10

1246 Kata
Fatima dan Fatma telah sampai disebuah hotel yang ada di Sukabumi. Mereka memesan hotel yang tidak mahal, mengingat uang mereka pas-pasan. Fatma tampak terlihat lelah, Fatimah menyarankan agar wanita itu tidur lebih dulu. Dan Fatma menyetujuinya. Tinggalah Fatimah sendiri, wanita itu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Didalam kamar mandi, entah kenapa air matanya meluruh. Ia rindu ayahnya, rindu kasih sayang yang laki-laki itu berikan. Ingin merasakan dekapan hangan dari seorang ayah. Dan sekarang ia tidak memilikinya lagi. Hanya kepingan kenangan yang masih keringat ketika ia remaja. Bagaimana, dulu ayahnya membelikan sepeda dengan roda empat, mengajarinya menaiki sepeda. Hingga akhirnya dua roda bantuan sepeda dilepas. Kala itu, percobaan pertama kalinya, dan ia hampir saja menabrak pohon, jika tidak dengan cepat, ayahnya menangkap tubuhnya. Hingga sepeda yang menghantam pohon. Disana ia tertawa, menangis, bahkan tertidur dipangkuan ayahnya. Makin lama, makin terisak. Ia rindu Ayahnya.   ⚫⚫⚫   "Kamu tahu kemana Fatimah?." Ayu menggeleng, "Tidak pak, bahkan kami tidak komunikasi." Karisma menghela nafas, baik lah terima kasih." Ayu melihat Karisma dengan tatapan bingung, benarkah yang dibicarakan orang-orang pasal kedekatan mereka. Tapi melihat gelagatnya sekarang, ia bisa menyimpulkan, walaupun belum tentu benar. Karisma berjalan menuju ruangannya, ia berhenti sejenak didepan meja sekretaris nya. Disana ada sebuah bingkai foto kecil yang ia tidak menyadarinya. Ia mengambilnya, seorang gadis kecil dengan laki-laki yang bisa ia perkirakan bahwa itu adalah ayahnya. Tapi tunggu, ada yang menjanggal dari foto ini. Laki-laki itu. Ia merasa tidak asing dengan itu. Dahinya semakin dalam mengkerut mencoba mengingat sesuatu. Ting! Karisma tersentak kaget, mengembalikan foto itu kemudian memutar tubuhnya. Daniel, laki-laki itu berada disana. "Kemana Fatimah?." "Enggak tahu." "Lo, juga. Ngapain ngumumin didepan orang banyak bahwa lo berterimakasih dengan Fatimah? Lo gak mikir apa, mulut netizen itu pedas nya minta ampun." "Gue emang berterimakasih. Karna... Maaf kata, gye sempat antar dia pulang kerumahnya, dan gue disana baru nyadar kalo, pasti banyak karyawan gue yang butuh fasilitas kantor." "Dan seharusnya lo gak bilang di publik. Kenapa gak ngomong berdua aja. Kayak gini?. Makanya otak di pakai."ujar Daniel kesal. " Kok lo maki gue?. " "Abisnya gue kesal sama lo." "ya kesal, kesal aja. Jangan maki gue. Sialan." Setelah mengatakan itu, Karisma berjalan memasuki ruangan nya. "Lah, dia maki gue itu." gumam Daniel.   ⚫⚫⚫   Fatimah dan Fatma telah sampai disebuah makam, mereka berjalan memesuki makam tersebut dengan sebelumnya mengucap salam. Mereka langsung menenmukan makan ayah nya yang tak jauh dari pintu masuk. "Assalamualaikum ayah." Mata keduanya tampak berkaca-kaca. Makam itu tampak ditumbuhi rumput liar, mereka membaca yasin kemudian membersihkan makam itu. "Maaf, ayah. Fatimah kangen ayah, jadi baru bisa kesini." Fatma hanya diam, tampak termenung menatap nisan itu. Kenangan dulu bersama sang suami menguat kembali. Dan kini rasanya lebih sakit. Mengetahui bahwa laki-laki yang dicintai nya telah berpulang lebih dulu. "Nanti, jika ibu sudah tidak ada. Tolong makam kan ibu disini juga." Fatimah langsung menoleh, "Ibu gak boleh ngomong kayak gitu." "ibu hanya mau bersama ayah mu." "Ibu pasti panjang umur. Pasti." Mereka menaburi bunga, kemudian menyiram air dengan perlahan. "Ibu keluar dulu ya." Fatimah mengangguk, sepeninggalan ibunya. Matanya kembali berkaca-kaca. "Ayah tahu gak, Fatimah menyukai atasan Fatimah. Tapi dia sudah memiliki kekasih. Kenapa ayah gak datang lagi dalam mimpi Fatimah? Menemani Fatimah hingga tertidur? Aku rindu itu yah." Angin berhembus seolah menjawab pertanyaan itu. "Ayah apa kabar? Pasti ketemu bidadari yang cantik, seperti yang ayah katakan dulu ya? Fatimah juga mau ketemu pangeran kayak ayah. Fatimah mau pangeran nya pakai kuda putih, terus baju kerajaan yang bagus. Ayah inget kan dulu, waktu kita berbincang sebelum tidur. Dan sekarang Fatimah rindu itu." Menangis dikesendirian. Tidak tertahan, bahkan jika Fatimah ingin berteriak pun ia mau, hanya saja ia menghormati. Menelungkupkan kepalanya diatas lipatan tangan. "Fatimah rindu, ayah datang ke mimpi Fatimah ya, doain ibu sehat dan panjang umur. Maaf belum bisa bikin ayah bahagia."   ⚫⚫⚫   Dua hari sudah Fatimah menghilang, dan kini. Ia kembali ke kantor. Saat memasuki lobby, seluruh mata memandanginya. "Itu cewek yang di ruang rapat gak sih?." "Iya, itu. Gak tahu diri banget gak sih, sudah jelas atasan kita punya pacar. Eh malah nikung." "iya, wajah cantik, tapi hati buruk." Mata Fatimah memeanas, ia menunduk dengan dalam, tangan nya menggenggam erat tas yang ada di pundak kanan nya. "Siapa yang kalian bilang nikung?." Semua mata terbelalak kaget, begitu juga Fatimah. Suara itu berasal dari belakang nya. Dan ia kenal suara itu. Aroma maskulin menguar memasuki penciumannya. Karisma. "SAYA TANYA, SIAPA YANG KALIAN MAKSUD MENIKUNG?!." Suara itu menggema di lobby, semua orang menunduk takut. "Jika yang kalian maksud adalah sekretaris saya. Kalian salah besar. Sekali lagi saya dengar kalian mengunjing sekretaris saya. Akan saya hentikan dengan tidak hormat. PAHAM!." mereka semua mengangguk, Karisma berjalan kemudian berdiri disamping Fatimah. "Pergi ke meja mu, Fatimah." Fatimah hanya bisa mengangguk saja, Karisma terus memperhatikan punggung Fatimah hingga menghilang dibalik lift. "Jangan membuat omongan yang kalian sendiri tidak tahu asal usulnya. Disini tempat bekerja, kalian bisa keluar dari perusahaan jika inginnya bergosip ria."   ⚫⚫⚫   "Bapak gak perlu bantui saya." Karisma yang saat itu hendak berjalan ke ruangannya, terpaksa berhenti.ia menoleh pada meja Fatimah. Wanita itu masih berkutat dengan laptop nya tanpa mau berdiri seperti biasanya. "Maksud kamu." "Jangan pura-pura tidak tahu maksud saya." Karisma tak berniat untuk membalasnya, sehingga ia memasuki ruangnya dengan menutup pintu dengan kecang. Fatimah hanya memejamkan matanya. Entah kenapa hati Fatimah sakit sekali rasanya. Sesak, bernafas pun rasanya tak sanggup. Ia hanya bisa menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Jangan beri saya sebuah harapan, jika tak menginginkan saya."   ⚫⚫⚫   "Hai babe. Siap?." Karisma mengangguk, keduanya memasuki pesawat pribadi Kinanti. Mereka sempat mengindur keberangkatan mereka karna Kinanti memiliki urusan beberapa hari disini. Sehingga, baru sekaranglah mereka akan berangkat. Tiba di dalam, Karisma tampak termenung. Manatap lapangan terbang pesawat. "are you all right?." "Yeah, I'm fine." "baiklah, mau makan?." Karisma menggeleng, "Tidak, nanti saja." Sang pilot memberi tahu bahwa mereka akan segera berangkat, Karisma maupun Kinanti memasang sabuk pengaman. "Kenapa sedari tadi aku melihat mu seperti tidak bersemangat?." "Siapa?. Aku?." "Siapa lagi disini? Hanya kamu dna aku, bukan?." "Tidak, aku baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir." "Bagaimana aku tidak khawatir.." Kinanti menyender pada bahu Karisma. "Kamu terlihat murung, apa ada masalah di kantor?." "Ya, sedikit, tapi sekretaris ku bisa membantu nya." "Bagus kalau begitu. Kenapa kamu malah murung. Sudah jangan di pikirkan, disana kita akan bersenang-senang." Karisma terkekeh, ia mencium puncak kepala Kinanti dengan sayang. "Terimakasih."   ⚫⚫⚫   Fatimah tampak kewalahan mengerjakan beberapa berkas yang ia tinggal selama dua hari, dan ini sudah lewat dari waktu makan siang. Perutnya terasa lapar tapi pekerjaan nya lebih penting. Lift terbuka, tampak Daniel tengah menenteng plastik di tangan kanan nya. "Hai." "Hai pak Daniel, maaf saya masih banyak pekerjaan.." "oh enggak enggak, aku cuma mau kasih ini. Aku lihat kamu gak ada dikantin dan dugaan aku benar." "Apa ini?." "Bom." Fatimah melotot sementara laki-laki itu hanya tertawa, "Aku bercanda. Itu makan siang untukmu. Dimakan." "ya iya dia makan, masa di buang." "ya sudha lanjutkan, jangan lupa di makan. Aku mau balik ke ruangan." "iya pak terimakasih." "oh satu lagi, kalau misalnya kamu lembur, bisa saya temani. Jangan tankut, nanti saya bantu pekerjaan kamu agar cepat selesai." "Gak perlu repot-repot kali pak." "saya bisa lihat kamu tengah kelimpungan dengan pekerjaan kamu." "Baiklah terimakasih pak." Daniel berlalu, wanita itu membuka bungkusan yang diberikan Daniel, dari luar aromanya sudah mengungga selera. Tanpa menunggu lagi, ia singkirkan barang-barang diatas meja kemudian membuka bungkusan itu. Ia tersenyum, "Nikmat sekali ini." Ia memakannya dengan lahap, setelah selesai ia kembali menyibukkan diri pada layar komputer. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN