16

1280 Kata
Dua minggu kemudian... Kinanti datang dengan pakaian yang tampak cantik. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya. "Maaf bu, pak Karisma sedang ada tamu." "Siapa?." "Rekan kerja." "masih lama?." "tidak sepertinya. Karna sudah dari tadi." "Baiklah." Kinanti duduk di kursi tunggu, sementara Fatimah sesekali melirik wanita itu yang tengah memainkan ponsel nya. "Ya Allah..." CKLEK!. Pintu ruangan Karisma terbuka. Dua orang laki-laki berbeda umur ada disana. "Terima kasih sudah datang pak Husein." "Sama-sama pak Karisma. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda." "Hati-hati dijalan pak." Pak Husein pergi meninggalkan ruangan Karisma. Kinanti langsung berdiri. "Karisma." "Kinanti. Kenapa kamu disini?." ujar Karisma dengan dingin. "Bisa bicara." "Masuk." Pintu tertutup rapat, Fatimah hanya dapat melirik sebentar sebelum akhirnya keduanya menghilang.   ⚫⚫⚫   "kenapa kemari?." "Aku mau bicara." "Apa?." "Aku mau kita menikah segera." Karisma tersenyum sinis. "Menikah? Dengan mu? Wanita yang mendesah hebat dengan seseorang dibelakang pacar nya?." Kinanti tersentak kaget, ia menatap Karisma. "Jaga ucapan mu Karisma." "Kenapa? Apa kamu takut jika terbongkar?." "Maksud kamu apa?." "Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau berhubungan gelap dengan mantan rekan kerja ku, Agum." Karisma berdiri kemudian berjalan menghadap jendela besar, "Jangan berpikir aku tidak tahu Kinanti. Mata-mata ku ada dimana saja. Dan kau tidak bisa membodohi ku dengan rayuan sialan mu itu." "Kau salah paham, aku tidak mengenal..." "Tidak mengenal tetapi mengenal di atas ranjang? Ternyata selama ini aku tertipu dengan mulut manismu itu." "Karisma..." "Apa? Kau tidak mau kalah, Iya? Maaf, tapi aku mau hubungan kita berakhir sampai disini." "Aku tidak mau." "Kenapa? Karna membutuhkan data penting perusahaan ku? Kinanti, jika kau lupa. Aku bisa memenjarakan mu hingga kamu mati dalam penjara berikut dengan selingkuhan mu itu." "Karisma... Aku tidak..." "Keluar." Kinanti menggeleng keras, ia tidak ingin semuanya kacau. "Aku tidak ingin putus. Kau salah paham." "KELUAR KINANTI!." Kinanti berjalan keluar denggan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Fatimah sempat melihat, dan tak ingin ikut campur, jadi ia hanya bisa menunduk seolah tak melihat.   ⚫⚫⚫   Karisma sampai desebuah tempat yang sebelumnya, tidak pernah ia datangi. Dan sekarang, ia berdiri disini untuk menyenangkan dirinya dengan sesuatu yang baru. Siapapun pasti mengenal dirinya, sehingga ia bisa masuk dengan maudah kedalam tempat itu. Suara musik yang memekakkan telinga, terdengar begitu dia masuk. Asap dimana mana, bau menyengat begitu kentara. Sebagian orang tengah menari diatas panggung dengan gerakan tak menentu dan sebagian lagi duduk di kursi yang disediakan dengan wanita yang duuk dipangkuan mereka. Setidak nya sementara saja ia menghilangkan keluh yang bersarang di dirinya. Menghilangkan rasa sakit hati yang datang secara tiba-tiba. Ia memesan minuman alkohol dengan dosis tinggi kemudian meneguknya hingga habis. Rasa panas menjalar dalam tenggorokannya. Ia meminta lagi bahkan satu botol. Meneguknya hingga setengah. dan begitu seterusnya.   ⚫⚫⚫   Akhirnya pekerjaan Fatimah telah selesai. Ia melihat pada jam yang ada diatas meja kantornya. Jam telah menunjukan pukul 8 malam. Ia langsung merapikan berkas-berkas kemudian bersiap untuk pulang. Ia menghentikan taksi yang akan mengantarnya pada rumah sederhana nya. Selama perjalanan ia tidak sengaja melihat gerobak yang menjual seblak. Fatimah ingin memakannya. "Pak berhenti sebentar." Mobil menepi, supir taksi langsung menoleh pada Fatimah. "Ada apa neng?." "Maaf sebelum nya, tapi saya mau beli itu." tunjuk Fatimah. "Gak apa kan pak?. " "Tidak apa kok neng, bapak tunggu disini aja." Fatimah mengangguk, "Sebentar ya pak." Fatimah keluar dari mobil kemudian menyebrangi jalan dan menghampiri gerobak yang menjual seblak. "Pak seblak nya 2 yang satu jangan pedas banget ya." "Sip, neng. Ditunggu dulu ya." Fatimah mengangguk, ia mengambil tempat duduk untuk menunggu, perutnya terasa tidak sabar untuk melahap habis seblak yang terasa mengunggah selera. Tak berapa lama, pesanan nya selesai. Ia pun akhirnya kembali memasuki mobil dan sampai pada rumah nya.   ⚫⚫⚫   Meja makan kini di duduki oleh dua orang. Fatimah dan Fatma. Keduanya tengah memakan seblak yang dibeli oleh Fatimah. "Enak bu?." Fatma mengangguk, "Enak, kamu beli di mana?." "Tadi dekat kantor, gak sengaja lihat, jadi Fatimah beli." Fatma mengangguk dan kembali makan. Ponsel yang ada disampingnya bergetar. Keduanya saling tatap sebelum akhirnya Fatimah menoleh dan terkejut. "Siapa?." "Ini atasan Fatimah bu." "Kok tumben, telfon malam-malam begini?." Fatimah membalas dengan gelengan. Ia ragu untuk mengangkat nya. "Angkat saja." ujar Fatma. Dengan ragu, Fatimah menggeser tombol ke arah atas. "Halo?." "Temui saya sekarang." Panggilan itu langsung terputus, tak lama ada pesan masuk. Ia membuka nya. Sebuah alamat yang ia bahkan tidak tahu dimana. "Ada apa?." Fatimah menggeleng, "Enggak tahu bu, atasan Fatimah tadi bilang kalau Fatimah harus temui dia. Terus dia kirim alamat." "Pergilah, mana tahu itu penting." "Tapi...." "Kenapa?." "Fatimah... Em... Merasa ragu." Fatma diam, ia juga tidak bisa memaksa kehendak anak nya. Keduanya saling diam bergelut dengan pikirna masing-masing. "Fatimah pergi saja bu." Fatma hanya mengangguk. Fatimah akhirnya kembali kekamar dan mengganti pakaiannya. Mengambil dompet dan tas kecil lalu memasukkan ponsel nya. "Fatimah pergi dulu bu. Langsung kunci pintu ya, Fatimah bawa kunci cadangan kok. Ibu langsung tidur, tapi jangan lupa obat nya." Fatma mengangguk sembari terkekeh, "Iya, ibu tahu kok. Hati-hati dijalan ya." "Fatimah pamit. Assalamu'alaikum." "Wa’alaikumsalam."   ⚫⚫⚫   Fatimah telah sampai di alamat yang dikirimkan oleh atasannya. Ia terbelalak kaget. Bahkan sebelum berangkat, Fatimah menyerahkan ponselnya pada supir taksi. Supir itu bahkan kaget menatap nya. Dan bertanya apakah Fatimah yakin akan kesana. Fatimah hanya mengangguk. Ia bertanya ada apa bahkan supur taksi itu hanya menggeleng. Ternyata tempat yang dituju nya adalah sebuah club malam yang bahkan sangat ramai. "Mbak nya yakin mau masuk?." "Saya juga ragu pak. Tapi atasan saya bilang temui dia di alamat yang ini." "Mau bapak temani saja?." "Em.. Sebentar pak, saya coba telfon atasan saya." Supir taksi itu hanya mengangguk. Fatimah mencari nomor atasannya dan mencoba menghubungi. Panggilan pertama tidak diangkat. Fatimah terus mencoba hingga panggilan ketiga panggilan itu tidak dapat terhubung. Ponsel atasannya mati. "Atasan saya tidak mengangkatnya pak." "Jadi mau bagaimana mbak?." Fatimah menghela nafas kemudian mengucapkan bismillah. "Saya masuk sendiri saja pak." Supir itu mengangguk ragu. Fatimah keluar kemudian menghampiri dua penjaga didepan pintu. "Maaf mas, saya kesini mau menemui atasan saya." Kedua penjaga itu saling melirik. "Siapa?." "Pak Karisma Adipati." Fatimah dapat melihat mereka terbelalak kaget. Kemudian dengan buru-buru membuka pintu. "Silahkan masuk. Pak Karisma ada di lantai tiga." "Maaf, naiknya dari mana?." "Mari saya antar." Mereka memasuki tempat club itu membuat Fatimah menutup telinga nya dengan kuat. Suara dentuman musik membuat telinganya terasa seperti tidak berfungsi. Mereka terus menaiki tangga hingga akhirnya berhenti disebuah ruangan yang bertulisan angka 28. "Pak Karisma ada didalam." "Terimakasih." Penjaga itu pergi meninggalkan Fatimah. Wanita itu mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Ia membukanya dengan lebar, ruangan itu gelap, sangat gelap. Fatimah sampai harus menajamkan penglihatan nya. "Pak, saya Fatimah." Tidak ada sahutan. Fatimah ragu akhrinya melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu. "Pak?." Seseorang langsung membekap Fatimah membuat Fatimah terlonjak kaget dan memberontak untuk dilepas. "Lama sekali sayang. Aku merindukan mu." Fatimah tahu suara itu. Itu adalah atasannya. "pak ini saya Fatimah." "Kau cantik sekali sayang." Fatimah terus memberontak, tapi tenaganya tidak sekuat dengan Karisma. Laki-laki itu memutar tubuhnya lalu mencium nya dengan brutal. "Pakh..." "Kau cantik sekali sayang." Karisma mendorong Fatimah hingga keatas ranjang. Mengkungkung Fatimah dengan kedua tangannya kemudian langsung mencium kembali. Tangan Karisma tak tinggal diam, ia membuka pakaian Fatimah dengan paksa. Membuat Fatimah dengan sigap menahan tangan Karisma. "Jangan..." "Sssttt, diam saja dan nikmati." Sreeet! Karisma merobek pakaian Fatimah dengan paksa. Wajah Fatimah telah beruarai air mata. "Aku tidak menyangka bahwa dadamu padat. Bahkan dulu tidak seperti ini." Fatimah menggeleng kemudian menutup dadanya. "Tolong jangan pak." "Kita nikamati surga dunia ini sayang." "AAARGHHH!." Karisma menerobos masuk dengan kuat pada intinya. Fatimah tidak berdaya dibawah kungkungan Karisma. Laki-laki itu memaju mundurkan tubuhnya sembari mendesah, membuat Fatimah merasa jijik dan akhirnya kesadarannya hilang menjadi gelap. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN