Saya bakalan buktikan bahwa saya serius."
"Pak dengar ya, kita para wanita gak suka modelan yang kayak bapak. Enak aja, setelah ngelamar Fatimah bapak mau lamar saya juga? Emang saya apaan? Saya didik orang tua saya dengan biaya yang banyak... "
"Jadi kamu mau saya kasih berapa."
PLAK! "Kurang ajar emang saya apaan, dibayar begituan."
Setelah mengatakan begitu, Ayu beranjak kemudian meninggalkan Daniel dengan menghentakkan kakinya.
"Lah, saya salah apa sih? Saya kan serius. Dasar, wanita sulit di pahami."
⚫⚫⚫
"Fatimah, siapkan berkas untuk meeting nanti siang."
Fatimah mengangguk.
"Jangan lupa untuk beri tahu OB, mereka harus menyiapkan makanan sebelum para inverstor datang."
Fatimah mengangguk kembali.
Karisma mendongak, "Kamu sakit?."
Fatimah menggeleng.
"Kamu bisu? Gunakan mulut mu."
"Ma-maaf pak."
"Kalau kamu sakit, kamu bisa izin kerja. Saya gak akan memaksa."
"Saya baik-baik aja."
"ya sudah kalau begitu."
Fatimah meninggalkan ruangan Karisma. Laki-laki itu memandangi pintu gang tertutup rapat di mana Fatimah keluar. Ia penasaran dengan wanita itu,ada apa. Kenapa tampak berbeda seminggu ini.
"Biasanya wajahnya tidak sepucat sekarang."
Karisma membuka rekaman cctv yang ada diluar ruangannya. Disana memperlihatkan posisi Fatimah yang tengah memijat dahinya kemudian menelungkupkan kelapanya diatas meja.
"Seperti nya dia memang sakit."
Karisma beranjak kemudian berjalan menuju pintu. Tetapi sebelum itu, ponselnya berdering.
"Ya pa?."
"Kamu pulang sekarang, papa mau bicara. Penting."
Tut!
Panggilan terputus sepihak. Ada hal penting apa yang akan di bicarakan papanya. Karisma kembali mendekati meja nya kemudian mengambil kunci mobil.
"Fatimah, kalau kamu sakit, pulang lah."
"baik pak."
Sesaat, Karisma masih berdiam diri disana, ia memandangi Fatimah yang pura-pura tidak melihat nya.
Setelah nya ia berlalu. Fatimah memandangi lift yang beberapa saat di masuki oleh Karisma.
"Bagaimana jika dia tahu tentang malam itu... Apa dia akan percaya?."
⚫⚫⚫
Karisma sudah sampai dikediaman orang tuanya. Pintu terbuka, seorang maid membukakkan pintu.
"Masuk tuan, bapak dan ibu sudah menunggu di ruang keluarga."
Ia tersenyum kecil, kemudian berjalna menuju ruangan keluarga. Benar disana ada dua orang paruh baya yang, tampak berbeda. Begitu laki-laki itu berada disana. Tiba-tiba suasana menjadi dingin.
"ada apa pa?."
"Apa yang kamu sembunyikan dari kami?."
Karisma mengerutkan dahi, "Apa? Sembunyikan apa maksudnya?."
"Jangan pura-pura tidak tahu Karisma. Katakan apa yang kamu sembunyikan dari kami."
"sumpah pa, aku gak ngerti apa maksud ini."
Burhan berdiri, wajah laki-laki itu tampak marah, "Apa yang sudah kamu lakukan bersama Kinanti."
Setelah mengatakan itu, Kinanti keluar dari tempat persembunyiannya. Karisma mengerutkan dahi kemudian berdiri.
"Apa yang sudah kamu katakan pada orang tua ku, Kinanti."
Kinanti tampak takut, ia berjalan menunduk kemudian berdiri tak jauh dari Burhan.
"APA KINANTI?!."
Kinanti tersingkap, "Aku... Aku mengatakan semuanya."
"mengatakan apa?!."geram Karisma.
"aku hamil."
Rahang Karisma mengeras, matanya memerah disertai nafas yang memburu.
"Hebat sekali kau dalam bersandiwara."
Karisma menggeleng tak percaya. Ia bersidekap d**a. "Apa yang kamu mau? Uang? Berapa, akan aku berikan."
Kinanti menggeleng, "Aku tidak butuh uang. Aku butuh tanggung jawab mu."
"CIH! PERSETANAN DENGAN TANGGUNG JAWAB."
Karisma berjalan mendekati Kinanti. Begitu melewati Burhan. Laki-laki paruh baya itu menahannya. Karisma tak tinggal diam, ia menghempaskan tangan itu kemudian mendekati Kinanti yang tampak takut.
"hebat sekali akting mu. Kinanti. Hebat."
Karisma mencengkram rahang Kinanti dengan keras, "Kau pikir aku bodoh. Kau pikir aku bisa di tipu dengan mulut berbisa mu itu?."
Karisma menghempaskan Kinanti. Kemudian ia berbalik menatap mama dan papanya yang juga tengah menatapnya.
"aku punya bukti untuk membuktikan bahwa aku bukan ayah dari bayi yang dia kandung."
"Bukti apa?." ujar Shinta.
"Aku punya bukti, bahwa dia..." Karisma menunjuk Kinanti, "hamil anak Agum."
"Agum? Agum siapa?."
"rekan kerja ku. Dia sempat melecehkan sekretarisku dan entah bagaimana dia bisa bertemu dengan jalang ini."
"KARISMA." pekik Kinanti.
"Kenapa? Tidak terima? Bukan kah benar? Kau pikir aku juga tidak tahu bahwa kau pernah berhubungan dengan seorang photografer yang terkenal itu."
Kinanti tersingkap." Kau salah besar tuan Karisma Adipati. "
"oh ya? Lalu rekaman sewaktu kau mendesah hebat dan itu terekam dalam ponsel ku Kinanti."
Shinta maupun Burhan sama-sama terkejut, ia tidak menyangka bahwa Kinanti melakukan ini.
Karisma berjalan mendekat Kinanti. "Kau salah dalam memilih lawan, Kinanti." bisik nya di depan wajah Kinanti.
"See, kita lihat. Siapa yang akan menang sekarang. Kau atau aku..."
Laki-laki berjalan kearah sofa kemudian duduk disana.
"Kita lihat, siapa yang akan menang? Karna kau telah membangunkan singa, maka kau harus menjadi santapan nya. Dan kita buat kesepakatan..."
Laki-laki itu menuangkan air minum kedalam gelas. "Jika kau menang, kau bisa menjadi istri ku. Tetapi jika kau kalah..." Karisma mejeda ucapannya, ia meminum air itu. Kemudian meletakkan gelas diatas meja.
"Jika kau kalah, kau harus aku penjarakan seumur hidup hingga kau mati membusuk. Bagaimana? Setuju?."
Kinanti menggeleng tak percaya, "Tidak, aku tidak mau. Aku bersungguh om, tante. Ini anak Karisma."
"Ucapan Karisma benar Kinan, kami tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan mu sebelum ada pembuktian dari mu kalau itu adalah anak Karisma."
Kinanti menatap tajam Karisma yang tampak santai disofa dengan menatap nya meremehkan.
"Akan aku buktikan bahwa ini adalah anak Karisma. Dan kau.." Kinanti menunjuk Karisma. "Akan bertekuk lutut pada ku."
"oh tentu saja nona Kinanti. Kita lihat saja nanti siapa yang akan bertekuk lutut dan memohon ampun untuk di keluarkan dalam penjara."
⚫⚫⚫
"jujur, mama kecewa dengan mu Karisma. Siapa yang mengajari mu untuk merusak anak orang? Mama gak pernah mendidik kamu seperti itu." ujar Shinta.
Karisma hanya bisa menunduk, ia tidak bisa melihat mama nya menangis saat ini. Ia juga salah, ia terllau tergoda dengan Kinanti.
"Mama kecewa sama kamu. Mama... Mama..."
"Ma, maaf kan aku."
Shinta hanya bisa menggeleng. Kemudian wanita itu berlalu kekamar nya meninggalakan Burhan dan Karisma.
"Papa pikir kamu akan menjadi laki-laki yang baik. Tidak seperti ini. Papa kecewa Karisma."
Burhan juga pergi meninggalkan Karisma yang tergugu di sofa. Ia mengecewakan kedua orang tuanya. Ia hanya bisa minta maaf. Dan itu akan lama prosesnya bagi kedua orang tuanya untuk memaafkannya.