22. Cikini ke Gondangdia

1319 Kata

Kukira tukang bubur di Cikini, masih naik haji loh Pak. -Dito si otak makan- * “Mumpung besok akhir pekan, kita sepedaan yuk.” Ajak Rafi tiba-tiba pada Erlan dan para bawahan. Jum’at sore ini tumben mereka sudah santai, Erlan tidak lagi merusuhi bawahannya dengan revisi berkali-kali. “Boleh Kak Raf, rute mana?” Renatta menjawab dengan antusias, “sudah lama banget nih gak sepedaan, butuh udara segar dan sinar matahari pagi biar badan bugar.” “Terserah, mau rute mana. Ke mana kita Lan?” tanya Rafi pada Erlan, menyenggol sepupunya yang asik memainkan gawai. Tubuh tegap Erlan seperti biasa bersandar ke kubikel Renatta, dia gunakan tangannya untuk bertumpu dan fokus pada gawai. “Euum, rute mana aja terserah, gue ikut aja. Yang lain gimana, emang pada bisa ikut sepedaan?” jawab Erlan samb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN