"Fatimah, tolong buatkan data untuk para karyawan yang disini."
Karisma memberikan tumpukan kertas pada Fatimah. Wanita itu tampak bingung tetapi tetap mengambil nya.
"Itu data karyawan yang membutuhkan fasilitas yang saya berikan."
Fatimah mengangguk, "Baik pak."
"Oh ya, dan satu lagi. Untuk nanti siang tolong kosong kan jadwal saya."
"Kenapa pak?."
"Saya ada urusan diluar."
"Tapi pak, siang nanti. Eh tidak tidak, bapak kosong nanti siang."
Karisma mengangguk sekali, "Bagus, terimakasih."
Sepeninggalan Karisma, wanita itu membuka lembaran-lembaran data kemudian menemukan data dirinya. Ia dan ibu nya akan meninggalkan kontrakan itu dan mendapatkan tempat yang lebih layak.
Fatimah menghela nafas kemudian menyibukkan diri pada komputer didepannya.
⚫⚫⚫
Kinanti tampak tengah memoleskan make up di wajah cantiknya. Siapapun yang melihatnya, mereka akan terpesona. Wanita model yang terkenal ada di indonesia dan siapapun akan menghadangi jalannya. Sekedar untuk meminta foto.
Maka dari itu, ia menyiapkan dua bodyguard untuk menjaganya kemanapun tanpa adanya gangguan yang akan menghambat segala urusannya. Dua bodyguard itu berada didepan kamar hotel nya. Sehingga ia merasa aman sekarang.
Wanita itu membuka lemari, kemudian memilih pakaian apa yang akan dia kenakan. Dan pilihannya jatuh pada pakaian berwarna hitam dengan tali spagetti. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Setelah selesai, ia kembali memanut diri didepan kaca.
"Kamu sangat cantik." ujar nya.
Mengambil tas bermerek mahal kemudian membuka pintu.
"Sekarang say akan ke kantor Karimas Corp, tolong antarkan saya."
Dua bodyguard itu mengangguk, mereka melangkah bersamaan dengan Kinanti. Yang satu berada dibelakang dan satu lagi berada didepan. Sehingga wanita itu berada ditengah-tengah.
⚫⚫⚫
"Berapa hari kamu di sini?."
Kinanti meletakkan sendok nya. "Mungkin tiga atau empat hari."
"Lalu pulang?."
Kinanti mengangguk, "Ya, aku ada jadwal pemotretan di spanyol."
Wajah Karisma tampak murung, Kinanti mencium pipi Karisma dari samping.
"Babe, please. Aku hanya sebentar, atau kamu bisa menyusul. Bagaimana?."
"Tapi pekerjaan ku masih banyak."
"Sesekali tidak masalah, bukan? Kamu butuh refreshing."
Karisma terdiam sesaat, "Nanti akan aku kabari jika aku ikut bersama mu."
"Oke."
Mereka pun akhirnya berbincang ringan.
⚫⚫⚫
"Fat."
Fatimah menoleh. "Pak Daniel."
"Pulang naik apa?."
"Taksi mungkin pak."
"Bareng saya aja mau gak?."
"Gak perlu repot-repot pak."
"Santai saja. Gak apa kok."
"Tapi..."
"Kenapa?."
Fatimah menggeleng, "Enggak."
"Nanti saya tunggu di lobby."
Fatimah hanya mengangguk saja. Mood nya saat ini hancur seketika saat melihat Karisma berjalan bersama Kinanti. Tapi ia bisa apa. Hanya mengagumi dalam diam. Bermimpi menjadi pasangan nya saja tidak pantas. Tapi hatinya sakit.
Tanpa sadar air matanya menggenang di mata indah itu. Ia menelungkupkan wajahnya kemudian terisak. Dengan tangis ia bisa merasa tenang.
Hingga jam menunjukan angka lima sore, laki-laki itu tak kunjung kembali kekantor, dan Fatimah memutuskan untuk pulanh cepat hari ini. Dan membiarkan pekerjaan nya menumpuk, besok ia akan menyelesaikan nya.
⚫⚫⚫
"Kamu lihat Fatimah?."
"Sudah pulang pak."
"Hah? Kapan?."
"Sekitar.. Jam lima sore."
"Tumben sekali. Kamu ada nomor nya?."
Ayu mengangguk, "Ada."
"Saya minta."
Ayu memberikan nomor Fatimah. Daniel dengan segera menghubungi wanita itu. Dering ke dua terangkat.
"Halo, kamu sudah pulang?."
"Sudah pak."
Daniel merasa ada yang berbeda dengan suara Fatimah, "Kamu habis menangis?."
Disebrang sana Fatimah menggeleng, "Enggak, saya cuma flu, gak enak badan."
"Kirim alamat rumah mu, sekarang."
Daniel langsung mematikan panggilan. "Terimakasih Ayu."
"Sama-sama pak."
Daniel bergegas meninggalkan kantor kemudian memasuki mobil dan menjalankannya. Ia harus menjenguk pujaan hati, sekaligus bertemu dengan calon mertua. Selagi ada kesempatan, kenapa tidak dipepet saja.
⚫⚫⚫
Pintu rumah Fatimah diketuk, wanita itu dengan cepat kembali ke kamar kemudian memakai hijabnya. Begitu selesai, ia membuka pintu dan terlonjak kaget.
"Bapak?."
"Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. Bapak ngapain kemari?."
Dahi Daniel mengkerut, "Mata kamu kenapa?."
Fatimah gelagapan. "Enggak, ini cuma habis bangun tidur."
"Bohong, itu mata mu merah. Kamu kenapa?."
"Enggak pak, saya baik-baik saja."
Daniel hanya menghela nafas tidak ingin memaksa nya. "Tidak menyuruhku untuk masuk?."
"Diluar saja enggak apa ya pak?."
Daniel mengangguk, "Iya gak apa."
"Duduk dulu pak, saya buatkan minum sebentar."
"Gak perlu repot-repot Fat, saya gak lama kok."
Fatimah menggeleng, ia tidak mendengarkan ucapan itu, lantas ia masuk kedalam kemudian membuatkan minum.
"Diminum pak, maaf adanya hanya teh dan air putih. Jadi saya buatkan teh saja."
"Tidak perlu repot-repot sebenarnya, saya gak akan lama juga."
"Terimakasih sudah datang pak, sebenarnya saya enggak apa-apa kok."
Daniel mengangguk, "Mana ibu mu?."
"Ada didalam."
"Siapa nak?."
Fatma keluar, ia tersenyum. Daniel langsung berdiri kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"assalamu'alaikum bu, saya Daniel. Atasannya Fatimah."
"terima kasih sudah mau datang malam-malam."
"Enggak apa kok bu."
⚫⚫⚫
"Jadi disini kamu menginap?."
Kinanti mengangguk, "Iya. Duduk dulu."
Karisma mendudukan diri didepan televisi, ia memandang kamar hotel yang yang tampak luas.
"Setelah itu kamu bakalan ninggalin Indonesia. Dan keliling dunia."
"Ya, itu profesi ku."
Keduanya terdiam sama-sama menyesap minuman.
"Sekretaris kamu itu..."
"Kenapa?."
"Dia cantik."
"Lalu?."
"Aku takut kamu berpaling."
"Dan itu takkan pernah terjadi."
Kinanti mengubah duduk nya dengan menyerong, ia menunjukan kelingkingnya.
"Apa?."
"Janji padaku untuk tetap setia."
Karisma tersenyum kemudian mengaitkan kelingkingnya. "Janji."
Kinanti memeluk Karisma dengan erat.
"Badan mu keras sekali."
"Aku selalu menjaga bentuk tubuhku."
"Dan aku menyukai nya."
Karisma mengungkung Kinanti, "Dan kamu takkan pernah bisa lupakan."
⚫⚫⚫
Tidak terasa, Fatimah telah sebulan bekerja di perusahaan itu. Kini, ia bisa mendapatkan gaji pertama nya. Sangat besar baginya. Dengan jerih payahnya bekerja, lembur hingga larut malam. Dan semua membuahkan hasil.
Hari ini Fatimah berencana untuk mengajak ibunya makan di luar, sesekali saja, rasa nya tidak masalah. Esok ia akan membawa ibunya berobat.
"Ibu, malam ini, kita makan di luar ya. Ibu gak perlu masak, nanti sekitar jam lima, Fatimah pulang."
"Kenapa? Kamu ada uang?."
Fatimah mengangguk, "Iya, hari ini Fatimah gajian."
"Gak perlu nak, kita makan dirumah saja."
"Gak apa kok. Terus kita beli stok makanan dirumah."
Fatma tersenyum, "Itu terserah kamu saja."
⚫⚫⚫
Fatimah mengerjakan pekerjaannya dengan semangat, Ayu telah memberitahu bahwa uang sudah masuk kedalam ATM. Sebelumnya, ia belum memiliki bank, Ayu menemani nya untuk membuat, dan sekarang telah selesai bahkan uang sudah masuk.
Ting!
Daniel berjalan dengan tampang cool. "Pulang bareng?."
Fatimah tersenyum tudak enak, "Maaf pak tapi tidak bisa."
"Kenapa?."
"Ada urusan."
Daniel hanya menghela nafas, "Baiklah, saya kembali ke ruangan."
Fatimah merasa tidak enak pada laki-laki itu. Tapi mau bagaimana, ia sudah ada janji.
Telefon kantor berdering, ia mengangkatnya.
"Dengan Fatimah."
"Keruangan saya sekarang."
Fatimah langsung bergegas keeuangan Karisma. Didalam, laki-laki itu tampak tengah menekuni data-data dalam laptopnya.
"Ada apa pak?."
"Fatimah, saya minta kamu untuk meng cancel semua jadwal saja hingga satu minggu kedepan. Besok saya harus berangkat."
Fatimah hanya bisa mengangguk, "Baik pak."
"Oh ya, satu lagi."
Fatimah berhenti, ia menoleh kambali pada Karisma. "Jika ada yang mencari saya, tolong katakan bahwa saya tengah berangkat. Dan tidak tahu kapan pulang."
"Baik pak."
"Terimakasih."
⚫⚫⚫
Fatimah membawa sang ibunda kesebuah tempat makan yang cukup di gemari oleh kalangan banyak orang. Fatimah mendudukan ibunya disalah satu bangku, kemudian ia memesan makanan. Ia memesan paketan ayam goreng lalu minuman.
Setelahnya Fatimah kembali bergabung dengan Fatma.
"Dimakan ya bu."
"Terimakasih nak."
"Sama-sama."
"Semoga rezeki kami lancar."
"Aamiin bu."
Keduanya memakan makanan dengan lahap. Tanpa sengaja mata Fatimah menangkap sosok punggung laki-laki yang ia kenali. Itu Karisma. Dan disampingnya ada seorang perempuan yang tengah menyender. Keduanya menghadap jalanan.
"Kenapa gak di makan?."
Fatimah tersentak kegat, "Iya, ini mau di makan."
"Kamu lihat apa disana?." Fatma menoleh kebelakang.
"Enggak kok, itu ada atasan Fatimah dengan pacarnya."
"Atasan mana? Bukan nya yg kemarin datang?."
"Buka itu bu, itu hanya HRD. Yang disana baru atasan Fatimah."
Diwaktu yang bersamaan, Karisma menoleh, pandangan mereka bertemu satu sama lain. Fatimah tersentak kaget kemudian menunduk sedikit. Memberi tanda menegur.
"Walah, ganteng nya."
Fatimah hanya terkekeh, "Iya, dia juga banyak diincar para karyawan di kantor."
"Termasuk kamu?."
Fatimah gelagapan,"Enggak kok, kata siapa. Ibu ada-ada aja."
"Dari gerak-gerik kamu saja ibu tahu, Nak."
"Ibu, ih sudah jangan di bahas. Fatimah malu."
Fatma terkekeh, kecil kemudian memakan makanan nya kembali.